https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   06 September 2021 - 13:46 wib

Belajar Daring Saat Pandemi Pengaruhi Penglihatan Anak-Anak

Sejumlah ilmuwan di Hong Hong mengklaim bahwa miopia, atau dikenal juga sebagai rabun jauh, mengalami peningkatan di kalangan anak-anak sejak awal pandemi. Adapun penyebabnya adalah penutupan sekolah dan belajar daring yang meningkatkan waktu yang dihabiskan anak-anak di depan layar komputer atau ponsel, serta lockdown yang memangkas aktivitas mereka di luar ruang.

Seperti halnya banyak anak lain di Hong Kong, Nicole Leung (8 tahun), terpaksa tinggal di rumah dan belajar daring sewaktu sekolahnya ditutup akibat COVID-19. Ia adalah satu dari 709 anak-anak yang turut dalam penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Chinese University of Hong Kong (CUHK).

Para ilmuwan itu melacak penglihatan anak-anak semasa pandemi, bersama-sama dengan 1.000 anak dari penelitian lainnya yang direkrut dan diteliti sebelum pandemi pada tahun 2015.

Menurut penelitian yang diterbitkan di British Journal of Ophthalmology, sejak peraturan terkait COVID-19 diberlakukan, miopia pada anak-anak 2,5 kali lebih besar kemungkinannya memburuk.

Miopia adalah kelainan fokus mata yang membuat sulit untuk melihat objek pada jarak jauh secara jelas.

Tingkat memburuknya kondisi itu diukur dalam unit optik yang disebut diopter. Kondisi ini biasanya dapat diperbaiki dengan kacamata, lensa kontak atau operasi.

Selama restriksi COVID, Nicole tidak diizinkan menonton televisi atau menggunakan ponsel, tetapi penglihatannya masih memburuk. Ibunya, Jessica Chu, merasa prihatin dan mengatakan, "Selama pandemi, semua anak di Hong Kong beralih ke kelas daring. Pertama kali kami membawanya untuk pemeriksaan (sewaktu berusia 6,5 tahun) adalah 4,00 diopter. Kami hanya memesan kacamata, kami tidak memerlukan perawatan lainnya."

Setelah setengah tahun, ketika Nicole diperiksa lagi, terutama ketika kegiatan luar ruang semakin sedikit selama itu, dan hanya mengikuti kelas daring di rumah. Miopianya bertambah 1,5 diopter menjadi 5,00 hingga 6,00 diopter, membuat sang ibu merasa sangat khawatir.

Ketua tim peneliti tersebut adalah Dr Jason Yam dari Fakultas Optalmologi dan Ilmu Visual di CUHK. Ia mengatakan bahwa pihaknya mendapati kenaikan signifikan insiden miopia selama COVID.

"Ini sekitar 2,5 kali lebih tinggi pada masa COVID-19, dibandingkan dengan sebelumnya. Kami juga mendapati peningkatan signifikan dalam perubahan gaya hidup. Nomor satu, penurunan signifikan dalam aktivitas luar ruang. Selama pandemi COVID, anak-anak secara signifikan mengurangi kegiatan di luar ruang dan meningkatkan waktu di depan layar. Jadi ini ada kaitannya dengan peningkatan insiden miopia," ujar dia.

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena anak-anak yang diteliti sebelum dan sesudah terjadi pandemi tidak sama. Selain itu, peneliti mengandalkan orang tua dan anak-anak untuk memberi laporan akurat mengenai lama mereka di depan monitor dan beraktivitas di luar ruangan.

Dr Yam juga memperingatkan untuk tidak menerapkan penelitian ini pada seluruh anak-anak di negara-negara lain dengan mengatakan bahwa penelitian itu tidak dapat diberlakukan umum pada semua orang.

"Tetapi bagi kota-kota yang memiliki perubahan kebiasaan gaya hidup yang mirip pada anak-anak dan mengalami restriksi serupa selama pandemi COVID-19, ini dapat berlaku. Meningkatnya waktu di depan layar monitor dan berkurangnya aktivitas di luar ruang sudah pasti berarti ada peningkatan insiden miopia semasa pandemi ini," jelas Dr Yam.

Sementara COVID-19 telah memunculkan berbagai peluang belajar secara daring, perubahan signifikan dalam gaya hidup ini juga memberi tantangan lebih banyak bagi anak-anak yang perlu belajar secara digital, meningkatkan tekanan terhadap mata mereka.

Selain meningkatnya penggunaan komputer, pengurangan aktivitas luar ruang secara signifikan juga menjadi faktor yang meningkatkan perkembangan miopia. Taman-taman umum dan fasilitas olahraga kerap ditutup selama pandemi ini.

Menurut penelitian, waktu yang dihabiskan di depan komputer bertambah dari 3,5 menjadi 8 jam per hari. Yam mengatakan 40 persen anak-anak di Hong Kong menghadapi masalah ini.

Berdasarkan riset Dr Yam, miopia terjadi pada sekitar usia 4 tahun dan berlangsung terus hingga usia 14 tahun. Pada usia ini, proses mulai melamban, meskipun dapat juga memburuk pada sekelompok kecil orang dewasa.

Saran Dr Yam kepada orang tua Nicole Leung adalah memberinya obat tetes mata atropine dan meningkatkan waktu untuk aktivitas di luar ruang.

Orang tua Nicole Leung mengatakan penglihatan anaknya tidak memburuk sejak mereka mengikuti anjuran Dr Yam.

Dr Yam menyarankan anak-anak sebaiknya melewatkan waktu 14 jam di luar rumah setiap pekan dan rehat dari kegiatan membaca untuk melihat ke objek di kejauhan setiap 30 menit. Jarak baca juga harus dipertahankan minimum 30 centimeter.

Menurut dia, aktivitas di luar ruang sangat penting karena cahaya penting bagi pertumbuhan mata untuk mengatasi miopia.

Dr Yam pun menyarankan agar anak-anak tidak membaca dalam kondisi remang-remang. "Akan lebih baik lagi apabila anak-anak dapat membaca di sebelah jendela dengan cahaya siang hari, ketika cahaya lebih terang, agar ada efek kesehatan yang tercapai untuk menghambat perkembangan miopia," ujarnya.

[sumber VOA News]


Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Inersia

Bingung Temukan Bakat Anak? Ini Tipsnya

Johann Wolfgang von Goethe seorang penulis dan penyair dari Jerman
berita-headline

Inersia

Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1 pada Anak dan Remaja di Indonesia

Indonesia merupakan negara berkembang dengan populasi penduduk yang tinggi. Pada tahun 20
berita-headline

Inersia

Suhu Panas Ekstrem di Atas 50 Derajat Celsius Meningkat Dua Kali Lipat

Jumlah hari-hari dengan suhu panas ekstrem per tahun, di mana suhu menyentuh 50 derajat Celsius,
berita-headline

Viral

Rp24 Miliar Disiapkan untuk Anak Yatim karena Covid-19

Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp24 miliar untuk anak-anak
berita-headline

Empati

Dadang, Potret Pengemudi Ojol Berjuang untuk Sambung Napas Anak

Pengemudi ojek online menjadi salah satu yang terdampak pandemi.Salah satunya yang dialam