https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

artikel   11 August 2021 - 14:24 wib

Tes PCR untuk Masuk Mal?

Pernyataan Mendag Muhammad Lutfi membuat heboh. Saat melakukan uji coba pembukaan pusat perbelanjaan di Jakarta ia menjelaskan vaksin sebagai syarat masuk mal. "Harus menunjukkan bukti vaksin." Katanya, sambil menyebut aplikasi 'peduli lindungi' yang bisa discan QR Code nya di pintu masuk mal. 

"Kalau belum atau tak bisa divaksin?" Kejar wartawan. Di sini persoalan bermula. Meski sebenarnya Mendag menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang benar belaka, sesuai aturan semestinya, jika belum divaksin untuk memastikan seseorang bebas dari Covid19, ya memang melalui tes. Hasil tes PCR bisa dipakai sebagai rujukan selama 2 hari, tes swab antigen untuk 1 hari. 

Ada yang salah? Saya kira, tidak. Walaupun  terdengar bikin ribet, sejatinya aturan ini penting karena dua hal. 

Pertama, PPKM yang dianggap berhasil menekan laju penularan Covid19 harus diiringi dengan suksesnya program vaksin. Ini jadi hal wajib karena turunnya angka kasus positif dan angka kematian bukan akhir dari perjuangan melawan pandemi ini, segenap lapisan masyarakat harus dilindungi dengan vaksin. Suksesnya program vaksin bukanlan pilihan, melainkan keharusan. Semua orang harus didorong untuk ikut vaksin, salah satu caranya adalah menjadikan vaksin sebagai syarat tertentu—untuk naik pesawat atau masuk mal ini, misalnya. 

Kedua, dibukanya pusat perbelanjaan dengan sistem pendingin di ruangan tertutup seperti mal memang dilematis. Di satu sisi ini harus dilakukan agar dunia perdagangan tidak mati, ada ratusan ribu karyawan yang menggantungkan nasib di sini, ekonomi riil yang digerakkan sektor ini juga menjadi penopang kehidupan banyak orang. Tutupnya mal selama PPKM menghantam industri perdagangan secara luar biasa, sektor ini oleng, hampir pingsan, nafasnya terengah-engah. Para pekerjanya menghadapi kesulitan ekonomi. 


Namun, di sisi lain, membuka pusat perbelanjaan dan mal juga dihantui kekhawatiran bahwa Covid19 bisa naik lagi. Sistem udara yang tertutup menjadi ruang bebahaya untuk mengubah mal menjadi 'super cluster' penularan virus. Solusinya, harus ada rekayasa lingkungan di ruang tertutup ini. Orang yang masuk harus dipastikan punya sistem pertahanan, vaksin tadi jawabannya. Jika tidak atau belum divaksin, tunjukkan bukti bahwa Anda bebas Covid19 dan tak akan membayakan yang lain. Ya bukti tes lah yang bisa dijadikan rujukan, apa lagi? 

"Ah, itu kan akal-akalan pemerintah saja mau jualan tes antigen dan PCR?" Serang netizen. Boleh saja sebenarnya berpikir demikian, toh kita hidup di zaman demokrasi di mana orang bisa punya pendapatnya sendiri. Tapi, bisa buktikan cara lain agar publik aman di ruang dengan sistem udara tertutup seperti mal? 

Saya kira semangat utama dari aturan ini adalah untuk mendorong semua orang agar melakukan vaksin. Itu sesuatu yang penting. Aturan yang menjadikan vaksin sebagai syarat tertentu hanyalah cara untuk mensukseskannya. Semangat itu yang harus kita tangkap. Bukan justru mencurigai pemerintah mau jualan alat tes swab antigen dan PCR. Kalau nggak mau ribet, ya vaksin! That's it. 

"Tapi kan ke pasar juga nggak perlu menunjukkan surat vaksin atau bukti tes antigen dan PCR?" Nah, di sini saya kira jawaban Mendag Lutfi menemukan argumentasinya. Pasar kan tidak menggunakan sistem sirkulasi udara tertutup? Lagipula, untuk pasar modern yang ber-AC, tetap berlaku syarat yang sama seperti masuk mal. Di Jakarta, contohnya, diatur melalui Kepgub nomor 966 tahun 2021. 


Memang ribet hidup di masa Covid19 ini, seperti di masa-masa pandemi sebelumnya. Coba lihat himbauan publik saat terjadi Spanish Flu atau kini kita kenal sebagai influenza di awal tahun 1900-an, daftar himbauan dan larangannya panjang sekali. Pasti tak nyaman hidup di era itu, saat vaksin dan obat flu belum ditemukan. Kira-kira seperti irulah ribetnya kita sekarang: Ke mana-mana musti pakai masker, duduk harus jaga jarak, perlu vaksin, butuh tes ini dan itu. 

Apa tujuannya? Tentu untuk melindungi diri kita sendiri dan orang-orang di sekeliling kita. Semua harus aman dan selamat, jangan sampai terpapar apalagi harus kehilangan nyawa karena kondisi tertentu yang tak bisa kita prediksikan. Vaksin menjadi tumpuan selama obat Covid19 belum ditemukan. Keribetan-keribetan termasuk musti tes sebelum masuk mal buat yang belum divaksin masih harus kita hadapi. 

Nggak mau ribet? Makanya vaksin. Saya percaya pemerintah tak punya pikiran dan rencana buruk untuk mencelakakan masyarakatnya. Saya percaya semua pihak berbuat sekuat tenaga agar kita bisa selamat, bertahan, dan keluar dari pandemi ini. 

Bagi saya tak ada yang salah dari pernyataan Mendag Lutfi. Mungkin kita memang tak mau ribet, sedang susah, kecewa dengan kenyataan yang tak terelakkan ini. Tapi kita jangan berprasangka buruk, apalagi membangun opini bahwa kalau tak sependapat dengan kita maka pasti salah belaka. 

Masuk mal mesti vaksin dulu? Saya sih 'yes'. Nggak tahu kalau Mas Anang. 

Tabik! 

Fahd Pahdepie, CEO Inilah.com

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Doa UAH untuk Inilah, Semoga Berkah

Kemarin sore (13/8), tepat empat hari sebelum launching Inilah.com reborn, kami kedatangan tamu s
berita-headline

Viral

Jangan Ada Lagi yang Meninggal Saat Isoman

Isolasi mandiri (isoman) saat pandemi Covid-19 harusnya jadi solusi bagi pasien positif Covid tan