Minggu, 03 Juli 2022
04 Dzul Hijjah 1443

Minim Inovasi, Tarif Jadi Mahal

Jumat, 21 Nov 2008 - 10:29 WIB
Penulis : Budi Winoto

INILAH.COM, Jakarta - Sangat mengherankan dari perputaran uang di industri perangkat telekomunikasi yang mencapai Rp 80 triliun lebih, Indonesia hanya jadi penonton. Akibatnya, gembar-gembor tarif murah selular hanyalah bualan operator.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, krisis finansial sekarang merupakan saat tepat untuk memikirkan kembali industri telekomunikasi nasional. Pasalnya selama ini Indonesia masih belum bisa melepas ketergantungan terhadap perangkat telekomunikasi asing.

"Adalah aneh perputaran uang cukup besar di industri ini sekitar Rp 80 triliun lebih, kita hanya jadi penonton. Padahal untuk sarana penunjang di industri telekomunikasi kita bisa lebih berperan," papar Heru Sutadi, di Jakarta, kemarin.

Ia mencontohkan peralatan base transceiver station (BTS) yang masih menggunakan produk-produk impor demikian pula WiMAX. Teknologi ini sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri dengan research and development yang kuat.

Heru menyebutkan ketergantungan pada produk telekomunikasi luar negeri merupakan kesalahan masa lalu, yang kurang peduli dengan inovasi dalam negeri. Padahal Indonesia juga memiliki industri di bidang telekomunikasi yaitu PT Inti.

Yang lebih terasa aneh, produksi dalam negeri hanyalah sekadar memberi label. Merek memang sudah menggunakan dalam negeri, tapi produksinya masih di luar negeri. Industri telekomunikasi Indonesia, jauh tertinggal dari China yang memiliki Huawei dan ZTE yang bereputasi internasional.

"Selain melepas ketergantungan, juga ada manfaat turunan dari pengembangan industri teknologi komunikasi. Jika banyak pabrik produk telekomunikasi jelas akan berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja," paparnya.

Ketergantungan yang sangat besar pada perangkat luar negeri ini, menyebabkan penurunan tarif telekomunikasi menjadi terhambat, terlebih dengan dengan dolar yang melambung.

"Jelas akan mempengaruhi tarif, sebab akan berpengaruh dengan barang-barang yang dibeli. Ini karena mayoritas perangkat telekomunikasi masih impor," tegas Heru.

Wakil Dirut Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, pihaknya sangat diuntungkan dengan pemilihan teknologi CDMA dalam membangun jaringan. Penggunaan teknologi ini bisa menghemat biaya hingga sepertiga dari investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan jaringan komunikasi dengan teknologi GSM.

"Itu sebabnya Esia bisa memberikan tarif yang benar-benar murah, karena biaya investasi CDMA lebih rendah," katanya. Selain investasi yang lebih murah, kelebihan BTS dengan teknologi CDMA adalah jangkauannya lebih luas. Selain itu, dari kecepatan tranfer data, CDMA lebih unggul.

Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro RS pesimistis industri perangkat telekomunikasi Indonesia bisa bangkit. Ia menyebut local content atau pengembangan teknologi telekomunikasi produksi dalam negeri merupakan isu 'usang'.

"Mengapa saya katakan 'usang', karena semua pihak, termasuk pemerintah dan konsumen hanya berhenti pada lip service semata. Omongnya doang berpihak pada industri nasional," papar Mas Wig.

Ia menyebut, pada kenyataannya perusahaan di dalam negeri tidak mampu membuat barang berkualitas dan memberikan layanan purna jual memuaskan. Kondisi ini mendorong pelaku usaha di sektor ini dan masyarakat enggan menggunakan produk dalam negeri.

Mas Wig menilai salah satu resep menghadapi krisis keuangan global adalah meningkatkan produksi dalam negeri. Namun resep ini tidak dapat dilaksanakan. Walhasil, produk dari Nokia-Siemens, Motorola, Sony Ericsson, Huawei, dan ZTE yang akan tetap dibeli.

Indonesia, lanjutnya, masih diuntungkan dengan investasi per pelanggan yang semakin turun. Ini berarti beban yang dikenakan kepada konsumen tidak terlalu besar untuk menutup investasi operator yang sudah keluar.

Namun begitu, turunnya investasi per pelanggan tidak didorong naiknya penggunaan teknologi dari dalam negeri, tapi lebih dipengaruhi faktor luar. Faktor pertama karena teknologi GSM dan CDMA sudah memasuki economic of scale sehingga investasi R&D sudah kembali yang berakibat unit cost sudah turun.

Mas Wig mencontohkan seperti harga USB flash disk. Saat pertama muncul, harga flashdisk kapasitas 256MB masih di atas Rp 800 ribu. Sekarang flash disk kapasitas 1 GB (kapasitas naik 400%), harganya Rp 200 ribu (harga turun 75%).

Faktor kedua karena kompetisi. Masuknya dua perusahaan China seperti Huawei dan ZTE telah mengubah landscape industri perangkat telekomunikasi global. Produsen peralatan telekomunikasi ini mampu menghasilkan perangkat berharga murah, dengan kapasitas dan kualitas yang baik.

"Ketiga, posisi tawar pembeli sudah semakin baik. Setelah sekian tahun beroperasi, operator telah memahami bagaimana merancang, membangun dan mengoperasikan jaringan dan layanan telekomunikasi secara efisien agar menang dalam kompetisi," katanya. [E1]