Sabtu, 28 Mei 2022
27 Syawal 1443

Padi Gogo Jadi Solusi Menko Airlangga Ubah Lahan Kering Jadi Produktif

Menko Airlangga Ubah Lahan Kering Jadi Produktif - inilah.com
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyaksikan langsung panen perdana Padi Gogo di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung, Sabtu (12/2/2022). Foto: Kemenko Perekonomian

Budidaya Padi Gogo menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan ketersediaan konsumsi pangan di Tanah Air. Untuk itu, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong optimalisasi budidaya Padi Gogo di berbagai daerah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal tesebut saat menyaksikan langsung panen perdana Padi Gogo di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Kegiatan ini merupakan rangkaian kunjungan kerjanya di provinsi tersebut.

“Kami mengapresiasi panen perdana Padi Gogo ini yang tentunya menggunakan sentuhan teknologi dan uji coba. Harapannya Padi Gogo ini dapat terus memberikan hasil yang positif dan dapat terus berkembang, terutama di lumbung pangan yang airnya terbatas,” kata Menko Airlangga di Tulang Bawang, Lampung, Sabtu (12/2/2022).

Menko Airlangga Ubah Lahan Kering Jadi Produktif - inilah.com
Foto: Kemenko Perekonomian

Turut hadir Gubernur Lampung, Anggota DPR RI, Aburizal Bakrie, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Ketua DPRD Kabupaten Tulang Bawang Barat, Bupati Tulang Bawang Barat, dan jajaran Forkopimda Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Baca juga
Dua Program Perlindungan Pekerja, Inilah Rincian Manfaat JHT dan JKP

Panen perdana yang merupakan proyek penelitian Padi Gogo milik PT Huma Indah Mekar (HIM) ini mampu menghasilkan sebanyak 5,3 ton per hektar dengan lahan seluas 84 hektar.

Komitmen pada Ketahanan Pangan Nasional

Padi Gogo merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian pada ketahanan pangan nasional. Sebab, sektor pangan mempunyai peran yang vital bagi kehidupan suatu bangsa.

Keseriusan pemerintah dalam memperhatikan ketahanan pangan ini terbukti dengan sektor pertanian yang tetap mampu resilience di masa pandemi. Sektor pertanian juga menjadi sektor yang berperan besar dalam menopang ketahanan pangan nasional. Lihat saja, sektor pertanian berhasil tumbuh positif 2,08% (yoy) pada triwulan IV-2021.

Dalam Agenda Pembangunan Nasional tahun 2022-2024, pemerintah juga tengah memprioritaskan program peningkatan ketersediaan, akses, serta kualitas konsumsi pangan. Padi Gogo menjadi bagian dalam prioritas tersebut. Sebab, ini merupakan jenis padi yang dapat ditanam pada areal lahan kering atau biasa disebut dengan padi tegalan. Budidaya Padi Gogo juga menjadi solusi dalam pemanfaatan bekas lahan perkebunan dan dapat diaplikasikan di daerah bercurah hujan rendah.

Baca juga
Catatan Menko Airlangga: 218 Proyek Infrastruktur Prioritas di Jatim, 118 Masih Perencanaan

Berbagai provinsi di Indonesia telah melakukan budidaya Padi Gogo, salah satunya adalah Provinsi Lampung. Sebagai Provinsi yang termasuk dalam urutan ke lima produsen padi nasional, adanya budidaya Padi Gogo mendorong peningkatan jumlah produksi padi dan ketersediaan pangan di wilayah tersebut.

Berdasarkan rilis data dari Badan Pusat Statistik, produksi padi Provinsi Lampung pada tahun 2021 tercatat sebesar 2.472.587 ton Gabah Kering Giling (GKG) dan mempunyai share sebesar 4,47 % terhadap produksi nasional yang mencapai 55.269.619 ton GKG dengan produktivitas 50,40 kw/ha. Khusus Kabupaten Tulang Bawang Barat, produksi padi pada pada tahun 2020 mencapai sebanyak 30 ribu ton GKG.

Baca juga
Foto: Harga Gula Pasir Tembus Rp15.000 per Kilogram
Menko Airlangga Ubah Lahan Kering Jadi Produktif - inilah.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Kemenko Perekonomian

Pada kesempatan tersebut, Menko Airlangga mendorong Pemerintah Daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk membangun pertanian dari hulu hingga hilir. Tujuannya, agar pertanian lebih berdaya saing dengan produktivitas tinggi.

Selain itu, lanjut Menko, penggunaan benih unggul dan pengaplikasian mekanisasi pertanian bermuara pada swasembada pangan dan berkontribusi positif bagi perekonomian nasional.

“Indonesia sebetulnya dalam 3 tahun terakhir kita tidak pernah impor beras. Jadi, sebenarnya kita dalam 3 tahun terakhir swasembada beras. Dan bahkan sekarang beras kita relatif aman, kita akan masuk musim panen yang bisa mendapatkan 14 sampai 15 juta ton. Kita juga sudah mendapatkan permintaan negara lain untuk impor beras dari Indonesia,” imbuh Menko Airlangga.

Tinggalkan Komentar