Sabtu, 21 Mei 2022
20 Syawal 1443

Pakar: Gempa Nias Merupakan Subduksi Segmen Siberut

Gempa Nias
(ilustrasi)

Pakar gempa Universitas Andalas (Unand) Dr Badrul Mustafa Kemal menyebut bahwa gempa yang terjadi di Nias Selatan pada Senin (14/3/2022) pagi tadi merupakan subduksi segmen Siberut yang beririsan dengan segmen megathrust Mentawai.

“Walaupun di segmen ini terjadi kekosongan seismik, namun berdasarkan prediksi saintifik akan terjadi gempa sebagai pelepasan energi yang terakumulasi selama lebih 200 tahun sejak 1797 pada segmen itu,” kata Badrul di Padang, Sumatera Barat, Senin.

Menurut dia, tidak ada yang tahun apakah gempa tersebut jadi pembuka untuk menuju gempa yang lebih besar.

Badrul mengatakan belum ada ilmu dan alat teknologi yang dapat memprediksinya. Bisa saja energi yang terakumulasi di zona kosong segmen Siberut ini di lepas dengan kekuatan sedang, yaitu Magnitudo 6,0 hingga 7,0 selama 10 sampai 20 tahun ini.

Baca juga
Muncul SPDP, Polda Jabar: Bahar Masih sebagai Saksi

“Ini tentu yang kita harapkan. Biarlah agak sering terjadi, tapi tidak terlalu kuat sehingga tidak menimbulkan kerugian,” katanya.

Namun, jika gempa tersebut merupakan gempa pendahuluan, maka masyarakat harus terus meningkatkan kesiapsiagaan.

“Kita harus terus berlatih menghadapi gempa yang sangat kuat di megathrust Mentawai ini, sekaligus menghadapi kemungkinan timbulnya tsunami,” katanya.

Ia berharap semoga pemerintah bersama aktivis pengurangan risiko bencana kembali menyiapkan masyarakat untuk ini.

Badrul menjelaskan di Pulau Sumatera, terdapat pergerakan lempeng Indo-Australia menabrak dan menujam ke bawah lempeng Eurasia menghasilkan rangkaian busur pulau depan atau zona prismatik akresi yang non-vulkanik, di antaranya Kepulauan Nias dan Mentawai.

Baca juga
Sepanjang Oktober, BMKG Catat 844 Kali Aktivitas Gempa

Subduksi ini kemudian menghasilkan potensi gempa kuat dan sangat kuat. Di darat ia juga menghasilkan potensi gempa tektonik, di antaranya gempa Talamau di Pasaman yang baru saja terjadi dengan kekuatan Magnitudo 6,1 pada 25 Februari 2022.

Subduksi yang menghasilkan megathrust Mentawai, terbagi ke dalam dua segmen, yakni segmen Siberut dan Sipora-Pagai.

Pada kedua segmen ini terdapat potensi gempa sangat kuat dengan periode ulang antara sekitar 200-300 tahun.

Segmen Sipora-Pagai telah terjadi periode ulangnya setelah 1833, dengan terjadinya rangkaian gempa 12 September 2007 (Magnitudo 8,4), 13 September 2007 (Magnitudo 7,9 dan 7,2), dan 25 Oktober 2010 (Magnitudo 7,4).

Baca juga
Jabar Juara PON XX, Ridwan Kamil: Ini Penantian 70 Tahun

Yang terakhir pada 25 Oktober 2010 menimbulkan tsunami, karena terpenuhinya syarat terjadinya, yakni yang episentrumnya persis di patahan naik, barat daya Pagai Selatan.

Tinggalkan Komentar