Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Aprobi: Minyak Sawit untuk Biodiesel Tak Ganggu Industri Makanan

Sabtu, 26 Nov 2022 - 17:58 WIB
Sawit untuk bahan bakar biodiesel, Jakarta, Sabtu (26/11/2022). (Foto: DW.com).

Penggunaan minyak sawit untuk biodiesel di dalam negeri atau mandatory diesel, tidak mengganggu bahan baku industri pangan.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan mengatakan, banyak pihak yang bertanya soal ketersediaan minyak sawit untuk kebutuhan industri pangan. Ada kekhawatiran mandatori biodiesel mengancam industri pangan. “Di dalam negeri, konsumsi minyak sawit untuk biodiesel tidak mengganggu kebutuhan produk pangan,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (26/11/2022).

Dia menjelaskan, pengembangan biodiesel di Indonesia sudah berjalan semenjak 17 tahun lalu yang ditujukan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian dan lingkungan.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia menjadi negara pertama yang mengimplementasikan mandatori Biodiesel campuran 30 persen atau B30. “Ada tiga tujuan yang ingin dicapai di awal pengembangan biodiesel yaitu ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, dan lingkungan,” ujarnya.

Baca juga
Bisnis Kuliner Minyak Sawit Sehat Terus Berkembang

Terkait hal itu, Paulus saat menjadi pembicara di Paviliun Indonesia dalam COP27, Sharm el Sheikh- Mesir pada pekan kedua November 2022 memaparkan nilai tambah yang diterima masyarakat dari aspek ekonomi dan lingkungan dari penggunaan biodiesel di Indonesia.

Dikatakannya, kapasitas produksi biodiesel Indonesia mencapai 17,14 juta Kiloliter, yang sebagian besar berada di wilayah barat Indonesia. Pada 2021, penggunaan minyak sawit sebagai sumber bahan baku biodiesel sebesar 16,1 persen atau 7,3 juta ton dari total produksi CPO (minyak sawit mentah) dan CPKO (minyak kernel mentah) yang berjumlah 52,096 juta ton.

Selanjutnya pada 2022, konsumsi minyak sawit untuk biodiesel diperkirakan naik menjadi 17 persen dari produksi CPO.

Baca juga
Sempat Turun Tipis, Harga CPO Naik Lagi jadi Rp15.471 per Kilogram

Menurut dia, mandatori biodiesel berkontribusi mengurangi emisi karbon 22,48 juta ton CO2 ekuivalen pada 2020. Kontribusi ini terus meningkat pada 2021 yang mencapai emisi 25,43 juta ton CO2 ekuivalen.

Sementara itu, Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana mengatakan pemerintah bertekad untuk memenuhi target bauran EBT 23 persen pada 2025 dan mencapai emisi nol karbon 2060.

“Kelapa sawit sangat strategis dalam pengembangan energi baru terbarukan dalam upaya memenuhi komitmen NDC 2030. Indonesia telah mempunyai peta jalan dalam pengembangan biofuel, biomass cofiring dan implementasi hijau seperti biogas,” ujarnya.

Baca juga
Permintaan Turun, Harga CPO Makin Anjlok jadi Rp8.443 per Kg

 

Tinggalkan Komentar