https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   22 August 2021 - 10:54 wib

Menyembuhkan Diri, Hidup Sebelum Mati

I’ve been running from my past

But my future just too fast


Penggalan lirik lagu ‘Live Before I Die’ yang ditulis dan dinyanyikan Mike Posner itu membuat saya tersenyum. Saya melihat diri saya sendiri di sana. Seperti Mike yang berjalan kaki mengitari seluruh negara bagian Amerika Serikat, meninggalkan masa lalu buruknya, menemukan masa depan baru yang belum ia ketahui.


Kita tak pernah tahu kisah hidup kita sendiri sampai kita benar-benar menjalaninya, bukan? Seperti pernah ditulis kartunis Asleigh Brilliant, “My life has superb cast, but I cannot figure out the plot!” Tak ada satu pun manusia yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, sekalipun seorang Nabi. Lagipula, hidup tak akan menarik lagi untuk dijalani jika kita sudah tahu apa yang akan terjadi.


Mike Posner mengalami depresi berat setelah ditinggalkan sahabat karibnya, Tim Bergling atau lebih dikenal sebagai Avicii yang meninggal karena bunuh diri. Mike sempat ingin mengakhiri hidupnya juga, ia merasa hidup tak bermakna lagi setelah sahabat terbaiknya itu pergi. Selama ini karirnya adalah pembuktian kepada Avicii, tak ada yang lain, sebagaimana ia tulis di lagu ‘I Took a Pill in Ibiza’. Ia melakukan segalanya, yang hebat maupun yang memalukan, hanya untuk satu hal: “To show Avicii I was cool”. Maka saat Avicii tiada, Mike merasa hidupnya tak punya tujuan lagi.


Mike adalah seorang pribadi yang penuh kesedihan. Lagunya menjadi ‘anthem’ bagi anak-anak muda di seluruh dunia yang gelisah dan kesepian. Di klub-klub malam, seperti lagu-lagu Avicii, lagu Posner disetel keras-keras dengan dentam bass yang hampir meledakkan dada. Orang-orang ingin melepaskan beban dari dirinya masing-masing, lewat musik, alkohol, obat-obatan terlarang. Tetapi justru mereka makin tenggelam dalam kesedihan. Seperti Mike sendiri, “All I know are sad songs, sad songs.” Semua yang saya tahu adalah lagu sedih. Katanya.


Avicii juga mengalami situasi yang sama. 20 April 2018 ia ditemukan tewas di Muscat, Oman. Usianya masih 28 tahun kala itu. Statusnya sebagai bintang dunia, kehidupan mewah dengan segala fasilitas yang dimilikinya, tak bisa menghapus kesedihan dalam dirinya. Akhirnya ia memilih mengakhiri hidup, gagal menjalankan pesan ayah yang ia tulis di lagunya sendiri, ‘The Nights’.


One day my father, he told me
"Son, don't let it slip away"
When I was just a kid, I heard him say
"When you get older
Your wild heart will live for younger days
Think of me if ever you're afraid"


Sepeninggal Avicii, Posner melewati hari-hari yang berat. Alkohol, ganja, dan narkotika menjadi pelariannya. Hingga suatu hari ia menyadari sesuatu yang lain: Bahwa hidup adalah tentang berjalan untuk menyembuhkan diri sendiri, karena setiap kita pernah begitu terluka tetapi bersikeras merasa baik-baik saja. Posner memutuskan untuk pergi. Hijrah. Ia keluar rumah. Seperti pejalan spiritual yang memutuskan untuk ‘khuruj’ ke luar rumah.



Sejak itulah ia menemukan momen pencerahan. “I stopped smoking weed a year ago. Maybe I'm less cool now, I don't know.” Tulisnya. “And I stopped drinking Hennessy on ice. I thought it made my fans think I was tight.” Ia meninggalkan masa lalunya karena ingin ‘hidup’ sebelum kelak mati. Dalam perjalanan puluhan ribu kilometer menyeberangi benua Amerika, ia berdoa, “Dear Lord wont you please give me wisdom grant me peace?” Ya Tuhan, sudikah Engkau memberiku kebijaksanaan dan menganugerahkanku kedamaian?


Seperti Avicii, Chester Bennington, Robin Williams, setiap kita pernah mengalami trauma hebat dalam hidup. Menjalani hari-hari berat yang membuat kita merana. Tapi jangan putus asa seperti mereka. Bangkitlah untuk merasakan hidup sekali lagi. Hiduplah sebelum mati. Lakukan hal-hal baik untuk menebus rasa bersalah kita masing-masing. Kerjakan hal hebat untuk membuktikan bahwa kita bukan bintang yang boleh redup dan tak akan dipedulikan orang lain, jadilah ‘One More Light’. Jadilah seperti Mike Posner yang mengubah segala kesedihan menjadi energi baru yang justru menginspirasi orang lain, menggerakkan orang lain, ‘menghidupkan kembali’ orang lain.


Hidup adalah tentang menyembuhkan diri sendiri. Tempat-tempat yang kita datangi, orang-orang yang kita temui, kesempatang yang datang, waktu yang tersisa, adalah ruang untuk penyembuhan itu. Kita semua adalah anak kecil yang mengalami trauma orang dewasa sebelum waktunya, bukan? Maka sembuhlah! Sudah menjadi hukum hidup: Semua luka akan sembuh meski tak semuanya akan hilang.


Tapi, bagaimana caranya? Saya ingat adegan saat dr. Stephen Strange mendatangi Kamar Taj dan bertemu The Ancient One. Saat Doctor Strange ingin sembuh tetapi ego dan arogansi masih menguasai dirinya, The Ancient One mendorongnya dan mengeluarkan tubuh astral Strange sambil berujar, “Open your eyes!” Tentu saja ini bukan sekadar mata lahir, tetapi sekaligus mata batin. Sekembali dari perjalanan astral yang mencengangkan, Strange pun menyerah, “Teach me!” Ia memohon. Ajari aku. (Hei, bukankah itu hanya sebuah film!?)


Ya, ada banyak cara untuk ‘sembuh’ dari diri yang terluka: Bepergianlah ke banyak tempat, temui orang-orang baru, ambil kesempatan baru, pelajari hal-hal baru, tonton banyak film, dengarkan berbagai musik, baca buku-buku. Belajar kebijaksanaan lagi. Ternyata seluruh dimensi diri kita harus disembuhkan dan diberi nutrisi. Bukan hanya lahir, tetapi juga batin. Pikiran dan perasaan.


Temukanlah seorang guru, mentor, mursyid, atau apapun saja. Orang bijak yang akan menuntunmu menyembuhkan diri. Jadilah seperti Jonathan Pangborn yang bersaksi di depan Strange yang belum tercerahkan, “…and finally I found my teacher. And my mind was elevated, my spirit deepened, and somehow my body healed.


Suatu ketika dalam hidup, saya menemukan guru semacam itu. Seseorang yang mengajari saya tentang makna. Bahwa tugas menjadi manusia bukan tentang menyelamatkan diri sendiri, tetapi menolong dan memberi manfaat untuk sebanyak mungkin orang. Peran kita bisa sebagai apa saja: anak, kakak, adik, orangtua, penulis, seniman, jurnalis, dokter, presiden, atau apapun saja. Yang jelas kita harus menemukan peran… Karena untuk menyembuhkan diri sendiri kadang kita perlu berperan menyembuhkan orang lain juga. Di sanalah pikiran kita akan terangkat, jiwa kita jadi lebih dalam, dan tubuh lahir maupun batin kita menyembuh. Jadi lebih kuat.


Hari ini, 22 Agustus 2021, saya berulang tahun ke-35. Kata guru saya, konon usia 35 adalah permulaan untuk memasuka fase 7 tahun keenam, salah satu masa yang paling menentukan dalam hidup seseorang. Jika kita kita sudah menemukan peran di fase itu, konon kita memang sudah ditugaskan untuk itu dan tinggal menjalaninya sepenuh hati. Maka semua hal baik akan datang. Masa depan cepat menjelang dan masa lalu tertinggal jadi kisah.


Salah satu kemampuan saya adalah menulis dengan cara seperti ini. Maka saya ingin mendedikasikan momen ini untuk berbicara kepada Anda, yang membaca tulisan saya ini, barangkali apa yang saya tulis bisa memberikan energi dan inspirasi tertentu yang menggerakkan kita semua untuk bisa berbuat baik lebih banyak lagi. Sebab suatu hari kita akan pergi meninggalkan dunia ini, maka jalanilah hidup yang kelak akan kita kenang…

 

One day you'll leave this world behind
So live a life you will remember

These are the nights that never die



Jakarta, 22 Agustus 2021


FAHD PAHDEPIE, CEO Inilah.com

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Inilah Jurnalisme Solusi, Naufan Punya Harapan Lagi

Minggu lalu, tepatnya 30 Agustus 2021, saya mendapatkan kabar seorang santri di Garut y
berita-headline

Inersia

Tanpa Seperti Messi, Sejam Uang Rp20 Juta Masuk Rekening

"Kalau orang belum sukses ditanya mau enggak penghasilan miliaran
berita-headline

Viral

"Islam Tengah" Apalagi Itu?

Persoalan ekstremisme, hate speech atau ujaran kebencian, dan anti terhadap perbedaan seja
berita-headline

Kanal

Harapan untuk Naufan

Saya tidak mengenal siapa Naufan Fadhil. Belum pernah bertemu. Tetapi Naufan mondok di pesantren