Kamis, 26 Mei 2022
25 Syawal 1443

Pakar Ungkap Varian Omicron Tidak Miliki Relasi dengan Delta

Varian Omicron
istockphoto

Pakar mikrobiologi Universitas Indonesia Prof. dr. Amin Soebandrio, Ph.D,menjelaskan  varian Omicron yang mulai tersebar pada November 2021 tidak memiliki relasi dengan varian Delta yang muncul pada gelombang kedua.

Namun varian tersebut memiliki jumlah mutasi yang lebih banyak dibandingkan dengan virus-virus sebelumnya sehingga Omicron dapat beradaptasi dengan lingkungan yang menyebabkan penularan terjadi lebih cepat. Kendati demikian, tidak seluruh mutasi dapat menguntungkan virus.

“Pada kasus Omicron, justru dengan adanya mutasi tersebut, varian ini tidak menimbulkan morbiditas atau gejala klinis yang berat,” kata Amin Soebandrio, saat temu media virtual Asian Insights Conference Bank DBS, ditulis di Jakarta, Selasa, (01/03/2022).

Pada dasarnya, risiko infeksi memiliki rumus, yaitu keganasan virus dikalikan dengan dosis virus, kemudian dibagi dengan kekebalan. Kekebalan tersebut terbentuk dari vaksinasi maupun infeksi alami ketika seseorang terpapar virus.

Baca juga
IHSG Semringah dengan Penurunan Jumlah Kasus COVID-19

“Berdasarkan atas studi yang dilakukan oleh FKM UI, Kementerian Kesehatan, dan LBM Eijkman, lebih dari 70 persen populasi masyarakat Indonesia telah memiliki antibodi, walaupun belum pernah dinyatakan positif COVID-19 maupun tervaksinasi, dan 90 persen dari populasi yang telah terkena COVID-19 dan tervaksinasi telah memiliki antibodi tersebut. Maka, hal ini menunjukkan bahwa kekebalan terhadap virus telah terbentuk dalam masyarakat Indonesia,” tambah Prof. dr. Amin Soebandrio, Ph.D.

Masih menurutnya, berkaca dari negara-negara lain, prediksi puncak kasus COVID-19, khususnya varian Omicron, muncul dalam dua sampai tiga bulan sejak kasus pertama terdeteksi. Sehingga, diharapkan pola yang sama juga terjadi di Indonesia.

Baca juga
Program Kartu Prakerja Selamatkan Ekonomi ketika Pandemi

“Oleh karena itu, pemerintah perlu memantau pergerakan masyarakat, terutama menjelang bulan Ramadhan dan lebaran untuk mengurangi kerumunan. Apabila hal tersebut berhasil dijalankan bersama upaya-upaya lainnya, maka diperkirakan bahwa Indonesia akan mencapai puncak kasus COVID-19 pada Maret 2022,” ujarnya.

Pandemi jadi endemi

Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi percaya bahwa penanganan COVID-19 memerlukan upaya dari hulu ke hilir.

Apabila deteksi dini, edukasi bagi masyarakat, serta langkah-langkah pencegahan merupakan strategi yang dilakukan di hulu untuk pengendalian transmisi, maka transformasi layanan kesehatan yang disiapkan Kementerian Kesehatan tersebut diperlukan untuk penanganan kasus di hilir ketika seseorang telah dinyatakan positif COVID-19.

Baca juga
Pasien Omicron Kabur dari Wisma Atlet

Sehingga, masih menurutnya, diharapkan dengan adanya transformasi ini, fasilitas-fasilitas kesehatan di Indonesia dapat lebih siap menanggapi kasus dan telah dilengkapi dengan sumber daya yang mumpuni.

Siti Nadia Tarmizi berpandangan bahwa transisi dari fase pandemi menuju endemi bukanlah keputusan sepihak, melainkan membutuhkan pemberitahuan secara resmi dari WHO.

“Oleh karena itu, saat ini yang dapat dilakukan adalah mengadakan kebijakan-kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan kesehatan dan juga kepentingan ekonomi, sehingga Indonesia dapat tetap bertumbuh secara finansial,” papar Nadia.

 

Tinggalkan Komentar