Kamis, 30 Juni 2022
01 1444

Minyak Mentah Dunia Mahal, KESDM Kerek ICP Mei 2022 Jadi US$109,61 per Barel

Jumat, 03 Jun 2022 - 19:33 WIB
Minyak Mentah Dunia Mahal, ICP Mei 2022 Jadi US$109,61 per Barel

Untuk Mei 2022, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengerek harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) jadi US$102,51 per barel. Bulan sebelumnya US$109,61 per barel.

Mengutip laman resmi Kementerian ESDM, Jumat (3/6/2022), kenaikan ICP Mei 2022 ditetapkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 54.K/MG.03/DJM/2022 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Mei 2022. Kenaikan ICP sejalan dengan harga minyak mentah global yang semakin tinggi.

Harga minyak dated Brent naik dari US$104,39 menjadi US$113,62 per barel, WTI (Nymex) naik dari US$101,64 menjadi US$109,26 per barel, Brent (ICE) naik dari US$105,92 menjadi US$111,96 per barel, dan basket OPEC naik dari US$105,64 menjadi US$113,87 per barel.

Baca juga
Harga Minyak Menanjak di Asia, Pasar Kecewa soal Rencana OPEC+

Kementerian ESDM menyatakan, ada beberapa faktor yang memantik kenaikan harga minyak mentah dunia. Pertama, kesepakatan Uni Eropa untuk melakukan embargo impor minyak dari Rusia. Hal ini meningkatkan kekhawatiran pasar dampak terganggunya pasokan minyak mentah global di saat terbatasnya pasokan di tengah peningkatan permintaan BBM dan bahan bakar jet menjelang puncak summer driving season di AS dan Eropa.

Kedua, keterbatasan pasokan minyak mentah global karena produksi OPEC+ lebih rendah 1,5 juta bopd dibandingkan kuota produksi. Ketiga, OPEC+ memproyeksi permintaan minyak mentah dunia naik menjadi 29 juta bopd pada 2022. Angka itu lebih tinggi 800 ribu bopd bila dibandingkan dengan 2021.

Baca juga
Efek Perang Rusia-Ukraina, Anak Buah Sri Mulyani Akui Beratkan APBN 2022

Keempat, IEA memproyeksi permintaan minyak mentah dunia naik rata-rata 1,8 juta bopd menjadi 99,4 juta bopd pada 2022. Kelima, kilang-kilang pengolahan di AS meningkatkan produksi hingga 92,3 persen untuk memenuhi lonjakan permintaan pada 2022. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak Desember 2019.

Keenam, pelemahan nilai tukar dolar AS seiring meredanya kekhawatiran resesi global dan menurunnya ekspektasi investor terkait kenaikan suku bunga acuan AS. [ikh]

Tinggalkan Komentar