https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   10 September 2021 - 00:27 wib

Hilirisasi Sawit Dorong Indonesia Jadi Produsen Oleokimia Terbesar di Dunia

Kebijakan pemerintah di sektor hilir kelapa sawit, terbukti mujarab dalam mendorong ekspor oleokimia dalam tiga tahun.

Penilaian ini disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat dalam webinar bertajuk 'Momentum Industri Oleokimia Indonesia di Pasar Global: Peluang dan Tantangan' pada Kamis (9/9/2021).

"Industri oleokimia telah berkembang pesat. Pada 1995, baru ada enam perusahaan yang menjadi anggota APOLIN. Namun hingga 2021 ini sudah 11 perusahaan, dengan kapasitas nasional 11,3 juta ton per tahun," kata Rapolo.

Dia menjelaskan, apabila kapasitas produksi oleokimia digabungkan berdasarkan kelompok produk Fatty Acid Metyl Ester (FAME), maka total kapasitas menjadi 12 juta ton per tahun. Artinya, Indonesia telah menjelma menjadi produsen oleokimia berbasis sawit terbesar di dunia.

Dalam catatannya, dukungan nyata pemerintah untuk memajukan industri hilir sawit, di antaranya adalah PMK No 166/2020 tentang Bea Keluar; PMK No 76/2021 tentang Levy dan Perpres 121/2020 tentang Harga Gas Bumi (US$6 per MMBTU). Berbagai regulasi tersebut merupakan landasan yang sangat kokoh untuk melakukan hilirisasi produk minyak sawit di Tanah Air.

Alhasil, industri oleochemical di Indonesia berkembang pesat. Di mana, kinerja ekspor terus meningkat. Pada 2018, volumenya 2,75 juta ton dengan nilai ekspor US$2,38 miliar. Sedangkan pada 2019 naik menjadi 3,27 juta ton dengan nilai eskpor US$2,10 miliar. Sementara pada 2020, volume ekspornya naik lagi menjadi 3,87 juta ton, nilainya US$2,63 miliar.

"Pada 2021 ini kami estimasikan volume ekspor oleokimia di atas 4 juta ton dengan nilai ekspor USD3,8 miliar," kata Rapolo

Dia menjelaskan, pencapaian ini tentu harus senantiasa dikembangkan karena produk-produk oleokimia sangat dibutuhkan oleh berbagai industri seperti industri kosmetik, kesehatan, makanan, farmasi,  dan pestisida.

Sementara, Putu Juli Ardika, Plt Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan, hilirisasi sawit mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Sektor hilir ini mampu menyerap 80 persen lebih bahan baku kelapa sawit menjadi produk turunan. Hingga kini, terdapat 160 jenis produk di industri hilir dalam bentuk produki di sektor pangan, bahan kimia, oleokimia, hingga bahan bakar baru terbarukan.

Pihak Kemenperin, kata Putu Juli, terus berupaya menjaga keberlangsungan produk oleokimia dan pertumbuhan industrinya agar tumbuh berkualitas. Adapun berbagai macam fasilitas dan dukungan pemerintah diberikan agar industri oleokimia tetap  produktif di tengah pandemi.

Pertama, Kemenperin mengeluarkan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) untuk mendukung kegiatan industri oleokimia yang merupakan industri kritikal. Di tengah pandemi, industri oleokimia tetap beroperasi 100 persen dengan protokol kesehatan ketat. Kedua, kebijakan harga gas murah yang dipatok US$6-US$7 per MBBTU, melalui Perpres Nomor 40 Tahun 2016 telah diberikan kepada sekitar 20 pabrik oleokimia dari 11 perusahaan.

Menurut Putu Juli, aturan ini dapat mendorong efisiensi biaya produksi sekitar 3 persen dan signifikan meningkatkan daya saing industri oleokimia. Selain, fasilitas pengurangan PPh badan bagi wajib pajak yang terdampak pandemi COVID-19 melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 9 Tahun 2021 serta advokasi tarif pungutan ekspor kelapa sawit dan turunannya yang lebih pro industri pengolahan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76 Tahun 2021.

“Atas dukungan Kementerian Keuangan dan berbagai pihak, sehingga pungutan bisa pro terhadap industri dalam negeri terutama dalam penyediaan bahan baku industri oleokimia. Alhasil industri ini berkembang dan bertahan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional,” kata Putu.

Untuk memperkuat industri oleokimia, dia menyarankan memperluas kapasitas produksi dan efisiensi biaya produksi agar daya saing produk oleokimia meningkat. “Kemudian efisiensi bahan baku minyak sawit melalui penggunaan industrial vegetable oil atau lauric oil supaya mendapatkan bahan baku yang lebih kompetitif. Sementara CPO kita gunakan untuk high food grade, mendapatkan nilai tambah dan harga kompetitif,” ungkap dia.

Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kemenperin, Emil Satria menambahkan, industrialisasi hilir oleokimia perlu ditata kembali untuk meningkatkan daya saing industri oleokimia pada lingkup global. Untuk itu, diperlukan efisiensi biaya akses bahan baku, salah satunya dengan penggunaan minyak sawit industrial yang lebih murah dengan tetap menjaga harga beli CPO dan tandan buah segar (TBS) pada tingkat yang remunerative bagi petani.

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan (Kemedag), Asep Asmara mengungkapkan nilai ekspor oleokimia mengalami tren perkembangan yang positif sebesar 9,57 persen selama 5 tahun terakhir. Ini sejalan dengan volume ekspor juga mengalami tren positif sebesar 17,22 persen.

Periode Januari-Juli 2021, nilai ekspor oleokimia tercatat US$3,68 miliar, meningkat signifikan sebesar 68,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan untuk volume ekspornya sebesar 3,82 juta ton, meningkat 16,88 persen ketimbang periode yang sama di 2020. “Perkembangan ekspor oleokimia di 2021 menunjukkan hasil positif dan terus meningkat,” ujar dia.

Ekspor oleokimia Indonesia, didominasi produk fatty acid sebesar 2,22 juta ton (58 persen) dan gliserol sebesar 0,80 juta ton (21 persen). Negara tujuan ekspor utama untuk oleokimia Indonesia adalah China dengan total nilai  US$0,95 miliar. Produk utama yang diekspor adalah stearic acid, fatty alcohol, dan glycerol. “Pemerintah ingin sawit diekspor dalam bentuk produk turunan atau olahan sehingga mendorong kegiatan hilirisasi kelapa sawit,” ujar Asep.

Plt Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Edi Wibowo menambahkan, pihaknya memiliki program penelitian dan pengembangan pada oleokimia yang siap diimplementasikan seperti pengembangan surfaktan anionik dari minyak sawit untuk peningkatan produk minyak bumi di lapangan tua menggunaakan teknik stimulasi matrix.

Sementara Direktur Teknis Kepabean Bea Cukai Kementerian Keuangan, Fadjar Donny Tjahjadi mengatakan, dalam pelayanan ekpor produk kelapa sawit dan turunanya mengacu para Peraturan Menteri Keuangan Nomor 22 Tahun 2019 untuk akurasi data, percepatan pelayan dan pengawasan kepabeanan ekspor.

Selain itu, lanjutnya, produk turunan oleokimia yang sebagian besar merupakan produk hilir seperti fatty alcohol, fatty amine, glyserol, dll tidak dikenakan Bea Keluar kecuali FAME/Biodiesel dengan kode HS 38260021, 38260022 dan 38260090.

Saat ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) telah memberikan fasilitas kemudahan berupa sertifikasi Authorized Economic Operator (AEO). Sertifikat AEO perlu dimiliki setiap perusahaan logistik yang ingin berstandar internasional. Fasilitas ini memberikan kemudahan terintegrasi yang ditawarkan sistem AEO, selain memudahkan pelayanan transaksi ekspor dan impor, juga telah beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang, hingga jaminan supply chain ke konsumen.

Fadjar Donny menjelaskan, keuntungan yang didapatkan perusahaan anggota AEO. Selain intangible benefit, perusahaan AEO akan diakui di seluruh dunia sebagai perusahaan yang safe dan secure, serta sebagai mitra bisnis yang patuh dan taat dalam perdagangan internasional.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan