Jumat, 27 Mei 2022
26 Syawal 1443

Pakar Bongkar Kegaduhan Buzzer Cebong-Kampret dan dari Mana Mereka Berasal

T 5cbd5b24210a9 700 - inilah.com
ilustrasi (inzone)

Pakar media sosial dari Drone Emprit Ismail Fahmi pada minggu (17/04/2022) merilis hasil analisa dari popularitas percakapan yang mengandung panggilan cebong dan kampret. Terhitung sejak 1 Juli 2015 sampai sekarang di Twitter.

Berdasarkan catatan Ismail Fahmi yang telah mempersilakan inilah.com untuk mengutip penjelasannya saat dihubungi pada Senin (18/04/2022) tradisi penyebutan kelompok dengan nama tertentu ini dimulai oleh panggilan ”cebong” dari pendukung Prabowo terhadap para pendukung Jokowi sejak Agustus 2015.

Cebong merupakan sebutan yang merujuk kepada para pendukung Jokowi (Joko Widodo). Selama ini istilah “cebong” terinspirasi oleh kodok yang Jokowi lepas di kolam Istana Bogor pada 3 Januari 2016, meskipun sebelumnya istilah itu sudah digunakan.

Ismail Fahmi menelusuri melalui Drone Emprit diketahui ada lima top influencer yang paling populer dalam penyebutan cebong. Mereka adalah @RestyCayah, @TanYoana, @RajaPurwa, @anonLokal dan @ekowBoy.

Sementara itu, temuan tren kampret merupakan balasan atas panggilan cebong. Sebutan kampret ramai pendukung Prabowo gaungkan selain juga istilah yang banyak akun-akun K-Pop pakai.

Baca juga
So Sweet, Kang Emil Payungi Sang Istri saat Sambangi Kediaman Airlangga

Top 5 influencer akun yang sering menyebut kampret yakni @ch_chotimah, @Dennysiregar7, @laskar_minang, @TheArieAir dan @p3nj3l4j4h.
Selain itu, muncul lagi istilah baru yakni ‘kadrun’ alias Kadal Gurun untuk merujuk ke klaster kontra dari pendukung Jokowi.

Dalam penelusurannya, Ismail menjelaskan istilah kardun merujuk pada pendukung Prabowo.

Ismail menyebut istilah kadrun pertama kali ada oleh cuitan @kebo_mangkrak dan @Manuputty1101 pada Januari 2018 kemudian istilah tersebut banyak juga  @SiharMHSitorus cuitkan.

Dalam data yang terkumpul selama 7 tahun tersebut panggilan cebong dan kampret sampai pada puncaknya terjadi pada April 2019, yaitu  saat Pemilihan Presiden.

Pasca Pilpres 2019, istilah Kadrun masih kuat terpakai oleh kluster pendukung Jokowi. Lima influencer yang aktif menggunakan istilah kadrun yakni @DennySiregar7, @ChusnulCh_ @ch_chotImah, @AnakKolong_ dan @Chandraasmara85. Selain itu, Ismail dalam Thread-nya di Twitter juga mengungkap 60 akun influencer yang kerap menggunakan istilah kardun.

Baca juga
Pujian Setinggi Langit untuk JIS, Stadion Kebanggaan Jakarta Bertaraf Dunia
Fqhqj61vkaaae7n - inilah.com
60 akun influencer cebong

“Total terdapat 354 ribu lebih akun yang aktif dalam percakapan me-mention ‘kardun’. Akun dengan follower 0-3 sebanyak 123,74 persen. Ada 45 akun dengan follower1 juta lebih,” sebut Ismail.

Buzzerp

Satu istilah populer lainnya di media sosial yakni buzzerp. Istilah ini populer pertama kali oleh @Dandhy_Laksono dan @HokGie pada 2 Agustus 2019 untuk menyoroti serangan buzzer terhadap sexy killers.

Setahun terakhir, istilah buzzerp kemudian memiliki turunan variasi yakni ‘buzzerRp’. Mereka yang menggunakan istilah baru itu Ismail menyebut berasal dari kalangan oposisi dan aktivis.

Mereka yang kerap menyebut sebagai buzzerRp adalah sebagai buzzer bayaran. Akun yang banyak mendapat respon ketika me-mention buzzerRp adalah @msaid_didu, @podoradong, @Dandhy_Laksono, @RamliRizal dan @PutraWadapi.

Dalam periode satu tahun terakhir,atau pasca Pilpres yakni sejak Januari 2021 hingga April 2021, tradisi saling menyebut kelompok netizen dengan panggilan tersebut masih terus berlangsung. Polarisasi berlabel nama-nama ini terus berjalan.

Baca juga
Penanganan COVID-19 Dikritik, Luhut: Pemerintah Nggak Bodoh

“Semakin sering panggilan-panggilan ini, semakin polarisasi jadi besar dan terus terjaga. Berdasarkan data 1 tahun terakhir, penyebutan ‘kadrun’ yang paling besar kontribusinya.”

“Pasca pilpres sebutan ‘kadrun’ yang paling sering dilakukan (54%). Sisanya untuk sebutan ‘kampret’, ‘buzzeRp’, ‘buzzerRp’, dan ‘cebong’,” sebut Ismail.

“Saya pribadi berharap para influencer, buzzer, fans, dan pendukung yang namanya ada dalam SNA kadrun, kampret, buzzeRp, buzzerRp, dan cebong, bersedia mengurangi volume suara panggilan yang berdampak negative bagi persatuan NKRI kita tercita ini,” ujar Ismail dalam penutup penelitiannya.

Tinggalkan Komentar