https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

artikel   14 August 2021 - 03:33 wib

Doa UAH untuk Inilah, Semoga Berkah

Kemarin sore (13/8), tepat empat hari sebelum launching Inilah.com reborn, kami kedatangan tamu spesial di kantor Cipete. Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyempatkan hadir untuk memberikan doa sekaligus memberi tausiyah dan motivasi kepada tim inilah. Kami seperti mendapatkan denyut listrik semangat yang luar biasa. Dada kami berdegup lagi, mata berbinar-binar, kaki ingin berlari! 

Suatu ketika saya pernah katakan kepada CMO Inilah, Fajar Bayu Wibowo, dan COO Inilah, Ahmad Tazakka Bonanza, bahwa 'melahirkan kembali' inilah.com adalah pekerjaan besar yang butuh energi tak sedikit. Untuk 'reborn', inilah.com seolah jasad yang membutuhkan nyawa baru, sementara kesempatan hidup kedua haruslah membuat perusahaan media ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Lebih kuat, lebih bermartabat, hidup lagi untuk menebar lebih banyak manfaat. 

"Mungkin hanya Nabi Isa yang punya mukjizat menghidupkan kembali yang sudah mati." Cenda saya pada Abdullah Mubarok, Editor in Chief inilah.com, "Tapi kan inilah.com ini sebelumnya tidak mati, denyutnya masih ada, masih ada kehidupan, hanya lemah saja. Perlu alat pacu jantung bertegangan tinggi!" Sambung saya. Barok tertawa. 

Saat mulai memimpin inilah.com, saya merancang konfigurasi energi yang baru di perusahaan ini. Mulai dari merenovasi kantor, mengganti peralatan dan furniture, menyegarkan tim, hingga membangun kembali website dan apps-nya agar lebih relevan dengan semangat zaman (zeitgeist). Tapi rasanya tetap ada yang kurang, butuh energi lain yang lebih menggerakkan. Ikhtiar lahiriah sudah ditempuh, rasanya kami juga butuh energi batiniah. 

Kedatangan UAH kemarin seolah menjawab kegundahan saya itu. Kehadirannya langsung membawa suasana berbeda di kantor kami, ada energi besar yang ikut hadir, memompa semangat tim saya berkali-kali lipat. Setelah mengobrol beberapa saat, shalat Ashar berjamaah, saya kemudian meminta beliau berbicara memberi motivasi dan nasihat untuk tim inilah. 


"Kita membutuhkan media yang bisa menjadi pencerah di tengah masyarakat. Membawa kabar-kabar terpercaya yang mampu menggerakkan kepada nilai-nilai kebaikan, berimbang, adil, semoga inilah.com bisa mengisi peran itu," nasihat UAH. Kemudia beliau bercerita bagaimana 'brodcasting' sebebarnya sudah ada sejak zaman Nabi, termasuk isyarat tentang masyarakat yang sakit, yakni masyarakat yang dihuni orang-orang yang gemar menyebar kabar bohong, prasangka buruk, fitnah dan kebencian, ciri-cirinya disebutkan dalam al-Quran dan hadits. 

"Mudah-mudahan inilah.com tidak termasuk yang demikian itu," pesan UAH. Lalu secara luar biasa beliau mengupas makna kata 'inilah' dalam Bahasa Arab (هذا), ternyata setiap hurufnya mengandung makna yang istimewa, memberi pesan bahwa 'ini' yang ingin ditekankan itu haruslah tentang kebaikan dan kebenaran, keluar dari diri yang baik dan benar, tegak lurus untuk menyampaikan apa yang sejati, demi kemaslahatan yang panjang. 

Sore itu udara Cipete, Jakarta Selatan, begitu sejuk. Kami menutup hari dengan berdoa bersama, menengadahkan dua tangan untuk meminta perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT, zat yang Maha Media, Maha Portal, Maha Segalanya. Seperti doa UAH, kami berharap inilah.com menjadi media yang 'falah', bukan hanya jadi pemenang dalam industri, tetapi juga sukses dan membahagiakan, menjadi berita gembira untuk sebanyak mungkin orang. Kurang lebih itulah jurnalisme solusi. 

Menjelang maghrib, saya dan teman-teman mengantar UAH pulang. Sebelum pamit, kami mengobrol singkat. UAH memberi saya nasihat yang lebih personal. 

Pada momen itu tiba-tiba saya teringat zaman waktu kami sama-sama mondok dulu. Saat itu saya kelas 1 Aliyah, SMA, sementara UAH kelas 3. Waktu itu saya jadi ketua mading sekolah, menggerakkan literasi para santri dengan berita, tulisan, cerpen hingga puisi. Suatu ketika saya menggunakan mading itu untuk 'demo' memprotes kebijakan sekolah, tulisan-tulisannya sampai memicu demo beneran dengan tuntutan mengganti kepala sekolah. 

Subuh-subuh saya melihat UAH membaca mading yang baru saya naikkan. Tak lama ia memanggil saya, lalu memberi nasihat agar lebih bijaksana, tak melukai orang lain, tak merugikan siapapun. 

Tak menyangka kini saya memimpin media lagi. Kini lebih besar dari mading sekolah. Memimpin inilah.com, suatu ketika saya mungkin salah dan perlu diingatkan, saya kira peran orang-orang saleh dan bijaksana seperti UAH ada di sana, untuk memberi nasihat dan mengingatkan. Niat selalu perlu dikalibrasi agar ikhtiar tetap lurus, dan kita butuh kompas ruhani untuk mawas diri. 

Terima kasih UAH. 

Tabik! 

FAHD PAHDEPIE, CEO Inilah.com

Komentar (1)

komentar terkini

berita-profile
1 bulan lalu
TRI ADHI SALMAN :
Amin Yaa Rabbal Alamin

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Tes PCR untuk Masuk Mal?

Pernyataan Mendag Muhammad Lutfi membuat heboh. Saat melakukan uji coba pembukaan pusat perbelanj