Sabtu, 01 Oktober 2022
05 Rabi'ul Awwal 1444

Neraca Perdagangan RI Surplus, Nilai Ekspor Tembus US$26,50 Miliar

Senin, 18 Apr 2022 - 13:54 WIB
Neraca Perdagangan RI Surplus US$4,53 Miliar, Sektor Nonmigas Mendominasi
Ilustrasi ekspor

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$4,53 miliar pada Maret 2022 dengan nilai ekspor US$26,50 miliar dan impor US$21,97 miliar.

“Kalau dari catatan kami, neraca perdagangan ini mengalami surplus selama 23 bulan secara beruntun,” kata Kepala BPS Margo Yuwono saat konferensi pers di Jakarta, Senin (18/4/2022).

Margo memaparkan bahwa komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar berasal dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja.

“Ketiganya adalah komoditas nonmigas yang memberikan andil terhadap surplus di Maret 2022,” ujar Margo.

Adapun tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu perdagangan dengan AS, India, dan Filipina.

Baca juga
Beruntun dalam 20 Bulan, Neraca Perdagangan RI Surplus US$1,02 Miliar pada Desember 2021

Dengan AS, perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$2 miliar dengan komoditas penyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewan nabati serta alas kaki.

Kemudian, perdagangan RI dengan India juga mengalami surplus sebesar US$1,2 miliar dengan penyumbang surplus terbesar adalah bahan bakar mineral, serta minyak hewan nabati.

Terakhir yakni perdagangan dengan Filipina yang juga surplus US$916,9 juta, di mana komoditas utama penyumbang surplus adalah bahan bakat mineral, serta kendaraan dan bagiannya.

Sebaliknya, perdagangan Indonesia juga mengalami defisit dengan beberapa negara, yaitu Thailand, Australia, dan Argentina.

Dengan Thailand, Indonesia mengalami defisit US$565,6 juta, dengan komoditas utama penyumbang defisit adalah gula dan kembang gula, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya.

Baca juga
Foto: Jumlah Sepeda Motor di Ibu Kota Jakarta Capai 16 Juta Unit

Selain itu, transaksi perdagangan RI dengan Australia juga mengalami defisit US$515 juta dengan komoditas penyumbang defisit yang utama adalah bahan bakar mineral dan serealia.

Kemudian, perdagangan Indonesia dan Argentina juga terjadi defisit US$261,6 juta dengan komoditas serealia.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Maret 2022 masih mengalami surplus US$9,33 miliar. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang periode yang sama pada 2021 yang angkanya surplus US$5,52 miliar dan pada 2020 yang angkanya surplus US$2,54 miliar.

“Angka surplus ini cukup tinggi, mudah-mudahan surplus ini terus meningkat dan bisa memberikan dampak terhadap pemulihan ekonomi di Indonesia,” kata Margo. [ikh]

Tinggalkan Komentar