Selasa, 17 Mei 2022
16 Syawal 1443

Pakar Ungkap 4 Hal Penting Soal Pandemi jadi Endemi

Pandemi Jadi Endemi
Dokumentasi INILAH.COM/ Didik Setiawan

Mantan direktur WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, ada hal yang penting diperhatikan ketika membicarakan soal pandemi jadi endemi.

Tepat dua tahun pada 2 Maret 2022, Indonesia menjalani masa pandemi COVID-19. Hingga kini belum diketahui kapan pandemi akan berakhir. Karena itu, menurut Tjandra Yoga Aditama, ada beberapa hal yang menjadi perhatian ketika membicarakan soal pandemi jadi endemi:

1. Pandemi COVID-19 dinyatakan oleh DirJen WHO pada 11 Maret 2020

“Kalau nanti Pandemi COVID-19 selesai  maka akan ada lagi pernyataan resmi dari Direktur Jenderal WHO sesuai keadaan dunia ketika itu, yang kita belum tahu kapan akan terjadi. Hal ini sama dengan Pandemi H1N1 (2009) yang dinyatakan bermula pada 11 Juni 2009 oleh DirJen WHO waktu itu, dan dalam 1 tahun 2 bulan kemudian, pada 10 Agustus 2010 DirJen WHO menyatakan dunia sudah memasuki masa pasca pandemi H1N1 (2009) ini, pandemi ketika itu resmi selesai,” papar Tjandra Yoga Aditama kepada INILAH.COM, ditulis di Jakarta, Kamis, (03/03/2022).

Baca juga
Pemprov DKI Lanjutkan Bansos Yatim Piatu Karena COVID-19

2. Pernyataan pandemi menjadi endemi dari beberapa negara

“Masing-masing negara dapat saja membuat pernyataan bahwa mereka sudah dapat mengendalikan wabah COVID-19, atau sudah masuk dalam fase endemi. Tetapi, pernyataan satu dua atau bahkan beberapa negara bahwa negara mereka sudah endemi sama sekali tidak berarti pandemi sudah selesai,” tambahnya.

3. Angka kepositifan

Untuk situasi COVID-19 sudah terkendali maka salah satunya adalah angka kepositifan atau positivity rate  di bawah 5 persen.

“Data yang ada maka angka kepositifan pada 25 Februari 2022 adalah 17,93 persen, dan walaupun pada 26 Februari angkanya sudah menurun tapi masih cukup tinggi, yaitu 15,91 persen, cukup jauh di atas batas 5 persen yang kita kehendaki bersama,” ujarnya.

Baca juga
MUI Bolehkan Salat Berjamaah, Begini Kata Satgas Covid-19

4. Angka jumlah pasien dan kematian juga harus ditekan rendah

Selain itu pelayanan kesehatan akan selalu siaga menghadapi kemungkinan kenaikan kasus. Tahun yang lalu angka kepositifan kita sudah sempat cukup lama di bawah 5 persen, tetapi dengan serangan Omicron maka angka kepositifan dan angka reproduksi naik lagi seperti saat sekarang.

“Tentu kita juga amat perlu mewaspadai kemungkinan varian baru COVID-19 di dunia, sesuatu yang tidak terlalu mudah memprediksinya,” tambahnya.

“Yang jelas, tentu kita semua berharap bahwa COVID-19 akan segera dapat diatasi di dunia dan juga negara kita,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Tinggalkan Komentar