Nurjadid, Cahaya Pembaharuan dari Gunung Sampah Bantargebang

Nurjadid, Cahaya Pembaharuan dari Gunung Sampah Bantargebang - inilah.com

Saung Galing
nama pemuda itu. Usianya 28 tahun. Ia lahir 23 Maret 1993. Saat mendengar kisahnya
dari salah satu wartawan saya di inilahcom, Willi, saya langsung teringat sosok
almarhum Bang Tato, seorang mantan preman yang memutuskan berhijrah dan
membangun pesantren untuk anak-anak yatim. Saya tulis bukunya dengan judul
Hijrah Bang Tato, diterbitkan Bentang Pustaka 2017 lalu. Buku itu sempat menjadi
best-seller dan hak ciptanya dibeli sebuah rumah produksi untuk diangkat ke
layar lebar. Tetapi sayang, dalam proses penulisan skenario naskahnya, Bang
Tato lebih dulu dipanggil ‘pulang’ karena satu kecelakaan.

Hampir dua
tahun sejak kepergian Bang Tato, saya bertemu sosok ini, Saung Galing. Kisah
hidup dan semangatnya seperti almarhum Lalan Maulana alias Bang Tato. Sebelum
hijrah, Saung adalah anak Punk yang hidup di jalanan. Masa-masa itu melewati
gelap dan suram kehidupan. Beruntung hidayah Allah cepat datang kepadanya, 11 tahun
lalu, saat usainya menginjak 18 tahun, ia memutuskan untuk berhijrah dan mulai
membangun sebuah ‘pesantren’, gubuk tempat anak-anak belajar membaca dan
mengaji. Nurjadid nama pesantren itu.

Nurjadid
terletak di tengah gunungan sampah Bantargebang. Tepatnya di Kampung Ciketing
RT 003/RW 003, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.
Di sana Saung membangun sebuah tempat yang ia sebut pesantren itu, kini
santrinya 250 orang, tetapi bangunan tempat belajar yang ia mulai 10 tahun lalu
belum juga selesai. Saung tak punya biaya yang cukup untuk menyelesaikan
pembangunan pesantrennya, sehari-hari ia bekerja sebagai seorang buruh
bangunan.

Saat diceritakan
Willi tentang sosok Saung. Saya tertegun. Betapa malu saya sebagai santri belum
bisa membangun pesantren sendiri. Sementara pemuda ini, Sawung Saung, meski
orang melihatnya hanya berprofesi sebagai buruh bangunan, dengan impian dan
tekadnya sudah mendirikan sebuah pesantren yang ia dedikasikan untuk anak-anak
yatim dan terlantar di Bantargebang. “Wil, saya mau bertemu orang ini. Saya mau
bantu.” Ujar saya. Selama beberapa tahun terakhir, Willi dan teman-teman komunitasnya,
Komunitas Nusa Terindah Toleransi, sudah membantu Saung dan pesantrennya dengan
mengajar dan meringankan beban mereka di sana.

Peran Willi
ini membuat saya lebih malu lagi—tetapi sekaligus kagum. Willibrodus dan
teman-temannya di Komunitas NTT bukan Muslim, tetapi penuh ketulusan mereka
membantu Saung mendirikan pesantren dan membuat Nurjadid terus berdiri dan beroperasi.
“Awalnya saya malu, Mas. Karena saya bukan Muslim. Apakah kira-kira bisa
membantu pesantren?” Tanya Willi. Saya menggelengkan kepala. “Wil, kamu dan
teman-temanmu hebat!” Puji saya sambil menepuk pundaknya.

Sejak itu,
saya meminta teman-teman inilahcom untuk bergerak. Membantu sekuat tenaga agar
pembangunan pesantren ini yang tak kunjung selesai selama 10 tahun terakhir
segera rampung. Saung Galing dan teman-temannya membutuhkan dana Rp150 juta
untuk menyelesaikan pembangunan pesantren, membuat dapur tempat para santri
memasak dan makan, membuat pagar di lantai dua, serta membeli matras dan lemari
untuk para. “Wil, kita sukseskan ini. Kamu dan teman-teman Komunitas NTT tetap
di garda depan. Saya dan yang lain bantu sampai ini berhasil.” Janji saya.
Willi pun bersemangat.

Baca juga  Maulid Nabi, Melahirkan Sifat Muhammad

‘Nurjadid’,
betapa nama itu indah di mata dan telinga saya. Tersusun dari dua kata, ‘nur’
yang berarti cahaya dan ‘jadid’ yang berarti baru. Saya terkesan bagaimana Saung
menemukan nama untuk pesantrennya. Nama ini seolah menjadi monumen untuknya
menemukan cahaya baru dalam hidup. Sekaligus menjadikan cahaya itu harapan
untuk orang lain di Bantargebang. Ia sedih melihat anak-anak kecil tak memiliki
pengetahuan agama dan keterampilan yang cukup, ia tak ingin anak-anak itu
melewati masa suram sepertinya yang harus menjadi anak jalanan dulu sebelum
menemukan pencerahan hidup.

Sebagaimana
bisa kita bayangkan, kehidupan di perkampungan sekitar Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) Bantargebang pasti sulit dan penuh tantangan. Konon di sana banyak bayi
yang dibuang begitu saja karena orangtua mereka tak bertanggung jawab. Boleh
jadi bayi-bayi itu pada akhirnya dirawat warga, tetapi kehidupannya belum tentu
terjamin. Di sana banyak anak-anak ditinggalkan orangtuanya untuk pergi memulung
atau mengemis. Kehidupan anak-anak di sana sulit, pergaulan mereka di kawasan kumuh
Bantargebang sangat mengkhawatirkan.

Kegelisahan
itu begitu mengganggu Saung. Setelah hijrah, ia bertekad membangun sekolah dan
pesantren. Ia ingin anak-anak di Bantergebang bisa belajar membaca, menulis dan
mengaji. Setidaknya semua itu yang akan menyelamatkan mereka, karena sebagian
besar di antara mereka tak punya biaya untuk sekolah.

Ini adalah
cerita Saung Galing, Nurjadid dan Komunitas Nusa Terindah Toleransi. Tiga hal
yang begitu kuat beresonansi dalam diri saya dan mudah-mudahan Anda semua.
Saung diberi nama Saung Galing karena ia lahir di dalam saung beratap tali (biasa
disebut Galing) di tengah-tengah gunung sampah Bantargebang. Meski begitu,
kesungguhannya dalam berjuang, kejujuran dan keberaniannya seperti Adipati
Sawunggaling dari Surabaya. Perjuangannya selama 10 tahun membuktikan
kesungguhannya membangun Nurjadid untuk anak-anak Bantargebang. Ini sesuatu
yang luar biasa.

Baca juga  Yuk Bantu Ega, Masa Depannya Masih Panjang

Terlebih,
ada Komunitas Nusa Terindah Toleransi (NTT) di sana. Pemuda-pemudi yang rata-rata
berasal dari Nusa Tenggara Timur, meski tak semuanya Muslim, bersungguh-sungguh
membantu Saung Galing mewujudkan impiannya. Sementara saya dan teman-teman hanya
datang di tengah, terinspirasi dan tergerak oleh mereka semua. Kini kami ikut
menggerakkan orang dan menggalang dana untuk mewujudkan Cahaya Baru di tengah
Bantargebang itu.

Semoga Anda
semua ikut tergerak.

Tabik!



FAHD PAHDEPIE
, CEO Inilah.com