https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   27 August 2021 - 01:11 wib

Peluang Selidiki Asal-Usul COVID-19 Hampir Tertutup

Peluang untuk melakukan studi penting tentang awal mula pandemi COVID-19 hampir tertutup, kata para ilmuwan senior seperti dilansir BBC.

Tim yang ditunjuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencari tahu penyebab wabah itu mengatakan prosesnya mandek. Dan penundaan lebih lanjut dapat membuat studi penting itu 'secara biologis mustahil'.

Dalam sebuah artikel di jurnal ilmiah Nature, mereka meminta para pemimpin dunia dan ilmuwan untuk mempercepat studi tersebut 'selagi masih ada waktu'.

Ahli virologi Belanda Profesor Marion Koopmans, anggota tim WHO, mengatakan kepada BBC bahwa risiko pandemi semakin tinggi.

"Karena cara dunia berubah - peningkatan populasi, kepadatan, dan lebih banyak interaksi antara manusia dan hewan, kita perlu belajar di mana ada kesalahan dan bagaimana kita bisa menghindarinya di masa depan," ujarnya.

Tim WHO berkunjung ke Wuhan, China --tempat kasus pertama Virus Corona dilaporkan-- pada Januari lalu dan menerbitkan laporan pada bulan Maret yang merekomendasikan:

- Mencari bank darah di China dan negara-negara lain untuk antibodi terhadap virus (COVID-19) dalam darah yang disumbangkan pada bulan-bulan sebelum wabah Desember 2019.

- Mengambil sampel dari hewan liar yang diternakkan seperti cerpelai dan anjing rakun yang mungkin menjadi 'inang perantara' dan memungkinkan virus melompati spesies.

Tetapi, karena hewan ternak berumur pendek dan bank darah menyimpan sumbangan dalam jangka tertentu, para peneliti khawatir bahwa informasi biologis yang berharga mungkin telah hilang.

Isu yang diperdebatkan secara politis tentang apakah virus itu bocor dari sebuah laboratorium di China juga membuat beberapa pekerjaan menjadi lebih sulit, kata Profesor Koopmans.

"Semua jalur penyelidikan relevan, namun ketika tuduhan bercampur dengan pertanyaan ilmiah, segalanya menjadi sangat sulit," ucapnya.

Namun, dalam laporan mereka tim WHO menyimpulkan bahwa meskipun tidak mungkin untuk menentukan bagaimana SARS-COV-2 pertama kali menginfeksi manusia, 'semua bukti yang ada' menunjukkan bahwa virus berasal dari hewan secara alami dan 'bukan virus yang dimanipulasi atau dibuat'.

Memicu kontroversi

Kerabat terdekat dengan SARS-COV-2, kata Prof Koopmans, adalah virus yang ditemukan pada kelelawar liar.

Tetapi tetap ada jeda waktu yang signifikan dalam evolusi virus itu menjadi virus yang menginfeksi manusia. Hal tersebut hanya dapat dijelaskan dengan mengambil sampel dari hewan yang mungkin berperan sebagai 'inang perantara'.

Namun, laporan itu sendiri telah memicu kontroversi yang terancam membayang-bayangi upaya ilmiahnya.

Tim peneliti pada dasarnya 'menilai' berbagai kemungkinan skenario asal-usul.

Kemungkinan besar, kata mereka, hewan ternak, barangkali spesies liar di peternakan, adalah 'inang perantara' antara kelelawar dan manusia. Dan kemungkinan virus itu bocor dari laboratorium di China 'sangat kecil'.

Tetapi, ini telah menyebabkan beberapa ilmuwan dan komentator mengatakan 'teori kebocoran lab' telah terbantahkan.

"Dalam retrospeksi, ungkapan itu kemungkinan sangat kecil, mungkin bukan cara paling cerdas untuk menjelaskannya, mengingat ini telah menjadi inti perdebatan," kata Prof Koopmans kepada BBC.

"Tapi itu sebenarnya tentang - dengan mempertimbangkan semua yang kami tahu, ke mana kami akan memprioritaskan (langkah ilmiah selanjutnya)," imbuhnya.

Tak sengaja dilepaskan

Kehebohan yang terus berlanjut atas teori kebocoran laboratorium berpusat pada Institut Virologi Wuhan (WIV), yang disinggahi tim WHO untuk mewawancarai para penelitinya.

"Jika kita berbicara tentang kecelakaan di laboratorium, maka mereka seharusnya masih memiliki virus yang sama persis di laboratorium itu supaya bisa tidak sengaja dilepaskan. Kami tidak menemukan indikasi itu," kata Prof Koopmans.

Namun, beberapa ilmuwan lain ingin memeriksa database virus yang dipegang oleh WIV, yang dihapus dari internet pada 12 September 2019.

Di tengah perdebatan tentang kebocoran laboratorium, Presiden Joe Biden memerintahkan intelijen AS untuk mengadakan penyelidikannya sendiri.

Tetapi laporannya tidak dapat menyimpulkan apakah virus itu muncul secara alami atau sebagai akibat dari kecelakaan di laboratorium, menurut media AS.

'Bakteri jahat'

Sementara itu, Prof Koopmans mengatakan kita mungkin tidak akan pernah menemukan 'patient zero' atau 'pasien pertama' dalam kasus pandemi COVID-19.

Namun, tanpa lebih banyak studi ilmiah, tak ada peluang untuk mencapai kesimpulan dari pertanyaan penting tentang bagaimana virus kelelawar bisa menyebabkan pandemi yang terus menyebabkan penyakit, kematian, dan kekacauan ekonomi di seluruh dunia.

"Kami harus benar-benar mencoba - tetapi tidak ada jaminan akan berhasil. Tapi yang perlu kita pelajari adalah bagaimana kita bisa mengenali mana yang benar-benar 'bakteri jahat'," katanya.

"Ada berbagai macam (virus kelelawar), jadi mana yang benar-benar berisiko tinggi? Dan bagaimana kita bisa mengenalinya? Itulah pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil dari studi ini," tutup Prof Koopmans.


Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Empati

Pasien Covid Tak Harus Meninggal, Cukup Terapi Multivitamin

Dokter Estetika Amira Farahnaz, sudah 18 bulan berkutat dalam menangani pasien Covid-19. Tingkat
berita-headline

Viral

Kepala Negara dan Diplomat Tak Perlu Tunjukkan Bukti Vaksinasi di Sidang PBB

Semua presiden, perdana menteri, dan diplomat yang akan mengikuti Sidang Majelis Umum Perserikata
berita-headline

Kanal

Belajar Daring Saat Pandemi Pengaruhi Penglihatan Anak-Anak

Sejumlah ilmuwan di Hong Hong mengklaim bahwa miopia, atau dikenal juga sebagai rabun jauh, menga
berita-headline

Viral

Penerima Vaksin Lengkap di Indonesia Kini Capai 36,3 Juta Orang

Penerima vaksinasi lengkap COVID-19 (dosis pertama dan kedua) di Indonesia hingga hari ini, Rabu
berita-headline

Viral

Menag Pastikan Program Vaksinasi untuk Santri Terus Berjalan

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas memastikan program vaksinasi untuk jutaan santri terus