Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Pakar Ungkap Deretan Modus Peretasan Kru Redaksi Narasi: Sebar Malware hingga Akses OTP

Senin, 26 Sep 2022 - 15:50 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Peretasan
Foto: istock

Sejumlah awak redaksi Narasi mengalami peretasan dan pengambil alihan nomor seluler. Akibatnya Whatsapp, Telegram, Facebook dan Instagram tidak bisa lagi diakses. Peristiwa ini menyedot perhatian publik dan jurnalis nasional.

Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha menjelaskan bahwa ada banyak cara dalam meretas awak redaksi narasi. Ini merupakan kejadian kesekian kalinya di tanah air dimana aktivis dan jurnalis mengalami peretasan.

“Secara teknis memang memungkinkan tindakan peretasan ke sejumlah aset digital seseorang seperti media sosial dan aplikasi pesan instant. Bisa dengan malware, lalu juga bisa dengan mengakses OTP. Cara mengakses OTP ini bisa dengan beberapa cara, pertama dengan memalsukan identitas lalu membuat sim card di provider, yang kedua adalah dengan mengakses OTP lewat akses provider telekomunikasi,” jelas  Pratama dalam keterangannya kepada inilah.com, Senin (26/9/2022).

Baca juga
Indonesia Makin Tak Aman, Situs BIN Dibobol Hacker China?

Ditambahkan Pratama, cara yang paling mudah adalah memalsukan dokumen KTP dan datang ke kantor cabang provider telekomunikasi meminta pergantian sim card. Mereka bisa mengaku sebagai pemilik nomor dengan memalsukan KTP sesuai registrasi terdaftar tadi. Ini sangat memungkinkan karena ada data bocor registrasi sim card sebelumnya, jadi bisa digunakan.

Selain itu, pelaku peretasan juga bisa melakukan akses terhadap OTP provider telekomunikasi yang dibantu layanan pihak ketiga, tujuannya untuk mendapatkan OTP yang dikirimkan setelah ada request dari aplikasi. Jadi pelaku tidak perlu mengirimkan pesan penipuan untuk meminta OTP ke target, hal ini yang sering dilakukan oleh para penipu dengan mengaku kasir minimarket dan meminta OTP.

“Saya sendiri pernah menjadi korban peretasan telegram dan Whatsapp. Sempat diambil alih pelaku, jadi OTP yang harusnya masuk ke device saya diambil oleh pelaku lebih dahulu dan tidak masuk ke device saya. Namun akun bisa saya ambil lagi karena mengaktifkan two factor authentication atau two step verification. Dalam kasus saya, para pelaku tidak meminta OTP, karena sepertinya mereka mempunyai akses untuk mendapatkan OTP. Karena itu perlu dilakukan cek ke layanan pihak ketiga yang membantu OTP provider telekomunikasi,” tegas Pratama.

Baca juga
HMID Ajak Jurnalis Rasakan Pengalaman Mengendarai Hyundai Creta

Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk mencegah aset digital kita diambil lewat cara takeover via pergantian sim card di provider atau intersept di provider. Minimal kita mengaktifkan two factor authentication di aplikasi pesan instant dan media sosial. Sehingga saat nomor kita diambil alih pihak lain, mereka belum tentu bisa login. Di beberapa aplikasi bahkan sudah secara default kita diminta memasukkan PIN tambahan selain password dan OTP (One Time Password), jadi ada pengamanan tambahan.

“Jadi untuk menghindari peretasan Whatsapp dan media sosial lainnya, minimal kita harus mengaktifkan two faktor authentication atau two step verification pada semua akun medsos dan pesan instant yang kita miliki. Selain itu jangan lupa memasang anti virus, anti malware pada smartphone kita,” tuturnya.

Tinggalkan Komentar