Sabtu, 02 Juli 2022
03 Dzul Hijjah 1443

Motif Peretas Jebol Databases Polri Diduga Bentuk Ekspresi Politik dan Protes

Jumat, 19 Nov 2021 - 18:00 WIB
Penulis : Ibnu Naufal

Pakar keamanan siber dari CISSReC Dr Pratama Persadha menduga peretasan meretas basis data milik Polri adalah bentuk hacktivist, sebuah aktivitas peretasan dengan alasan sosial politik. Ia menjelaskan hacktivist tak didasari motif ekonomi. Melalui serangannya, peretas juga ingin mencari reputasi di komunitasnya dan masyarakat.

“Motif nya pengen cari nama di komunitasnya. Dengan alasan Hacktivist. Tapi mungkin nanti kalau data yg diretas memang cukup banyak, bisa jadi akan dijual oleh si peretas,” ungkapnya kepada Inilah.com, Jumat (19/11).

Hacktivist ini, menurut Pratama, ingin menyampaikan pesan politik dengan menyasar situs milik negara atau korporasi besar dengan membubuhkan pernyataan sikap. Hal yang sama pada saat laman BSSN diretas, pelaku menyampaikan pesan aksi ini dilakukan untuk membalas pelaku yang diduga dari Indonesia yang telah meretas website negara Brasil.

Hacker ‘son1x’ yang mengklaim dari Brasil mengaku sudah meretas basis data server Polri. Lewat akun Twitter-nya, sang peretas mengaku sudah membobol tiga server web yang berasal dari polri.go.id. Setelahnya, sang peretas ini membagikan basis data dari situs ini yang berisi informasi pribadi anggota polisi, termasuk para petinggi.

Baca juga
Polri Pastikan Kasus Kekerasan Seksual pada Anak di Luwu Timur Ditangani Sesuai Prosedur

Ketika ditanyai terkait dugaan peretas dari orang dalam, Pratama menepis isu tersebut karena dari rekam jejaknya peretas yang mengaku masih berusia 16 tahun ini sudah banyak meretas situs pemerintah dalam maupun luar negeri.

“Yang diretas bukan cuma Polri, tapi ada BSSN, BPPT, BIG dan lainnya juga. Dan historynya, si sonix ini juga banyak melakukan peretasan di beberapa negara,” ungkap Pratama yang pernah menjadi pelaksana tugas direktur Pengamanan Sinyal Lemsaneg (sekarang BSSN).

Co-Founder Indonesia Cyber Security Forum M Novel Ariyadi pun sepakat, serangan siber yang terjadi pada Polri kali ini merupakan bentuk dari hacktivism. Sang peretas diduga melakukan serangan siber dengan tujuan menyampaikan ekspresi politik dan protes.

”Pelaku serangan siber punya banyak motif. Kalau yang ini, sepertinya motifnya sebagai ungkapan ekspresi politik,” kata Novel.

Jika melihat aksi yang dilakukan oleh peretas, menurut Novel, itu sudah termasuk kategori pelanggaran hukum. Apalagi yang diserang adalah lembaga negara yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban.

”Dampaknya pada kepercayaan masyarakat yang bisa semakin hilang terhadap kemampuan aparat melindungi warganya di ranah online,” ucap Novel.

Baca juga
Polri Siap Proses Laporan Terhadap Natalius Pigai

Seperti diketahui Hacker ‘son1x’ dari Brasil mengaku sudah meretas basis data server Polri. Lewat akun Twitter-nya, sang peretas mengaku sudah membobol tiga server web yang berasal dari polri.go.id. Setelahnya, sang peretas ini membagikan basis data dari situs ini yang berisi informasi pribadi anggota polisi, termasuk para petinggi.

Lewat akun Twitter-nya pula, dia membagikan dua tautan bagi siapa saja yang ingin mengunduh file yang sudah dia bobol. Nama file ini adalah ‘polrileak.txt’ dengan ukuran 10,27 MB dan ‘plri.sql’ juga dengan ukuran yang sama.

Selain itu, peretas yang mengaku sudah memiliki 28 ribu informasi login dari situs polri ini membagikan data berbasis teks di Ghostbin, situs web yang memang diperuntukkan untuk menyimpan sekaligus membagikan data secara daring.

Tidak hanya informasi pribadi, sang peretas dengan akun Twitter @son1x666 ini mengaku sudah memiliki sejumlah informasi rahasia para anggota Polri termasuk tiga orang jenderal yang melakukan pelanggaran. Nomor telepon dan alamat e-mail juga sudah didapatkan. Dia pun nggak ragu membagikan informasi ini secara gratis kepada siapa saja.

“Jangan ragu untuk melakukan apapun yang Anda inginkan dengan informasi ini. Anda bisa mengirim apapun ke rumah mereka. Silahkan gunakan kreativitas Anda. Hahaha,” ungkapnya.

Baca juga
Terungkap, Data Anak KPAI Diretas dan Dijual Seharga Rp70 Ribu

Masih dalam tampilan daftar pelanggaran anggota Polri, hacker tersebut menyampaikan pesan bahwa aksi pembobolan data itu ia lakukan sendirian. “Saya melakukan ini karena saya tidak mendukung pemerintah dan bagaimana mereka memperlakukan rakyatnya sendiri,” katanya.

Hacker mengaku banyak orang Indonesia yang menghubunginya dan menceritakan situasi kehidupannya. Sehingga, hacker tersebut membantu mereka semampunya. “Jadi inilah alasan saya melakukan kebocoran ini,” ujar dia.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri tengah mengusut dugaan peretasan data Polri yang dilakukan peretas tersebut. Perkembangan penyelidikan akan disampaikan nanti.

”Sedang ditangani oleh Dittipidsiber Bareskrim. Nanti kalau sudah ada update-nya diinfokan,” ujar Dedi.

Tinggalkan Komentar