Sabtu, 25 Juni 2022
25 Dzul Qa'dah 1443

Pandai-pandai Meniti Buih Hadapi Commodity Boom

Senin, 06 Jun 2022 - 23:45 WIB
Commodity Boom
(istimewa)

Lonjakan harga komoditas, atau disebut juga dengan commodity boom, akan menguntungkan bagi perekonomian nasional. Namun, semua pihak harus pandai-pandai meniti buih jika tak ingin peluang ini malah menjadi bencana.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sudah mengungkapkan keuntungan dari commodity boom ini yang menjadi salah satu pendorong pendorong pertumbuhan ekonomi. “Mempertimbangkan potensi ekonomi domestik dan langkah antisipatif pemerintah maka cukup realistis perekonomian Indonesia 2023 diperkirakan tumbuh 5,3 hingga 5,9 persen,” ucap Sri Mulyani saat Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi Indonesia, kenaikan harga komoditas ini sebetulnya menguntungkan karena Indonesia banyak mengekspor komoditas. Namun di sisi lain, kenaikan harga komoditas yang sangat ekstrem berpotensi mendorong inflasi yang juga ekstrem di level global, terutama negara-negara maju.

Sri Mulyani mengingatkan kenaikan harga-harga komoditas yang meningkat sangat cepat dan ekstrem di tengah pemulihan ekonomi Indonesia yang sedang berlangsung memiliki risiko global yang harus diwaspadai. “(Inflasi ekstrem) ini kemudian diikuti pengetatan kebijakan moneter, terutama di AS, Eropa dan Inggris. Pengetatan kebijakan moneter artinya suku bunga akan naik dan likuiditas juga akan menjadi lebih ketat,” katanya.

Gejolak Dunia

Saat ini, harga komoditas ikut bergejolak seiring peristiwa invasi Rusia ke negara tetangganya Ukraina. Harga minyak bumi, gas bumi dan baru bara sempat mencetak rekor tertinggi. Tak hanya itu, komoditas lain seperti tembaga, nikel dan CPO pun juga ikut naik.

Misalnya saja harga acuan batu bara pada Juni 2022 telah menyentuh angka US$323,91 per metric ton (MT). Selain batu bara, harga komoditas tambang lainnya juga meningkat seperti nikel pada Mei 2022 yang mencapai US$33.415,75 per MT, dan harga acuan tembaga pada Mei 2022 sebesar US$10.311,18 per MT.

Baca juga
Usai Berdiskusi dengan Menko Airlangga, Bos BP2MI Acungi Dua Jempol

Indonesia dikenal memiliki beberapa komoditas unggulan di antaranya kelapa sawit yang menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar ekspor sawit global. Di 2020 lalu, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat volume ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 34 juta ton senilai US$22,97 miliar.

Juga komoditas batu bara. Indonesia merupakan produsen batu bara terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India. Produksi batu bara bisa mencapai lebih dari 500 juta ton per tahun, dan sekitar 70 persen batu bara nasional dikirim ke luar negeri. Kementerian ESDM mencatat realisasi ekspor batu bara Indonesia pada 2020, yakni 405 juta ton atau melebihi target ekspor (102,5 persen).

Komoditas lain seperti produk besi dan baja buatan Indonesia diekspor ke sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, India, Singapura, Thailand, Australia, Malaysia, UEA, Taiwan, AS, dan lainnya. Ekspor besi dan baja pada November 2021 mencapai US$276 juta.

Karet merupakan salah satu produk pertanian unggulan ekspor Indonesia. Pada 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia berhasil mengekspor sekitar 2,2 juta ton karet ke mancanegara senilai US$2,9 miliar. Komoditas lainnya adalah kopi, teh, dan kakao merupakan produk pertanian Indonesia yang unggul di pasar ekspor.

Sementara kontribusi ekspor migas masih cenderung lebih rendah dibandingkan produk nonmigas. Pada November 2021, kontribusi ekspor nonmigas adalah US$21,51 miliar. Komoditas unggulan ekspor migas Indonesia minyak mentah, hasil minyak, dan gas. Contoh produk migas yang dikirim PT Pertamina (Persero) ke mancanegara meliputi avtur, pelumas, High Speed Diesel (HSD), Marine Fuel Oil (MFO), dan lainnya.

Baca juga
Sri Mulyani Targetkan Belanja Negara di 2023 Sebesar Rp2.993,4 Triliun

Risiko Commodity Boom

Di dunia dikenal dengan istilah ‘Dutch Disease’ yang relevan menggambarkan dampak negatif dari lonjakan harga komoditas. Istilah ini awalnya digunakan untuk menggambarkan situasi yang dialami Belanda pada akhir 1970-an. Belanda diuntungkan (akumulasi cadangan devisa) dari kenaikan harga gas bumi. Namun sebaliknya, hal itu menyebabkan kesulitan ekonomi dan lebih banyak pengangguran.

Para ekonom mendefinisikan Dutch Disease adalah suatu kondisi ketika harga-harga komoditas melonjak yang dipicu oleh masuknya devisa. Cadangan devisa yang besar menyebabkan apresiasi nilai tukar. Artinya produk dalam negeri relatif lebih mahal di pasar global. Sehingga daya saing produk lain, termasuk komoditas manufaktur, akan menurun.

Selain itu, commodity boom ini biasanya hanya dinikmat segelintir orang yang terlibat dalam produksi komoditas.

Pendapatan dari lonjakan harga komoditas tidak terdistribusi dengan baik bagi banyak orang. Sementara masyarakat kecil yang jumlahnya lebih banyak lebih mungkin akan dirugikan. Yang kemudian terjadi adalah ketimpangan pendapatan di kalangan masyarakat menjadi lebih besar.

Di sisi lain, Sri Mulyani sudah mengingatkan kenaikan harga komoditas yang sangat ekstrem mendorong inflasi yang juga ekstrem di level global, terutama negara-negara maju. Kenaikan harga komoditas dan inflasi yang tinggi menyebabkan pengetatan kebijakan moneter baik dari sisi likuiditas maupun suku bunga.

Kemudian akan menimbulkan potensi volatilitas arus modal dan juga nilai tukar serta tekanan pada sektor keuangan. “Hal-hal tersebut akan kemudian menghasilkan pemulihan ekonomi yang melemah secara global,” sambung Sri Mulyani.

Saat ini, memang secara umum dampak kenaikan harga komoditas global terhadap inflasi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) masih terbatas. Namun, jika diperhatikan lebih lanjut, transmisi dari kenaikan harga pangan global pada Mei 2022 sudah terlihat pada inflasi indeks harga perdagangan besar (IHPB).

Baca juga
Pemerintah Gandeng Bulog Stabilkan Harga Migor

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, IHPB Mei 2022 tercatat sebesar 0,33 persen (mtm) dengan penyumbang terbesar yaitu sektor industri (0,31 persen). Andil sektor industri antara lain disumbang dari kenaikan komoditas tepung terigu dan mie kering instan, seiring kenaikan harga gandum global. Sedangkan IHPB secara tahun kalender 2,81 persen dan 4,23 persen secara year on year (yoy).

Sejarah mencatat, lonjakan harga komoditas tidak akan berlangsung lama. Hanya baik untuk pertumbuhan ekonomi sementara waktu, tetapi mempengaruhi pemerataan pendapatan yang melebar. Pemerintah harus mencegah potensi dampak negatif ledakan harga komoditas ini di antaranya melebarnya ketimpangan pendapatan ini.

Salah satunya caranya, memanfaatkan momentum ini untuk meraih keuntungan besar kemudian lebih fokus membantu pengembangan pada sektor yang memiliki multiplier effect tinggi yang mendorong pertumbuhan sektor lain. Termasuk ekonomi lokal, pengembangan infrastruktur dan membuka banyak peluang usaha serta tenaga kerja.

Sudah seharusnya pemerintah meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan merespons kebijakan secara cepat. Sekaligus terus melakukan berbagai langkah reformasi untuk membangun ekonomi yang jauh lebih kuat. Pandai-pandailah meniti buih dari commodity boom ini agar tidak terpeleset dan bisa meraup cuan secara maksimal. [ikh]

Tinggalkan Komentar