https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

artikel   14 August 2021 - 02:22 wib

Melawan Hoaks yang Mematikan

Sifat manusia umumnya merupakan pendongeng yang kuat. Seperti dahulu halnya lukisan purba di goa membuktikan itu. Manusia juga lebih memilih narasi yang gaduh ketimbang akurasi faktual.

Oleh karena itu, dari perpindahan zaman tidak sembarang orang diangkat menjadi pencerita. Hanya yang bijaklah yang dipilih menjadi pencerita. Ceritanya tetap memukau tanpa harus mengurang-ngurangi atau melebih-lebihkan fakta.

Kini, serangan pandemi COVID-19 telah menyerang bumi, para manusia pencerita pun diuji. Apakah akan mengembangkan sifat dasar manusia tersebut sebagai keunggulan yang dapat memberikan banyak warna kehidupan, atau sebaliknya justru menjadi kelemahan yang membuat lembaran kelam kehidupan.

Sosok jurnalis adalah pencerita di zaman modern. Untuk mengatasi kelemahan sifat dasar manusia tersebut, metodologi jurnalisme disusun. Kode etik profesi yang sangat ketat pun dibuat sebagai kontrol diri. Sementara ruang redaksi menjadi kontrol eksternal.

Namun, di era yang serba digital, kini semua pribadi bisa dengan mudah membuat konten dan menyebarluaskannya sendiri. Implikasinya berita tidak benar atau fake news dan berita bohong atau hoaks pun menyebar luas bak pandemi.

Ketika seluruh bagian bangsa ini tengah bersusah payah menghadapi pandemi, masih banyak pula yang dengan sadar memproduksi berita bohong. Catatan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dalam periode 1 Januari 2020-16 Juli 2021 ada 1.064 hoaks COVID-19 yang beredar. Bahkan temuan terbaru lebih banyak ada sepanjang 23 Januari 2020 hingga 23 Juli 2021, menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), terdapat 1.791 isu hoaks COVID-19 yang tersebar melalui 3.949 unggahan di media sosial. Sebanyak 3.529 sudah diturunkan, sementara yang diajukan ke ranah hukum dari hoaks tersebut berjumlah 767 kasus menurut data per 23 Juli.



Hoaks itu tersebar di berbagai platform media sosial. Total 3.986 kasus. Paling banyak di Facebook (3.351), Twitter (554), Instagram ( 32 konten), dan Youtube (49 konten).

Kabar bohong yang beredar luas, misalnya, menjelaskan orang yang tidak pernah ke luar negeri tidak akan terinfeksi COVID-19. Banyak juga yang mengaitkannya dengan isu politik, suku, agama, ras, dan antar-golongan. Kondisi ini tentu memprihatinkan dan tidak boleh dianggap remeh.

Tingkat literasi Indonesia terendah kedua di dunia dan 65 persen masyarakat memercayai hoaks. Kabar bohong akan mengarahkan publik pada tindakan yang salah, membahayakan kesehatan, bahkan ketahanan nasional. Soal ini menjadi pekerjaan rumah tambahan pemerintah, khususnya Kominfo ataupun aparat penegak hukum.

Hoaks Cepat Tersebar

Semudah memainkan jempol dan tombol, seperti itulah penyebaran hoaks di masyarakat melalui melalui media sosial. Ada beberapa sebab hoaks cepat menyebar, ternyata salah satunya didasari motivasi sosial, yaitu ingin berbagi informasi.

Ajakan dan imbauan ”saring sebelum sharing” kerap selalu didengungkan untuk mencegah penyebaran hoaks atau berita bohong. Namun, tetap saja hoaks dengan cepat menyebar dan membanjiri di tengah masyarakat, lebih-lebih pada saat ada peristiwa atau pandemi seperti saat ini.

Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia. Bahkan, saat ini, kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, hoaks lebih cepat dan lebih mudah bertebaran daripada virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Dia menyebut kondisi ini sebagai infodemik, yaitu informasi terkait pandemi COVID-19 yang tidak benar. Secara global, saat ini ada lebih dari 1 juta hoaks terkait COVID-19.

"Untuk melawan pandemi, kita membutuhkan kepercayaan dan solidaritas dan ketika ada ketidakpercayaan, solidaritas jauh berkurang. Informasi palsu menghalangi respons terhadap pandemi, jadi kita harus bekerja sama untuk melawannya dan mempromosikan informasi kesehatan masyarakat berbasis sains," ujar Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam keterangan tertulisnya.

Ada banyak faktor mengapa hoaks cepat menyebar, terutama adalah rendahnya tingkat literasi di masyarakat. Ditambah lagi adanya fenomena FOMO (fear of missing out) yang mendorong seseorang secepat mungkin menyebarkan informasi untuk menunjukkan bahwa dia juga tahu.

Salah satu upaya, seperti yang dilakukan WHO melalui tim mythbusters, adalah bekerja sama dengan perusahaan pencarian dan media sosial, seperti Facebook, Google, Pinterest, Twitter, TikTok, dan Youtube, untuk melawan penyebaran hoaks, termasuk informasi keliru (disinformasi). Facebook dan Twitter, misalnya, akhirnya mencabut (take down) pernyataan seorang kepala negara yang menyatakan obat tertentu bisa untuk melawan COVID-19.

Hoaks dan informasi salah bisa menghambat respons kesehatan masyarakat yang efektif untuk mengatasi pandemi COVID-19 serta menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan di masyarakat. Pemerintah pun harus memberikan informasi penting dan akurat terkait COVID-19.

Dari dokumen yang diterima INILAHCOM, sepanjang 4 Juli hingga 23 Juli 2021, telah ditemukan 32 isu hoaks PPKM Darurat pada 209 postingan media sosial, di mana 136 postingan diantaranya telah ditangani atau di-takedown. Temuan isu hoaks ini utamanya menyangkut informasi keliru tentang penolakan PPKM Darurat di berbagai daerah serta pemahaman yang salah mengenai perpanjangan PPKM Darurat.

Beberapa hoaks yang kini banyak tersebar di masyarakat antara lain rumah sakit meng-COVID-kan pasien, dan pasien meninggal karena keracunan interaksi obat yang diresepkan dokter. Hoaks tersebut membuat orang yang sakit baik COVID-19 maupun bukan menjadi takut untuk pergi ke rumah sakit dan bertemu dokter. Akibatnya, tercatat beberapa kasus warga meninggal karena terlambat ditangani di rumah sakit.

Hoaks ambulans kosong yang berputar-putar sekeliling kota untuk menakut-nakuti warga, dipercaya sebagian orang sehingga terjadi beberapa insiden perusakan ambulans, tercatat pelemparan batu dan kaca pecah di Jogja dan Solo pada minggu kedua Juli 2021. Hal ini sangat meresahkan para petugas ambulans yang masih harus tetap bekerja di tengah tekanan tinggi akibat antrian pasien atau jenazah yang membutuhkan ambulans.

Dorong Literasi Digital

Penyebaran hoaks di masyarakat dipengaruhi faktor oleh minimnya literasi atau budaya membaca, sehingga mudah sekali percaya terhadap informasi yang beredar melalui media sosial dan grup percakapan.

“Diperlukan juga dukungan yang besar dari platform media sosial untuk proaktif menangani hoaks dan secara agresif mendorong literasi digital di masyarakat. Masyarakat juga dapat memanfaatkan kanal-kanal informasi untuk melakukan pemeriksaan hoaks secara mandiri dan melakukan pengaduan konten hoaks melalui kanal aduan yang tersedia,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate dalam keterangan tertulis, Kamis (22/7/2021).

Upaya dalam memerangi konten kebohongan ini juga jadi fokus Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Harry Sufehmi mengatakan bahwa upaya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat ini harus disertai dengan upaya serius untuk menekan lajur penyebaran hoaks pandemi.

“Harus ada upaya pendekatan terhadap masyarakat dengan klarifikasi atas hoaks yang beredar melalui tokoh masyarakat dan tokoh agama. dan perlunya kantor desa, kelurahan, kecamatan, puskesmas, rumah sakit, perlu secara berkala memajang poster yang berisi klarifikasi atas hoaks terkini yang dinilai paling meresahkan masyarakat.” kata Harry ketika dihubungi INILAHCOM, Jumat (23/07/2021).

Ia melanjutkan semua hoaks perlu segera ditelusuri jejak digitalnya dan pelakunya ditindak. Penyedia platform yang tidak segera mengeblok konten hoaks harus diberi sanksi. Seperti halnya memerangi COVID-19, selain mengobati yang terinfeksi, terutama memutus mata rantai penularan.

“Kini, saatnya pemerintah pusat maupun daerah dan masyarakat bahu-membahu menangani hoaks yang bergerak lebih cepat dan sama membahayakannya dengan virus korona.” sambung Harry.

Kolaborasi negara dengan media arus utama perlu terus dioptimalkan untuk memastikan sekitar 270 juta penduduk mendapatkan informasi berkualitas. Edukasi harus terus digalakkan. Jangan mudah terpukau cerita memukau. Pilihlah informasi akurat faktual. Ini bukan perkara mudah karena menyangkut sifat dasar manusia. [rok]

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan