https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   06 September 2021 - 17:41 wib

Inilah Jurnalisme Solusi, Naufan Punya Harapan Lagi

Minggu lalu, tepatnya 30 Agustus 2021, saya mendapatkan kabar seorang santri di Garut yang mengidap kanker tulang langka, Osteosarcoma Femur. Naufan Fadhil nama anak itu, usianya sekitar 16 tahun, duduk di bangku kelas dua madrasah aliyah.

Menonton video yang dibuatnya untuk menggalang dana, saya tergerak untuk ikut membantu. Ia membutuhkan dana Rp50 juta untuk biaya Rumah Sakit. Penyakitnya tak ditanggung BPJS. Keluarganya kurang mampu. Melewati masa remaja dengan tumor di kaki tentu merupakan sesuatu yang berat, apalagi Naufan adalah santri berprestasi. Dokter memvonis amputasi, tetapi ia mau mengupayakan jalan lain dulu semaksimal mungkin.

Saya ingat hari-hari saya ketika masih ‘nyantri’ dan seusia Naufan dulu. Mungkin itu masa-masa paling aktif dalam hidup saya: Bergiat di organisasi, mencoba berbagai cabang olahraga, sibuk bergaya karena baru tahu apa rasanya jatuh cinta. Membayangkan harus melewati semua itu dengan berjuang melawan kanker ganas, saya terenyuh. Naufan harus dibantu.


Pada saat yang sama ketika kasus Naufan menjadi perhatian saya, di kantor inilah.com saya dan kawan-kawan sedang menggagas sebuah konsep yang kami sebut ‘jurnalisme solusi’. Sederhananya, jurnalisme yang bukan sekadar memberitakan, tetapi menggerakkan ke arah penyelesaian masalah. Sebenarnya ini bukan konsep baru di dunia, tapi di Indonesia belum ada yang fokus melakukannya.

Saat inilah.com akan ‘reborn’ kami berpikir keras, konsep apa yang akan kami tawarkan? Apa diferensiasinya dengan portal berita lain? Setelah melalu berbagai diskusi panjang, kami sepakat untuk mengawal ‘jurnalisme solusi’ ini.

Makhluk apa jurnalisme solusi ini? Menurut salah satu pencetusnya, David Bornstein, jurnalisme solusi adalah bentuk jurnalisme yang mengedepankan liputan yang tajam dengan standard jurnalistik yang tinggi. “Jurnalisme solusi aian menyuntikkan informasi berharga bagi percakapan publik, menarik minat pembaca dan membuat mereka terlibat jauh.” Kata pendiri Journalism Solution Network ini.

Sementara itu, penulis sekaligus ahli jurnalisme solusi Tina Rosenberg menyebut SoJo (Solution Journalism) sebagai: “… upaya untuk meletakkan fokus liputan pada respons publik atas masalah yang ada, bukan sekadar membongkar masalah.” Artinya, jurnalisme solusi harus menawarkan ‘cerita’ yang menggerakkan, pemberitaan yang memberikan perspektif positif, kerja jurnalistik yang menginspirasi aksi nyata di lapangan.

Kembali kepada kasus Naufan Fadhil, jika jurnalisme solusi diterapkan kepadanya, semua kerja pemberitaan harus bisa mengupas secara tuntas persoalan yang tengah dihadapi Naufan dengan segala dimensinya. Menjawab “Apa penyakit yang dihadapinya?” Sehingga bisa mengedukasi publik dan mencegah hal yang sama terjadi kepada orang lain. “Mengapa Naufan perlu dibantu?” Agar publik terdorong menjadi masyarakat yang penuh empati dan bersedia saling tolong menolong. “Bagaimana cara membantunya?” Menginspirasi dan menggerakkan publik untuk ikut terlibat menyelasikan masalah. Dan seterusnya.

Kurang lebih, itulah jurnalisme solusi. Dalam kasus Naufan, Inilah.com membantu mengangkat kisah Naufan agar bisa dibaca orang lebih banyak, mengupas kasusnya dan menggubungkan dengan pihak-pihak tertentu agar ikut membantu dan memberikan solusi, menggerakkan orang lain untuk turun tangan menyelesaikan masalah.

Maka saat kisah Naufan ini diangkat, Inilah.com menghubungkan kasus ini dengan para influencer, komunitas, kelompok masyarakat sipil, dan seterusnya. Berbagai tulisan dan wawancara diankat untuk mendorong publik. Penggalangan dana dilakukan melibatkan kerjasama dengan platform crowdfunding yang kredibel, kitabisa.com.