Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

‘Ngeri-ngeri Sedap’ Saham-saham Batu Bara

Selasa, 13 Sep 2022 - 04:30 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
‘Ngeri-ngeri Sedap’ Saham-saham Batu Bara- inilah.com
(Foto: Inilah.com/Didik Setiawan)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang berjuang menggapai level tertingginya sepanjang sejarah. Pada saat yang sama, saham-saham batu bara terlihat ‘paling seksi’ di mata investor meski agak ‘ngeri-ngeri sedap’. Mengapa?

Pada perdagangan Senin (12/9/2022), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 11,808 poin (0,16%) ke posisi 7.252. Level intraday tertingginya di 7.276 atau menguat 33,764 poin dan terendahnya di 7.218,64 atau melemah 24,192 poin dari posisi pembukaan di angka positif 7.257,863 dan posisi akhir pekan lalu di 7.242.

Pengamat dan praktisi pasar modal Irwan Ariston Napitupulu mengatakan, berdasarkan daily chart, IHSG masih menunjukkan tren bullish. “Meskipun, angkanya sekarang sudah mendekati area resistance di highest 7.355 yang dicapai pada 11 April 2022. Resistance IHSG masih di-highest-nya itu,” katanya kepada Inilah.com di Jakarta, Jumat (9/9/2022) sore.

Menurut dia, support IHSG berada di 7.073. Namun, pengujian terakhir berada di 7.166 sebelum kembali naik. “Jadi, itu menjadi support pertama di 7.166 yang terjadi pada 6 September 2022. Dalam sepekan ke depan pun masih sama, 7.355 adalah resistance dan 7.166 sebagai support-nya,” ujarnya.

Anomali Kenaikan IHSG

Ia menilai kenaikan IHSG belakangan ini, agak sedikit anomali. Pada mulanya, dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negari, Irwan sempat memperkirakan indeks akan mengalami penurunan.

“Tapi, enggak kelihatan tuh. IHSG tetap kokoh, masih tetap kuat,” timpal Ariston.

Arah IHSG sepekan ke depan, menurutnya, tinggal bagaimana kondisi demonstrasi penolakan terhadap kenaikan harga BBM.

“Semoga tidak berkepanjangan. Saya duga tidak berkepanjangan. Mudah-mudahan enggak melebar ke mana-mana. Kalau ini yang terjadi, IHSG seharusnya tetap positif,” ucapnya.

Anomali berikutnya adalah IHSG menguat di tengah tren kenaikan suku bunga di luar negeri. Bank Sentral AS, The Fed berencana menaikkan suku bunga acuannya pada pertengahan September ini.

Pasar Saham Mulai Menerima Kenaikan Inflasi dan Suku Bunga

“Saya melihat, orang sudah mulai menerima situasi inflasi dan kenaikan suku bunga The Fed yang sudah terjadi beberapa kali,” ungkap Irwan.

Apalagi, ia menegaskan, sejumlah data ekonomi makro di AS sejauh ini masih menunjukkan belum mengarah ke resesi. Hal ini terlihat dari data pengangguran yang rendah dan angka-angka lain yang masih positif.

Begitu juga dengan Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang juga cenderung positif karena menunjukkan angka yang masih tinggi walaupun inflasinya juga masih tinggi. “Inflasi yang tinggi ini bisa dimaklumi karena harga energi minyak dan batu bara tinggi,” papar dia.

Pasar Saham Juga Sudah Menerima Kenaikan Harga Minyak

Setelah pandemi COVID-19 selama dua tahun, ekonomi dunia diwarnai dengan harga-harga energi yang naik tinggi. Itu terjadi lantaran permintaan yang naik secara tiba-tiba dan suplai yang terganggu gara-gara meletusnya Perang Rusia-Ukraina.

Sementara negara-negara di Timur Tengah enggan mem-boosting alias menggenjot produksi minyak mereka karena harus hati-hati. “Mereka takut harga (minyak) anjlok lagi,” ucapnya.

Sebab, pada saat pandemi, harga minyak sempat minus seiring permintaan yang merosot tajam. Itu terjadi karena banyak kebijakan lockdown dan pembatalan rute penerbangan di beberapa negara.

Baca juga
Elkan Baggot Resmi Berseragam Cheltenham Town FC, Klub Liga Satu Inggris

Akibatnya, sumur-sumur yang berproduksi, tidak bisa ditutup dalam waktu singkat. Cadangan minyak pun melimpah sehingga terpaksa harus dijual di harga berapapun alias at any price, termasuk harganya minus.

“Yang membeli minyak, malah dikasih duit. Jadi, waktu itu begitu kejadiannya karena minyak tidak boleh dibuang ke laut. Dibuang ke negara lain, sudah penuh. Yang mau nampung akhirnya dibayar. Itulah yang menjadi penyebab harga minyak sempat minus,” ungkap Irwan.

Kerugian negara-negara produsen minya di Timur Tengah saat pandemi itu harus dikonpensasi dengan kenaikan harga minyak saaat ini. “Meski begitu, Timur Tengah tidak dapat menggenjot harga di atas US$100 per barel, melainkan hanya menjaga supaya menutupi kerugian akibat lockdown itu,” timpal dia.

Karena itu, kenaikan harga minyak masih bisa diterima oleh pasar. “Pascapandemi, orang-orang sudah bosan tidak ngapa-ngapain. Mereka pun mulai traveling, mulia belanja,” tuturnya.

Saat lockdown, masyarakat tidak membeli baju dan sepatu karena mau dipakai ke mana. “Setelah dua tahun, bisa saja sepatu sudah rusak dan pakaian sudah ganti mode dan lain sebagainya. Melalui traveling ini, mereka ingin terlihat berbeda dengan sepatu baru. Karena itu, kenceng naiknya. Itu yang saya lihat,” ujarnya.

Inflasi Tinggi Terbayar oleh Kuatnya ‘Nafsu’ Belanja

Karena itu, menurut Irwan, tren inflasi global yang tinggi masih tertutup oleh nafsu belanja yang masih kuat. Sampai kapan nafsu belanja bisa diredam, itu tergantung pada bank-bank sentral di dunia yang akhir-akhir ini sedang berjuang melawan inflasi.

Yang terbaru, The European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga acuannya 0,75%. Kenaikan tertinggi sepanjang sejarah. “Begitu juga dengan Inggris dan AS yang akan kembali menaikkan suku bunga acuannya,” ucapnya.

Suplai Energi Rusia Berhenti, Batu Bara ‘Dihajar’

Menurut Irwan, harga batu bara saat ini sudah terhitung tidak wajar karena berada di atas US$400 per metrik ton. Padahal, saat krisis dunia 2008, harganya mencapai hanya US$200-an. “Itu gara-gara Rusia menyetop suplai energi dari negaranya sehingga terganggu,” kata dia.

Di banyak negara, orang-orang mulai menghidupkan kembali pabrik-pabrik mereka dengan bahan bakar batu bara. Padahal, ini sempat dijauhi karena alasan ekonomi hijau. “Sekarang, itu terbuka lagi sehingga akhirnya permintaan batu bara naik,” ujarnya.

Penggunaan batu bara untuk mengonpensasi suplai energi yang terganggu dari rusia, seperti minyak, gas, dan segala macam. “Enggak tahu ini terjadi sampai kapan. Ini tergantung Rusia sampai kapan akan menghentikan suplainya, kita enggak tahu,” tukasnya.

Semua negara sama-sama tidak tahu sehingga kompak ‘hajar-hajaran’ menggunakan batu bara.

Indonesia Diuntungkan dengan Kenaikan Harga Batu Bara

Berhentinya suplai energi dari Rusia membuat Eropa bermasalah. Bagi Indonesia, ini justru positif, karena Eropa mengonpensasinya sebagian suplai energi mereka dengan batu bara.

Akibatnya, harga batu bara Indonesia tetap tinggi. “Kita kan penghasil batu bara terbesar sehingga mendapatkan keuntungan. Di tengah tingginya harga batu bara, Indonesia merupakan penghasil batu bara terbesar dunia sehingga mendapat efek samping positif,” beber Irwan.

Baca juga
Laga Indonesia Vs Kamboja, Suporter: Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan

Saham-saham batu bara di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun terus merangsek naik.

Sejauh ini, Rusia masih menjual minyak dengan harga diskon, meski Indonesia tidak mengambil. Rusia menjualnya ke India. “Saya menduga, dari India juga akan masuk ke negara-negara lain dengan diskon. Ada pasar gelapnya lah, saya menduga ada mafia-mafianya. Saya menduga ya,” ungkap dia.

Kondisi tersebut otomatis harga minyak tertekan turun. “Ngapain saya beli minyak US$100 per barel kalau bisa mendapatkannya US$85 per barel. Kalau misalnya, diskon 30% berarti harga minyak US$70 per barel dan bagian dia US$15 per barel,” papar dia.

Karena itu, ada potensi harga minyak dunia tertekan turun secara perlahan. “Tapi, penurunan harga minyak tidak terlalu berdampak negatif untuk Indonesia karena status Indonesia sudah net importir. Justru malah bagus seharusnya,” timpal dia.

Saat Harga Minyak Turun, Belum Tentu Batu Bara

Irwan melihat, tren penurunan harga minyak dari angka tertingginya ke bawah US$90 per barel belum diikuti dengan penurunan harga batu bara. “Karena itu, kita tetap benefit,” katanya.

Sementara di Inggris cenderung berkurang aktivitas warganya karena berkabung seiring wafatnya Ratu Elizabeth II. Apalagi, Perdana Menteri Inggris memebrikan subsidi kepada pengguna gas untuk memasuki musim dingin.

“Itu semacam BLT (Bantuan Langsung Tunai)-nya di kita. Terbantu, makro disuntik oleh duit supaya daya beli enggak berkurang. Itu akan menjaga momentum sehingga nilai poundsterling terhadap dolar AS juga menguat,” papar dia.

Dalam sepekan ke depan, ada bayak hal yang berpengaruh ke pasar sehingga volatilitas IHSG juga berpeluang meningkat.

Salah satunya, sentimen dari peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat FOMC 20-21 September 2022. “Ini pengumumannya pada 22 September WIB subuh,” ucapnya.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed sudah dipastikan 99%. “Yang ditunggu orang adalah selanjutnya bagaimana. Besaran 50 basis poin (bps) atau 75 bps, tergantung pada data-data yang rilis sebelumnya,” ujarnya.

Bagi Irwan, kenaikan suku bunga 0,50% atau 0,75% tidak terlalu berpengaruh. “Itu karena memang harus naik, dan naiknya pun tidak cukup sekali. Kalau perlahan, juga toh nantinya akan naik tinggi juga. Ada juga yang berpikiran, lebih cepat lebih bagus,” imbuhnya.

Saham-saham Pilihan di Sektor Batu Bara

Dengan tingginya harga batu bara, saham-saham pertambangan batu bara menjadi murah dari sisi Price Earnings Ratio (PER). Sebab, laba bersihnya kompak meningkat. Ini wajar terjadi karena harga komoditas batu bara yang sedang tinggi-tingginya.

Akan tetapi, Irwan mewanti-wanti, ini jangan dilihat sebagai situasi normal. Mungkin tahun depan, harganya bisa melemah ke bawah US$200 per metrik ton. “Sebelumnya, harga batu bara sempat di bawah US$70 per metrik ton sebelum pandemi. Harus waspada,” tuturnya.

Jika tiba-tiba terjadi perdamaian Rusia-Ukraina dan AS-Eropa tidak mem-block Rusia, meskipun kecil kemungkinannya, saham-saham batu bara berpeluang kembali anjlok. “Probabilitasnya di bawah 1% saat ini,” sambung Irwan.

Baca juga
Foto: Inilah Ekspresi Tersangka Pembunuh Polisi

Di kuartal III-2022, laba bersih emiten-emiten batu bara cenderung sama tinggi dengan kuartal II. Laporan keuangan mereka akan dirilis pada akhir Oktober 2022. “Pengumannya akan menunjukkan ‘laba meningkat-laba meningkat’ dibandingkan tahun lalu,” ungkap dia optimistis.

Di atas semua itu, dia menyodorkan beberapa saham batu bara pilihan sebagai bahan pertimbangan para pemodal. “Dengan PER yang rendah, PTBA, ADRO, INDY, dan ITMG, saham-saham itu menjadi sexiest (paling seksi),” ucapnya tandas.

  1. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

PER PTBA berada di kisaran 4 kali di harga saat ini. Padahal, untuk saham-saham tambang batu bara, berada di kisaran PER 7-8 kali. Hanya saja, orang tidak berani memberikan PER 7-8 kali.

Sebab, orang tahu harga batu bara US$400 per metrik ton itu bukan sesuatu yang bersifat permanen. “PER di kisaran 5-5,5 kali masih dapat seharusnya. Peluang kenaikan harganya hingga Rp5.000 per saham masih kelihatan,” ujarnya.

  1. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)

Begitu juga dengan ADRO dengan PER 3,5 kali. Ini terhitung rendah karena sebelumnya berada di kisaran 5-5,5 kali sebelum rilis laporan keuangan kuartal II-2022. “Target harga Rp5.000 ada peluang untuk ADRO,” kata Irwan.

  1. PT Indika Energy Tbk (INDY)

INDY memiliki PER di level 2,7 kali. “Kemungkinan saham ini menguat ke Rp4.000 per unit saham. Hanya penguatan itu tidak langsung. Sebab, di ketinggian orang cenderung ‘ngeri-ngeri sedap’,” tuturnya seraya berseloroh.

  1. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

ITMG memiliki peluang penguatan ke Rp50.000 hingga Rp60.000 per unit saham dengan PER 5 kali dari PER saat 3,6 kali. “Saya harus diskon karena itu tadi, harga batu bara di US$400-an per metrik ton tidak permanen,” timpal dia.

Cocok untuk Buy on Weakness

Menurut dia, saham-saham tersebut menarik orang untuk masuk dengan mencari-cari level yang cocok untuk buy on weakness. “Setiap ada penurunan menjadi kesempatan untuk buy. Sebab, harga batu bara internasional masih kuat,” ucapnya.

Masalahnya, harga saham-saham batu bara saat ini bukan di harga rendah secara teknikal melainkan di dekat-dekat puncak. Karena alasan inilah cocoknya Buy on Weakness.

Ia menyarankan, dengan stochastic di bawah 20, para pemodal bisa masuk di saham-saham itu karena hingga akhir Oktober harganya masih cenderung naik.

“Jika melihat chart-nya, tren saham PTBA terus naik seperti anak tangga. Kalau mau trading, polanya seprti itu saja untuk saham-saham batu bara,” demikian Irwan memberikan saran.

Disclaimer: Pelajari dengan teliti sebelum membeli atau menjual saham. Inilah.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor.

Tinggalkan Komentar