Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

Minyak Goreng Langka, Gapki Salahkan Kemendag Selalu Berubah-ubah

Minyak Goreng Langka, Gapki Salahkan Pemerintah Selalu Berubah-ubah

Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Toga Sitanggang bilang, kelangkaan minyak goreng dan minimnya pasokan dampak dari berubh-ubahnya kebijakan Kementerian Perdagangan (Kemendag),

Alhasil, cepatnya perubahan aturan membuat pelaku industri dari hulu ke hilir, perlu waktu untuk meresponsnya. “Kami bisa melihat bahwa sebenarnya tidak ada kelangkaan bahan baku. Sebab. Dari total produksi konsumsi dalam CPO negeri baru mencapai 36 persen,” kata Toga, kepada wartawan di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (10/2/2022).

Toga yang sebelumnya berbicara dalam webinar yang digelar PWI Jatim, menegaskan, tuduhan pemilik komoditas minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), menjadikan pasokan minyak goreng minim. Karena lebih suka ekspor, dibantahnya.

Baca juga
Keliling Jawa Timur, Ketua DPR tak Ingin Minyak Goreng dan Kedelai Langka

Menurut data yang ditunjukkan, ekspor CPO tahun 2021 bahkan menurun, dengan total ekspor mencapai 33 juta ton. Padahal, ekspor CPO pada 2020 mencapai 34 juta ton. “Yang menjadi masalah, produsen minyak goreng seperti dia harus mengalami kebingungan setelah pemerintah beberapa kali mengubah kebijakan. Padahal, setiap ada perubahan, pelaku industri butuh waktu beberapa hari untuk menyesuaikan dengan sistem mereka,” katanya.

Toga mencontohkan, saat Kementerian Perdagangan sudah mengumumkan aturan baru sebanyak tiga kali dalam satu bulan, yakni awal diumumkan tanggal 12 Januari 2022. Lalu, 19 Januari 2022. Terakhir, diubah lagi pada di akhir bulan. “Tentu kami sebagai pelaku industri juga tak bingung mengaplikasikan hal tersebut,” katanya.

Baca juga
Pandemi belum Berakhir, OJK Perpanjang Kebijakan Stimulus COVID-19 untuk Lembaga Keuangan Non-Bank

Sedangkan untuk kembali menormalkan arus komoditas, produsen harus berkoordinasi dengan distributor lalu lanjut ke tahap peritel lalu kembali lagi. Sehingga waktu yang dibutuhkan cukup lama sekitar satu minggu.

Meski demikian, dia meminta agar masyarakat tenang, karena faktor terbesar dalam kelangkaan sebenarnya oknum penimbun serta masyarakat yang akhirnya panik.

 

Tinggalkan Komentar