Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Netizen Sebut Lesti Kejora Alami Stockholm Syndrome, Apa Artinya?

Rabu, 19 Okt 2022 - 04:44 WIB
Stockholm Syndrome
(ilustrasi)

Lesti Kejora telah mencabut laporan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap suaminya, Rizky Billar. Banyak orang mengaitkan apa yang terjadi pada Lesti ini sebagai Stockholm Syndrome. Apa maksudnya?

Lesti Kejora memilih berdamai dengan mencabut laporan KDRT suaminya ke polisi. Keputusan ini membuat banyak kalangan terutama netizen kecewa. Banyak orang yang mengaitkan sikap perempuan 23 tahun ini dengan fenomena Stockholm Syndrome.

Stockholm Syndrome sebenarnya sering dikaitkan dengan respons psikologis dalam kasus penculikan atau penyanderaan. Ini merupakan sebuah fenomena psikologis ketika seorang tawanan mulai mengidentifikasi diri secara dekat dengan para penculiknya, termasuk dengan agenda dan tuntutan mereka.

Nama sindrom ini berasal dari perampokan bank yang gagal di Stockholm, Swedia. Pada Agustus 1973, empat karyawan Sveriges Kreditbank disandera di brankas bank selama enam hari. Selama kebuntuan proses negosiasi, terjali ikatan batin antara tawanan dan penyanderanya.

Seorang sandera, selama panggilan telepon dengan Perdana Menteri Swedia Olof Palme, menyatakan bahwa dia sepenuhnya mempercayai para penculiknya tetapi takut dia akan mati dalam serangan polisi di gedung itu. Setelah para sandera dibebaskan, mereka menolak untuk bersaksi melawan para penculiknya bahkan mulai mengumpulkan uang untuk melakukan pembelaan kepada mereka.

Setelah itu, para psikolog dan pakar kesehatan mental menetapkan istilah Stockholm syndrome untuk kondisi yang terjadi ketika para sandera mengembangkan hubungan emosional atau psikologis dengan orang-orang yang menahannya.

Jauh sebelum kasus Stockholm Syndrome di Swedia, sindrom ini pernah terjadi pada Mary McElroy pada 1933. Seorang perempuan bernama Mary McElroy diculik dan meminta tebusan sebanyak US$30 ribu. Meskipun Mary McElroy tidak menolak para penculiknya untuk diberi hukuman, tetapi dia kemudian bersimpati dan mengunjungi penculiknya yang ditahan di balik jeruji besi.

Contoh paling terkenal dari Stockholm Syndrome melibatkan pewaris surat kabar yang sempat mengalami penculikan, yakni Patricia Hearst, 19 tahun. Pada 1974, sekitar 10 minggu setelah disandera oleh Tentara Pembebasan Symbionese (SLA), Hearst malah membantu para penculiknya merampok Bank California.

Baca juga
Penyidik Siapkan 15 Pertanyaan untuk Penjaga Rumah Rizky Billar dan Lesti Kejora Terkait Kasus KDRT

FBI menangkap Hearst pada 18 September 1975, atau 18 bulan setelah penculikannya. Hearst menerima hukuman penjara 7 tahun. Presiden AS Jimmy Carter kemudian meringankan hukumannya pada tahun 1979, dan dia akhirnya menerima pengampunan.

Sindrom ini juga kembali menjadi perbincangan pada 1985 saat pembajakan pesawat TWA dengan nomor penerbangan 847. Meskipun penumpangnya mengalami cobaan penyanderaan yang berlangsung lebih dari dua minggu, setelah dibebaskan beberapa secara terbuka bersimpati dengan tuntutan penculiknya.

Mengapa Bisa Terjadi?

Meski sudah terkenal, bagaimanapun, Stockholm Syndrome tidak diakui oleh edisi baru Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Buku ini digunakan oleh para ahli kesehatan mental dan spesialis lain sebagai pedoman untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental.

Banyak peneliti, psikolog, dan kriminolog tidak sepenuhnya memahami Stockholm Syndrome, dan beberapa terus memperdebatkan apakah sindrom ini ada. Namun psikolog yang telah mempelajari sindrom ini percaya bahwa ikatan awalnya dibuat ketika seorang penculik mengancam kehidupan tawanan, berunding, dan kemudian memilih untuk tidak membunuh tawanan. Kelegaan tawanan atas penghapusan ancaman kematian diubah menjadi perasaan terima kasih kepada penculik karena telah menyelamatkan nyawanya.

Selain itu, tawanan dan penculik memiliki interaksi tatap muka yang signifikan, yang memberikan peluang untuk terikat satu sama lain. Sandera juga merasa bahwa aparat penegak hukum tidak melakukan pekerjaan mereka dengan cukup baik.

Pada abad ke-21, psikolog telah memperluas pemahaman mereka tentang Stockholm Syndrome dari sandera ke kelompok lain, termasuk korban KDRT, anggota sekte, tawanan perang, pelacur yang dibeli, dan anak-anak yang dilecehkan.

Bagaimana Gejalanya?

Mengutip laman Medicalnewstoday, ada berapa gejala yang timbul ketika korban mengalami Stockholm Syndrome. Misalnya ketika para korbannya merasakan kebaikan atau kasih sayang dari penculik atau pelakunya. Selain itu juga mengalami perasaan positif terhadap individu atau kelompok individu yang menahan mereka atau melecehkan mereka.

Baca juga
Hotma Sitompul Jadi Kuasa Hukum Rizky Billar

Ada pula yang mengadopsi tujuan, pandangan, dan ideologi yang sama dengan para penculik atau pelaku kekerasan. Beberapa korban juga merasa kasihan terhadap para penculik atau pelaku kekerasan. Bahkan ada yang menolak untuk meninggalkan penculiknya, meskipun diberi kesempatan untuk melarikan diri.

Gejala lainnya adalah adalah biasanya para korbannya memiliki persepsi negatif terhadap polisi, keluarga, teman, dan siapa pun yang mungkin mencoba membantu mereka melarikan diri dari situasi itu. Termasuk juga menolak untuk membantu polisi dan otoritas pemerintah dalam menuntut pelaku pelecehan atau penculikan.

Yang unik, setelah dibebaskan, seseorang dengan Stockholm Syndrome mungkin terus memiliki perasaan positif terhadap penculiknya. Namun, mereka mungkin juga mengalami kilas balik, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Termasuk KDRT dan Pelecehan Seksual

Stockholm syndrome umumnya dikaitkan dengan situasi penyanderaan atau penculikan. Namun sebenarnya, mengutip Healthline, dapat berlaku untuk beberapa keadaan dan hubungan lain. Stockholm Syndrome dapat bermanifestasi dalam beberapa cara seperti hubungan yang kasar termasuk KDRT. Penelitian telah menunjukkan bahwa individu yang dilecehkan dapat mengembangkan keterikatan emosional dengan pelakunya.

Pelecehan seksual, fisik, dan emosional, serta inses, dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, seseorang dapat mengembangkan perasaan positif atau simpati untuk orang yang menyalahgunakannya.
Kasus lainnya adalah pelecehan anak. Pelaku sering mengancam korbannya dengan menyakiti, bahkan menyebabkan kematian. Korban mungkin mencoba untuk tidak membuat marah pelaku dengan menjadi patuh.

Pelaku juga dapat menunjukkan kebaikan yang dapat dianggap sebagai perasaan yang tulus. Ini lebih lanjut dapat membingungkan anak dan menyebabkan mereka tidak memahami sifat negatif dari hubungan tersebut.

Baca juga
Komnas Perempuan Wanti-wanti Lesti: Kekerasan Bisa Terulang

Bisa juga terjadi pada kasus perdagangan perdagangan seks. Orang-orang yang diperdagangkan seringkali bergantung pada pelakunya untuk kebutuhan, seperti makanan dan air. Ketika pelaku memberikan itu, korban mungkin mulai mengembangkan perasaan positif terhadap pelakunya. Mereka mungkin juga menolak bekerja sama dengan polisi karena takut akan pembalasan atau berpikir bahwa mereka harus melindungi pelaku kekerasan untuk melindungi diri mereka sendiri.

Yang juga mengacu pada sindrom ini adalah dalam olahraga yang ternyata menjadi cara bagi untuk membangun keterampilan dan hubungan. Sayangnya, beberapa dari hubungan itu pada akhirnya mungkin negatif. Teknik pelatihan yang keras bahkan bisa menjadi kasar.

Atlet mungkin mengatakan pada diri sendiri bahwa perilaku pelatih mereka adalah untuk kebaikan mereka sendiri, dan ini, menurut sebuah studi 2018, pada akhirnya dapat menjadi bentuk Stockholm Syndrome.

Jika yakin Anda atau seseorang yang dikenal telah mengembangkan Stockholm Syndrome, segeralah mencari bantuan. Dalam jangka pendek, konseling atau perawatan psikologis untuk gangguan stres pasca-trauma dapat membantu meringankan masalah langsung yang terkait dengan pemulihan, seperti kecemasan dan depresi. Sementara psikoterapi jangka panjang dapat lebih membantu memberikan pemulihan.

Psikolog dan psikoterapis juga dapat mengajari mekanisme koping yang sehat dengan alat respons untuk membantu memahami apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana Anda dapat segera pulih. Tentunya dengan membangun kembali emosi positif yang dapat membantu memahami apa yang terjadi bukan salahnya.

Tinggalkan Komentar