Minimal 30 Menit Sisihkan Waktu Main Bersama Anak

Minimal 30 Menit Sisihkan Waktu Main Bersama Anak  - inilah.com
istimewa

Memiliki waktu yang singkat dengan anak ketika harus bekerja di rumah karena pandemi, bukan menjadi alasan. Tidak sedikit orangtua bertanya, waktu yang berkualitas bersama anak itu harusnya berapa lama.

Orangtua pada dasarnya ingin selalu bersama buah hatinya. Namun, keadaan tentu tidak selalu memungkinkan. Menjalin kedekatan dengan anak adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan orangtua kepada buah hatinya.

Menurut dr. Mesty Ariotedjo, SpA – seorang ibu yang juga merupakan dokter anak serta founder Tentang Anak, menjelaskan bermain bersama anak dapat meningkatkan kreativitas anak juga mempererat ikatan emosional antara orangtua dan anak.

Baca juga  Kalah Lagi, Barcelona Luluh Lantak di Kandang Benfica

“Setidaknya, orangtua bisa menyisihkan 30 menit bermain dengan satu anak. Jadi, jika punya tiga anak, luangkan waktu satu setengah jam untuk tatap muka dengan anak. Ini adalah waktu yang benar-benar berkualitas,” ujar Mesty saat jumpa media virtual elc main sama anak, Jakarta, Jumat, (10/09/2021).

WHO dan Unicef pun menghimbau orangtua untuk dapat menghabiskan waktu yang berkualitas minimal 30 menit per anak per hari.

Dr. Mesty menjelaskan bermain merupakan aktivitas penting bagi anak. Banyak studi menunjukkan dengan bermain sama anak banyak aspek yang terasah, bermain adalah cara yg paling efektif mengoptimalkan perkembangan anak.

Baca juga  Sudah 65,1 Juta Warga Indonesia Dapatkan Vaksin COVID-19 Lengkap

“Ajak anak bermain dengan menggunakan mainan yang sesuai dengan usia dan minatnya. Ketika anak diberikan mainan yang terlalu mudah, maka anak akan cepat bosan dan bila diberikan mainan yang terlalu susah, anak pun anak mudah stres,” tambahnya.

Dr. Mesty juga mengingatkan bahwa bermain dengan anak bukan hanya menjadi tugas Ibu tetapi juga Ayah.

Studi menunjukkan terdapat 47 persen ayah tidak terlibat pada proses stimulasi apapun, padahal skor perkembangan anak akan lebih tinggi jauh jika sang ayah juga terlibat dari proses stimulasi termasuk bermain.

Tinggalkan Komentar