https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

artikel   09 August 2021 - 08:24 wib

Usung Jurnalisme Solusi, Inilahcom Tak Cuma Berita

Senin, 2 Maret 2020 nama Indonesia mulai masuk dalam lingkaran negara yang terjangkit corona. Virus asal Wuhan itu, perdana menimpa dua orang, tepatnya di kota Depok, Jawa Barat.

Semenjak virus itu menjalar, semua aspek kehidupan masyarakat di Republik ini bertahap mulai terdampak. Dari gaya hidup, hingga cara menjalani kehidupan berubah drastis. Seakan dengan mudah membalik kedua telapak tangan.

Biasanya cukup abai masalah kebersihan dan kesehatan, mendadak rajin mencuci tangan. Flu sering dianggap biasa, mendadak berubah diselimuti kekhawatiran akibat Covid-19, mengingat infeksi yang menyerang sistem pernapasan ini memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa.

Semua berubah. Banyak tak menyangka bakal seperti ini, serba kebingungan. Otak terus dipaksa mencari cara ataupun celah, entah bagaimana membangkitkan roda perekonomian keluarga karena babak belur digilas keganasan Covid-19. Bila mentok hanya berpasrah ibarat 'hidup enggan mati tak mau'.

Kondisi perekonomian di negeri ini sedang oleng. Pelaku usaha, pekerja, petani, pedagang, dan profesi lainnya terguncang akibat virus mematikan itu.

Di tengah pelik persoalan Covid-19 yang tidak menentu, masih saja ada oknum politikus mengisi ruang pergerakannya untuk memuaskan kepentingan sendiri dan golongannya. Mulai melupakan siapa sebenarnya mereka dan apa tujuannya sebenarnya memimpin.

Ironisnya saat banyak masyarakat butuh uluran tangan, duit bantuan Covid-19 malah digasak pejabat negara. Sebut saja eks Menteri Sosial, Juliari Batubara. Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, mendakwa Juliari menerima uang fee dana bansos Covid-19 di wilayah Jabodetabek pada 2020 lalu sebesar Rp 32,48 miliar.

Adapula pejabat eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo diduga menggunakan uang dari hasil korupsi untuk keperluan modifikasi mobil. Bahkan KPK menyebut Edhy dan istrinya, juga menggunakan uang hasil korupsi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Sungguh memilukan benar-benar tega, karena kasus ini dilakukan saat rakyat sedang berjuang keras untuk bertahan hidup dalam lingkaran pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 jangan dijadikan sebagai alat berburu rente dengan cara memanfaatkan krisis kesehatan. Ini persoalan kemanusiaan, seharusnya dijadikan ladang amal kepada yang membutuhkan, karena lebih baik memberi daripada menerima.

Polarisasi politik membangun kekuatan pro dan kontra baik sebelum maupun pascapesta demokrasi masih saja menguat.

Dipertontonkan dalam berbagai drama politik yang terus bergulir hingga saat ini. Tuding menuding ada keterlibatan aktor politik yang sengaja berniat menjatuhkan citra pemerintahan masih saja terjadi. Kebijakan pemerintah pun tak luput dari pro dan kontra.

Vaksin gaduh, obat Covid-19 gaduh, rencana demo gaduh, sumbangan Rp2 triliun gaduh, PPKM gaduh, cat pesawat gaduh dll. Intinya sedikit-sedikit gaduh. Rakyat tambah bingung.

Saat ini rakyat butuh jaminan. Ingin tetap makan, meski aktivitas di luar rumah harus dikurangi atau dihentikan sementara. Intinya butuh solusi bukan janji, apalagi nyinyir.

Politisi diharapkan bersikap sebagai negarawan, memberi edukasi politik yang baik dan benar. Apa lagi jika menyentuh persoalan sensitif, perannya sangat penting untuk menyejukkan suasana.

Kritik kepada pemerintah di tengah pandemi Covid-19, kerap tak menghasilkan respon efektif mengatasi timbulnya tantangan seperti saat ini. Kendati demikian, kritik meski terus mengaliri ruang demokrasi. Sebagai alarm mengontrol sikap dan perilaku pejabat di Indonesia.

Perkembangan zaman dan teknologi mengubah cara orang berpendapat. Banyak orang berbicara segala hal termasuk protes kepada pemerintah lewat media sosial. Seakan menggeser peran media konvensional. Tak hanya berita positif yang disiarkan. Berita bohong atau informasi negatif lainnya juga memenuhi beranda medsos.

Padahal, media konvensional sangat berperan penting dalam mentransformasi berbagai hal termasuk politik, membentuk pemahaman masyarakat hingga perilaku politiknya dan kredibel.

Politik yang semakin meningkat menunjukkan bahwa asumsi kekuatan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya masih dianggap sebagai hal yang real. Pengaruh media massa terasa lebih kuat lagi pada masyarakat modern, karena orang memperoleh banyak informasi tentang dunia dari media massa.

Media berperan penting menulis hingga tuntas permasalahan yang diangkat. Mengakomodir segala bentuk persoalan di Nusantara. Lalu, dituangkan ke ruang publik untuk menemukan jalan keluar yang cepat, tepat, dan benar. Itu lah solusi. Dalam hal ini, Portal Media INILAH.COM memiliki kemampuan yang mumpuni dan akan mengerjakan itu.

INILAH.COM kembali tumbuh untuk menjalari segala sisi ruang demokrasi dengan sangat agresif namun tetap dalam kerangka Jurnalisme Solusi.

Dalam koridor itu, INILAH.COM bakal memproduksi konten informasi atau berita yang kredibel serta layak dikonsumsi. Membangun gagasan yang melibatkan unsur masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang dituju dan tercapailah solusi bagi masyarakat itu sendiri. Tetap mendahulukan kualitas ketimbang kuantitas. Dikerjakan dengan disiplin verifikasi yang ketat, serta kepatuhan pada kode etik.

Ibarat wangi bunga menyebar hanya mengikuti arah angin saja. Tetapi, solusi bagi seseorang bakal menyebar ke semua arah bahkan menembus ruang relung bersekat. Sekali lagi INILAH.COM bakal hadir dan siap merealisasikan solusi bagi persoalan aktual dari yang dikerjakan dengan baik, tepat, dan benar.

INILAH.COM Reborn, tagline TITIK TENGAH.TITIK CERAH, konsep Jurnalisme Solusi bakal launching 17 Agustus 2021 atau tepatnya pada HUT RI ke-76.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Empati

Potret Nenek Fatwa, 20 Tahun Berjuang Lawan Kanker Tenggorokan

Jika dilihat pada data, kanker tenggorokan banyak dialami para pria. Persentasenya sekitar 70 per