Rabu, 25 Mei 2022
24 Syawal 1443

Mulai Besok, KPPU Panggil 4 Penguasa Bisnis Migor Bergiliran, Siapa Pertama?

Mulai Besok, KPPU Panggil 4 Penguasa Bisnis Migor Bergiliran, Siapa Pertama?

Kalau tak ada arak, KPPU mulai memanggil 4 pemain besar bisnis minyak goreng (migor), Jumat (4/2/2022). Terkait dugaan kartel migor.

“Kita menemukan empat pemain besarnya. Nah, perusahaan-perusahaan tersebut mulai besok oleh KPPU akan dipanggil terkait indikasi kartel,” kata Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Ukay Karyadi dalam acara diskusi publik yang digelar Institut for Development of Economics and Finance (Indef) secara virtual, Kamis.

Ukay memaparkan, alasan adanya indikasi kartel terkait melonjaknya harga minyak goreng beberapa waktu lalu, dengan menyebut terdapat sinyal-sinyal praktik kartel.

Jadi, lanjut Ukay, ketika ada kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO), maka situasi tersebut dijadikan momentum untuk pelaku usaha minyak goreng pada perusahaan besar untuk menaikkan harga. Padahal seharusnya mereka yang pabriknya terintegrasi secara vertikal dengan kebun sawit, mendapat pasokan dari kebunnya sendiri.

Baca juga
MAKI Minta KPPU Selidiki Dugaan Permainan Harga dan Praktik Monopoli di Bisnis PCR

“Di hulunya mereka menguasai, di hilirnya mereka menguasai. Tapi, mereka tetap mengacu pada harga internasional. Hal ini karena mereka yakin, kalaupun harga minyak gorengnya dinaikkan, mereka akan tetap laku di pasaran karena permintaan terhadap minyak goreng ini cenderung elastis,” ujar Ukay.

Menurut Ukay, yang menjadi perhatian KPPU adalah selain pabrik minyak goreng tersebut terintegrasi dengan kebun sawit milik mereka sendiri, perusahaan-perusahaan tersebut juga menaikkan harga jual secara bersamaan.

Padahal, lanjut Ukay, jika terjadi kenaikan di produk minyak goreng PT A (misalnya), maka PT B akan mengambil alih pasar PT A dengan tidak ikut menaikkan harga.

Baca juga
Kasus Monopoli Ekspor Lobster, Umrah Garuda dan Tarif PCR Digarap KPPU

Namun yang terjadi justru para pemain besar minyak goreng tersebut menaikkan harga secara kompak. “Nah, ketika kenaikan ini terjadi, pemerintah sampai harus turun tangan mengintervensi harga dengan kebijakan satu harga di level Rp14.000 per liter dan terbukti tidak efektif. Sehingga merubah lagi kebijakan dengan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO),” ungkap Ukay.

Dengan demikian, Ukay mengatakan bahwa KPPU melihat adanya praktek oligopoli, sehingga intervensi yang dilakukan di hilir dinilai kurang efektif tanpa pembenahan struktur industrinya dari hulu. “Tentunya intervensi pasar di hilir tanpa membenahi struktur industrinya menjadi kurang efektif, karena posisi tahap awalnya ada di perusahaan-perusahaan besar tersebut,” ujar Ukay.

Ukay menyebut, menurut data KPPU ada 74 perusahaan di industri minyak goreng yang tergabung di dua asosiasi, GIMNI dan AIMI. Namun, jika dikerucutkan hanya ada sekitar 30 perusahaan dan ada 4 hingga 5 perusahaan yang menguasai pasar.

Baca juga
Luncurkan SIMBARA, Kemenkeu Klaim untuk Maksimalkan Penerimaan dari Minerba

Tinggalkan Komentar