Sabtu, 28 Mei 2022
27 Syawal 1443

Pantau Bencana, Butuh Rp150 Miliar untuk Pembuatan 1 Satelit

satelit
Biaya pembuatan 1 satelit berkisar Rp150 miliar (foto Antara)

Ahli Satelit Gelombang Mikro dari Universitas Chiba, Jepang, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo mengatakan untuk pembuatan satu unit satelit membutuhkan biaya sekitar Rp150 miliar.

Ini terkait dengan upaya pemantauan bencana di seluruh pelosok Indonesia memerlukan sedikitnya sembilan satelit, seperti yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Prof Josh, sapaan akrabnya, mengatakan Indonesia harus memiliki sensor karena letak wilayah di ekuator dan pertumbuhan awan yang cepat berdampak bencana hidrometeorologi dapat terjadi secara tiba-tiba.

Ia menyarankan Indonesia membuat satelit sendiri sesuai dengan kebutuhan, bahkan jika perlu teknologi yang dibuat melampaui negara lain. Mengenai biaya satu unit satelit yang pernah ia buat anggarannya sebesar Rp150 miliar.

Baca juga
BMKG: Waspadai Potensi Hujan Petir di Tiga Wilayah DKI

“Saya merekomendasikan full polarimetric spaceborne Syntethic Aperture Radar (SAR) agar lebih detil. Karena di Indonesia pertumbuhan awan cepat sekali,” katanya, seraya menambahkan perlu resolusi waktu yang memungkinkan kurang dari 10 menit.

Dengan satelit, menurutnya, data yang didapat lebih akurat dan cepat sehingga bencana hidrometeorologi seperti hujan, angin kencang, longsor dan lainnya dapat diprediksi.

“Kita kombinasikan satelit meteorological geostasionary untuk meteorologi yang khas Indonesia, yaitu jumlah gelombang dan aplikasinya. Selain itu, pembangunan satelit meteorologi menggunakan SDM dan material dalam negeri Indonesia,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, BMKG menyebut Indonesia membutuhkan sembilan satelit pengindraan jauh untuk memantau kondisi kebencanaan di Indonesia.

Baca juga
Ritual di Pantai Payangan Awalnya untuk Pengobatan Alternatif

Diketahui, wilayah Indonesia memiliki ancaman bencana yang sangat kompleks dan tidak bisa ditangani secara normatif. Ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang saat ini semakin ekstrem maka dibutuhkan teknologi.

Jika hanya satu satelit maka ada jeda 100 menit saat mengorbit. Namun jika tanpa satelit, maka akan sulit melakukan pemantauan. Karena membutuhkan waktu yang lama, mengingat wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Tinggalkan Komentar