Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

Pandemi, Ramadan dan Tradisi Ritual yang Kembali Semarak Tahun Ini

Senin, 28 Mar 2022 - 13:44 WIB
Penulis : Safarian Shah
Editor : adm
Tradisi Ramadan - inilah.com
Tradisi Ramadan (Foto islami.co)

Dalam menyambut bulan ramadan yang kurang lebih sepekan lagi, masyarakat di sejumlah daerah memiliki tradisi menggelar kirab, pawai obor, sendang banyu, ziarah hingga memotong hewan dalam jumlah besar.

Tradisi ini sering kali digelar untuk menyemarakkan bulan Ramadan, terlebih penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pandemi covid-19 kini relatif lebih longgar.

Seperti pawai obor dan kirab yang digelar di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/3/2022) lalu. Pihak pemerintahan setempat mengklaim wilayahnya aman dari penyebaran covid-19 dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Di Ciganjur saat ini kasus COVID-19 hanya satu kasus, artinya Ciganjur aman, tapi tetap patuhi protokol kesehatan,” ujar Lurah Ciganjur Yuyun.

Kirab dan pawai obor juga digelar di sejumlah daerah lainnya seperti Jakarta Timur, Depok, Palu hingga daerah lainnya.

Ketua RW 03 Kelurahan Tirtajaya Depok Farichul Muttaqin mengatakan, pawai obor seperti ini rutin diadakan setiap jelang Ramadan.

Baca juga
Muhammadiyah Malaysia Gelar Buka Puasa Bersama

“Pawai obor ini tujuannya untuk menyambut bulan suci Ramadan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Biar anak-anak semangat untuk menyambut Ramadan,” katanya.

Sementara, di Magelang, Jawa Tengah, ratusan warga begitu antusias mengikuti kirab dan bajong banyu atau perang air yang disebut sebagai tradisi mensucikan diri menyambut ramadan.

”Air didalam gentong itulah yang digunakan untuk menyiramkan dan melemparkannya kepada warga. Bajong Banyu sebenarnya adalah perang air antarwarga. Namun, dalam perang air tersebut tidak ada permusuhan atau kesedihan, melainkan kegembiraan semua warga,” penggagas tradisi ‘Bajong Banyu’ Tri Setyo Nugroho, Minggu (28/3/2022).

Sejumlah penari disusul dengan barisan warga memulai kirab tradisi sendang banyu menuju sumber mata air sendang Kedawung, Banjarnegoro, Magelang.

Baca juga
Cara Mudah Jaga Kondisi Mobil di Bulan Ramadan

Tradisi ini diawali dengan prosesi pengambilan air menggunakan kendi yang diiringi para penari dengan lantunan bonang dan kenong.

Lalu, air yang dianggap suci itu dibawa ke tengah dusun dan melemparkannya kepada masyarakat. Maka, terjadilah perang air atau bajong banyu dalam menyambut bulan ramadhan.

Tradisi serupa di daerah lainnya disebut Padusan. Khususnya di sekitaran Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Ziarah hingga Potong Hewan

Tradisi nyadran atau membersihkan makam orang tua dan kerabat juga menjadi tradisi yang tak luput dijalankan masyarakat jelang ramadan.

Masyarakat yang melakukan tradisi Nyadran percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang bulan suci.

Bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu dan leluhur. Setelah nyadran biasanya ada acara kenduri atau makan bersama.

Baca juga
Foto: Ru'yatul Hilal Penetuan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriah di Jakarta

Disisi lain, tradisi penyambutan ramadan di Aceh terbilang cukup unik. Meugang atau tradisi memotong hewan dalam jumlah besar dan kemudian membagikannya kepada seluruh warga turut menyemarakkan ramadan.

Meugang dilakukan dengan memasak daging dalam jumlah besar, yang kemudian akan disantap bersama keluarga atau kerabat. Selain itu, daging yang telah dimasak ini juga dibagikan ke masjid. Hal ini dilakukan agar semua orang dapat merasakan kebahagiaan dan kebersamaan.

Tinggalkan Komentar