Sabtu, 28 Mei 2022
27 Syawal 1443

Pakar Kesehatan Ungkap Puasa Berpeluang untuk Berhenti Merokok

puasa berhenti merokok
Unsplash

Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara menjelaskan bagi para perokok dan menjalankan puasa, hal ini sangat baik karena bisa menjadi momentum untuk berhenti merokok.

Sehubungan dengan bulan puasa tahun ini, WHO Eastern Mediterranean Regional Office (EMRO) memberi beberapa anjuran penting dalam bulan puasa ini, yaitu antara lain makan gizi yang seimbang, minum air yang cukup serta jangan merokok dan vaping.

Semua sepakat bahwa kebiasaan merokok berakibat buruk bagi kesehatan. Bagi kaum muslim yang berpuasa maka tentu tidak merokok sejak adzan subuh sampai maghrib.

“Akan baik sekali kalau teman-teman perokok yang berpuasa dapat melanjutkan untuk tetap tidak merokok di malam hari bulan puasa ini, dan menggunakan momentum bulan Ramadhan tahun ini untuk berhenti merokok sepenuhnya sesudah Idul Fitri nanti, demi kesehatan kita sendiri, keluarga kita, dan juga orang disekitar kita,” kata Tjandra Yoga Aditama kepada Inilah.com, Jakarta, Sabtu, (9/4/2022).

Baca juga
Temui Shin Tae-yong dan Ketum PSSI, Menpora Janji Kebut Naturalisasi Sandi Walsh dan Jordi Amat

Setiap hari di dunia ada lebih dari 4100 yang meninggal karena TB, dan hampir dari 28.000 orang yang jatuh sakit tuberkulosis.

Indonesia menduduki urutan ke tiga di dunia, pada tahun 2020 diperkirakan ada 93.000 jiwa meninggal akibat tuberkulosis dinegara kita, dan 824.000 orang jatuh sakit TB.

“Di sisi lain, di negara kita dilaporkan ada lebih dari 61,4 juta perokok, dengan prevalensi merokok sebesar 67,4 persen di antara pria dewasa. Kita tahu bahwa asap rokok mengandung ribuan bahan kimia dan berhubungan dengan berbagai penyakit di tubuh manusia, salah satunya terhadap tuberkulosis,” tambahnya.

Baca juga
TransJakarta Tutup Sementara 9 Halte Mulai 15 April 2022

Menurut WHO maka kebiasaan merokok meningkatkan kemungkinan terinfeksi TB,  dapat memperparah gambaran klinis, mempengaruhi masa pengobatan serta meningkatkan kemungkinan kekambuhan pula. Masalah TB dunia dapat menurun hingga 20 persen jika merokok dikendalikan dengan baik.

“Di dunia sekitar 0.73 juta kasus TB terkait dengan kebiasaan merokok. Di Indonesia, merokok merupakan faktor risiko TB yang utama setelah kekurangan gizi berdasarkan Global TB Report 2020. Data di Indonesia tahun 2018 menunjukkan ada 152 ribu pasien TB berisiko merokok,” paparnya.

Investasi dalam pengendalian tembakau tentu akan berperan besar dalam upaya bersama utuk eliminasi tuberkulosis di Indonesia, antara lain dalam dukungan upaya berhenti merokok bagi semua orang dengan TB, menciptakan Kawasan Tanpa Asap Rokok, dan Rumah Bebas Asap Rokok serta memasukkan terapi pengganti nikotin (NRT) bersama dengan konsultasi singkat dalam layanan penanganan tuberkulosis di fasilitas pelayanan kesehatan primer.[inu]

Tinggalkan Komentar