https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   19 August 2021 - 07:19 wib

Media Barat Skeptis dengan Janji Taliban

Dunia kini menunggu janji dari Taliban yang telah mengambil alih pemerintahan negara Afghanistan. Di tengah kegaduhan berita tentang Bandara Kabul yang dipenuhi warga Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu, Taliban menyerukan bahwa akan memimpin dengan damai, termasuk jaminan pemenuhan hak-hak perempuan.

Komitmen tersebut dinilai media asing dengan skeptis efeknya pengumpulan informasi pun cenderung bias. Contoh terjadi yang dilakukan media newscom.au dalam menggiring persepsi publik dengan informasi yang salah untuk menyudutkan kelompok Taliban. Media arus utama asal Australia itu menyebut jika hanya seorang jurnalis perempuan yang diijinkan hadir dalam jumpa pers yang digelar Taliban.

"Meskipun puluhan rekan jurnalis wanita dari media dunia juga ditempatkan di ibu kota negara itu, Bellis adalah satu-satunya reporter wanita yang diberikan izin untuk menghadiri konferensi pers Taliban," tulis media online itu.

Namun faktanya Charlotte Bellis dalam akun twitternya membantahnya. Jurnalis Al Jazeera asal selandia baru itu mengatakan dirinya bukanlah satu-satunya jurnalis wanita yang diundang dan hadir.

"Ada dua jurnalis perempuan Afghanistan lainnya ada di sana juga - perempuan yang jauh lebih berani dari saya," Cuit Bellis menanggapi framing media yang dilakukan.

Rasa ketidakpercayaan juga terlihat dari sejumlah pemimpin dan tokoh di beberapa negara yang ingin melihat bukti dari janji-janji Taliban. PM Inggris Boris Johnson, Rabu, menyebut Taliban harus dinilai dari ”tindakan-tindakannya dibandingkan dari kata-katanya”. Melalui cuitan di Twitter, Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian meminta Taliban menunjukkan gelagat telah berubah melalui perilaku.

Salah satu poin yang menjadi pertanyaan adalah di Kabul mungkin Taliban bisa menunjukkan sikap yang cenderung moderat karena, sebagai ibu kota Afghanistan, ada banyak wartawan media asing serta kantor perwakilan internasional yang menjadi pengawas. Akan tetapi, standar yang sama diragukan bisa diterapkan di kota-kota lain, apalagi pelosok.


Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Taliban untuk pertama kalinya menggelar taklimat media di Kabul pada Selasa (17/8/2021) pukul 20.00 waktu setempat. Mereka mengatakan akan menjamin hak semua warga Afghanistan dan tidak akan menyakiti siapa pun, baik mereka yang menentang keberadaan Taliban maupun para perempuan yang telah menikmati pendidikan dan karier.

”Perempuan adalah bagian yang penting dari pembangunan masyarakat. Taliban menjamin keselamatan mereka. Perempuan akan tetap diizinkan bersekolah dan bekerja selama sesuai dengan hukum Islam,” kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid saat memberikan keterangan dalam konferensi pers perdana di Kabul, Afghanistan, Selasa (17/8/2021).

Menurut Pengamat Politik Timur Tengah  M. Najih Arromadloni keterlibatan perempuan pada jumpa pers yang digelar merupakan cara elit politik Taliban ingin menunjukkan mereka tengah membangun citra baru mereka.

"Tetapi ini perlu diuji oleh waktu kebijakan tersebut, khususnya yang cukup lebar antara elit dan pasukan taliban di bawah yang bersikap kaku terutama hal perempuan," ujar pria yang biasa disapa Gus Najih kepada Inilah.com, Selasa (19/08/2021).

Sebelumnya, dalam proses merebut pemerintahan Afghanistan dari Presiden Ashraf Ghani, Taliban membubarkan perkantoran dan menyuruh para perempuan yang bekerja untuk segera pulang. Di Kabul, mereka mengecat poster-poster yang menampilkan perempuan, baik di salon, pertokoan, maupun baliho.

Pihak Taliban juga membiarkan warga Afghanistan yang bekerja sebagai anggota staf lokal atau penerjemah untuk kedutaan asing tidak akan menjadi incaran.

Menunggu Bukti Janji Taliban

Penantian 19 tahun, Taliban kembali masuk Kabul, Afghanistan, pada 15 Agustus 2021. Sebagian pihak di dalam dan di luar kelompok itu berusaha meyakini Taliban telah berubah. Walakin, rekam jejak mereka hingga Agustus 2021 membuat pernyataan itu banyak yang menentang hingga sulit diterima.

Peluang moderasi Taliban, antara lain, tercantum dalam laporan Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat edisi April 2021. ”Keinginan Taliban pada bantuan dan pengakuan asing akan melunakkan perilakunya,” demikian penilaian itu.

Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, bolak-balik menyebut Taliban siap bekerja sama dengan sejumlah pihak asing. Bahkan, Taliban berkomunikasi dengan China, Rusia, dan India.

Padahal, di sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim, tiga negara itu kerap dianggap tidak ramah kepada Islam. Di sisi lain, sebagian Muslim menyebut Taliban sebagai pejuang menegakkan hukum Islam. ”Kami jelas ingin hukum Islam,” kata Shaneen kepada BBC, beberapa jam setelah Taliban memasuki Kabul.


Dalam jajaran kepemimpinan Taliban, ada Abdul Ghani Baradar. Bersama iparnya, Mohammad Omar, Baradar mendirikan Taliban pada Januari 1994. Omar jadi pemimpin Taliban sampai meninggal pada 2013. Kala Taliban terguling selepas serbuan AS pada 2001, Baradar dilaporkan berusaha mendekati pemerintahan peralihan. Namun, upaya itu ditolak kelompok lain yang memerangi Taliban sejak 1996.

Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyebut Baradar sebagai sosok moderat. Ia meyakini, Baradar dan para petinggi lain di Taliban tidak akan membawa perang baru di Afghanistan.

"Saya yakin pemerintahan Taliban ini lebih terbuka. Saya yakin Taliban banyak berubah ketimbang waktu pemerintahan yang pertama 1996-2001. Dia tidak seperti itu lagi. Dia akan menjadi terbuka," ujarnya dalam jumpa pers baru ini.

Kelompok Taliban tengah berupaya membentuk pemerintahan sendiri.  Taliban berjanji akan tampil ”berbeda secara positif” dari pemerintahan mereka selama berkuasa pada 1996-2001.

Taliban kini menjanjikan pemerintahan lebih terbuka dengan menerima bantuan dan pertemanan dari negara lain. Setidaknya ikhtiar tersebut sudah ditunjukkan dalam beberapa tahun terakhir ketika mereka mau berunding membahas masa depan Afghanistan melalui jalur diplomatik yang diprakarsai sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Kini masyarakat dunia tengah menunggu bagaimana masa depan Afghanistan ke depan di bawah kekuasaan Taliban yang baru. Semua menantikan janji Taliban yang akan lebih terbuka untuk membawa Afghanistan menjadi negara yang berdaulat dan damai.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Bendung Taliban dari Dunia Maya, Ini Langkah Facebook

Jatuhnya ibu kota Kabul, Afghanistan ke tangan kelompok bersenjata Taliban, membuat aplikasi What
berita-headline

Viral

Dua Ledakan di Luar Bandara Kabul, 13 Meninggal

Dua ledakan terjadi di luar Bandar Udara Internasional Hamid Karzai, Kabul, yang penuh sesak dan
berita-headline

Viral

Gejolak Rezim Taliban Beralih Afghanistan Menjadi Kaya Raya

Kontroversi masyarakat dunia terhadap kabinet pemerintahan baru di
berita-headline

Viral

Afghanistan Jatuh ke Taliban, Bagaimana Sikap Indonesia?

Sudah hampir dua minggu ini, mata dunia tertuju ke Afghanistan. Pemerintahan Afghanistan telah ja
berita-headline

Viral

Membuka Perdamaian di Afghanistan

Dunia dan rakyat Afghanistan kini tengah menghadapi kecemasan berlipat ganda. Baru ini Taliban se