Kamis, 07 Juli 2022
08 Dzul Hijjah 1443

Nasib Indonesia, Maskapainya Nyungsep, Bandaranya Mangkrak

Minggu, 31 Okt 2021 - 23:56 WIB
Penulis : Ivan Setyadhi
Nasib Indonesia, Maskapainya Nyungsep, Bandaranya Mangkrak - inilah.com
Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga

Bandara Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga menggenapi daftar bandara yang mangkrak usai diresmikan. Sebelumnya, Bandara Kertajati juga kesepian tak ada penumpang hingga mau berubah menjadi bengkel pesawat.

Sepinya bandara JB Soedirman mencuat setelah unggahan dari pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio yang urung mendapatkan tiket perjalanan dari Bandara JB Soedirman.

Agus menilai ada kesalahan pada sisi perencanaan awal serta potensi ekonomi yang belum dibangun sempurna, sehingga mengurangi tingkat penumpang di sana.

“Gubernur dan bupati bilang kalau QG (Citilink) masih ada di Purbalingga, kenyataannya gak ada. Rugi kok disuruh terbang,” kata Agus kepada Inilah.com, Minggu (31/10/2021).

Baca juga
Siasat Pemerintah Hidupkan Bandara Kertajati yang Mati Suri

Agus menilai, ada kesalahan perencanaan  dalam pengembangan bandara JB Soedirman, hal yang mirip yang disoroti  di Bandara Kertajati. Agus berharap, sepinya peminat di Bandara JB Soedirman tak mengikuti nasib dari Bandara Kertajati.

“Kurang lebih (akan seperti Kertajati), kecuali banyak penumpang dan kargo,” tegasnya.

Harusnya kata Agus, pemerintah membangun fasilitas sekitar agar bandara ramai dan penumpang nyaman untuk terbang.”Harus diupayakan manusia yang terbang kesana, misalnya dibangun industri atau perkebunan, supaya jadi ada yang kesitu, menimbulkan pertumbuhan ekonomi disitu,” katanya.

Terkait kajian tersebut, Agus mengatakan pembangunan suatu bandara perlu melalui kajian yang menyeluruh. Misalnya dalam kajian tersebut harus dihitung terkait potensi penumpang yang akan menggunakan fasilitas bandara tersebut.

Baca juga
Proyek Infrastruktur 'Komando Boss', Rizal Ramli Duga Ada Mark Up 50 Persen

“Kan harus dikaji, bangun bandara bukan bangun secara politis, pesawat gak bisa kesitu kalau hanya diperintah regulator, tapi harus ada penumpangnya,” tandasnya.

Selain kabar dua bandara yang kesepian, dunia penerbangan tanah air juga dibuat was-was oleh nasib perusahaan penerbangan Garuda Indonesia yang terseok-seok akibat hutang yang menggunung hingga Rp 70 triliun.

Dengan sulitnya Garuda Indonesia melunasi utang, ancaman penutupan Garuda semakin nyata. Bahkan pemerintah melalui Kementerian BUMN tengah menyiapkan Pelita Air, anak perusahaan Pertamina sebagai pengganti jika Garuda benar-benar tutup.

Tinggalkan Komentar

×