Optimisme PTM Terbatas dan Pencegahan Penularan Covid-19

Optimisme PTM Terbatas dan Pencegahan Penularan Covid-19 - inilah.com

Pembelajaran Tatap Muka atau PTM sudah dimulai di sebagian kecil sekolah. Namun penularan Covid-19 di sekolah masih terjadi dan dapat dikendalikan dengan penelurusan dan tes kepada warga sekolah serta penutupan sekolah sesuai dengan ketentuan.

Secara umum, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yakin kesiapan sekolah menjalankan protokol kesehatan sudah baik sehingga pembelajaran tatap muka terbatas yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga sekolah tetap bisa berjalan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemdikbudristek Jumeri baru ini mengatakan, masih ada siswa dan guru terpapar Covid-19 karena situasi pandemi belum selesai. Saat ini, kasus aktif yang dilaporkan terjadi di satuan pendidikan adalah sebanyak 222 pendidik dan tenaga kependidikan serta 156 siswa.

Baca juga  Cerita Nakes Usai Vaksin Booster

Namun, belum tentu semua kasus terjadi di sekolah karena ada juga yang terjadi ketika siswa menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah. Pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah bersifat terbatas, maksimal separuh kapasitas kelas dan sekolah. Pelaksanaan PTM terbatas pun tidak bisa murni tetap harus dipadukan dengan PJJ. Orangtua yang memilih anaknya untuk tidak mengikuti PTM terbatas tetap mengikuti pembelajaran dari rumah.

”Saya baru dari Padang Panjang, ada sekolah  yang terjadi penularan Covid-19, kini tinggal 28 siswa yang positif dan diisolasi. Ada pula di Purbalingga di dua sekolah, setelah dites ada 28 orang yang positif di sana,” kata Jumeri.

Jumeri mengingatkan, risiko penularan Covid-19 masih ada, baik saat di sekolah maupun di luar sekolah. Akan tetapi, PTM terbatas harus terus didorong secara bertahap dan masyarakat perlu terus diyakinkan untuk mengizinkan anak-anak ke sekolah.

Baca juga  Pemerintah Klaim Kasus Aktif Covid-19 Turun Signifikan

”Kalau terus mempertahankan PJJ, terjadi kesenjangan capaian belajar antara anak dari keluarga mampu dan tidak mampu ataupun daerah terpencil dan perkotaan. Kesenjangan mutu capaian pembelajaran akan semakin lebar,” ujar Jumeri.

Pembukaan sekolah, ujar Jumeri, menjadi kewenangan pemerintah daerah. Meskipun Kemdikbudristek terus mendorong sekolah di daerah dengan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1-3 untuk mulai menggelar PTM terbatas, pemerintah daerah tetap memiliki berbagai pertimbangan.

Ada daerah aglomerasi (yang bergandengan dangan daerah lain yang masih PPKM level 4), ada daerah yang memandang perlu memeriksa sekolah dan memastikan pemenuhan protokol kesehatannya, dan ada daerah yang melakukan pembukaan bertahap.

Baca juga  DPR Pertanyakan Keputusan Penumpang Pesawat Harus PCR Lagi

”Kami setuju dengan kehati-hatian daerah karena kesehatan warga sekolah nomor satu. Kami yakin dengan pemda sudah satu frekuensi,” kata Jumeri.

Secara terpisah, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Darmadi mengatakan, prinsip kebijakan pendidikan pada masa pandemi adalah kesehatan dan keselamatan warga sekolah/kampus.

”Bagi sekolah di daerah dengan PPKM level 4 jelas tidak diperbolehkan PTM. Tapi, yang di level 1-3 diperbolehkan. Di level 3, tentu risiko penularan masih cukup tinggi sehingga harus hati-hati,” kata Sonny.

Sonny mengingatkan, setiap institusi pendidikan yang membuka PTM terbatas diminta memiliki Satgas Penanganan Covid-19, selain membuat prosedur standar operasi (SOP) protokol kesehatan, mengawasi, dan menangani jika ada kasus.

Tinggalkan Komentar