Selasa, 16 Agustus 2022
18 Muharram 1444

Paradoks Integritas dan Muka Tebal Lili Pintauli Siregar

Rabu, 29 Jun 2022 - 18:11 WIB
Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar. Foto: Ist.
Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar. Foto: Ist.

Wakil Ketua KPK RI, Lili Pintauli Siregar bermental kuat sekaligus bermuka tebal menahan rasa malu. Langkahnya begitu ringan mengayun naik ke mimbar untuk menebar kata-kata mulia tentang integritas dan tanggung jawab dalam membangun bangsa tanpa korupsi.

Mengawali ceramah integritas kepada para petinggi Partai Golkar, dia melempar pantun yang berbunyi: ‘Dibuatnya hukum agar kita menjadi orang patuh, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’.

Kalimat pembuka yang seakan menampar dirinya sendiri yang kemudian diikuti gelak tawa para hadirin. Tertawa di atas masalahnya sendiri. Padahal, Lili mestinya berkaca pada dirinya yang tak patuh dan melanggar kode etik saat menerima fasilitas gratis untuk menonton MotoGP Mandalika dan bermalam di hotel mewah pemberian perusahaan pelat merah. Tak hanya soal etik, Lili juga disoroti soal gratifikasi.

Bila hanya menonton ceramahnya, Lili sepenuhnya benar bahwa para pejabat di Indonesia perlu diingatkan soal integritas, tapi yang mungkin luput dari ingatan Lili yaitu pentingnya budaya malu di kalangan pejabat. Ekstrimnya, pejabat sedang mengalami krisis rasa malu saat melakukan kesalahan dan berjuang mati-matian melawan rasa malunya sendiri.

Dalam ceramah bertajuk Politik Cerdas Berintegritas (PCB) Terpadu KPK, Lili terus mengulang pentingnya integritas dan tanggung jawab seorang pejabat yang membawa amanah rakyat. Sekaligus membayangi para pejabat dengan catatan hitam korupsi di Indonesia yang telah menjerat banyak pejabat di lintas sektor.

Baca juga
Mardani Maming Buron, Eks Penyidik KPK Beri Gambaran Bagaimana Kehidupannya

Kata-kata Lili di atas mimbar benar, partai politik dibutuhkan untuk pemberantasan korupsi. Apalagi peran partai tak hanya sebagai kendaraan politik semata, melainkan salah satu muara arah kebijakan dan aturan di negeri ini.

Saat Lili di atas mimbar, muncul optimisme dan terbayang bila Indonesia bisa bebas dari korupsi. Namun, saat ia menyudahi ceramah integritas, Lili dibenturkan dengan masalah integritas yang tak bisa ia jaga. Paradoks.

Setiap kalimat yang dilontarkan Lili di atas mimbar mudah dipahami oleh para pengurus partai beringin. Namun, sebagai wujud keteladanan, Lili bukan orang yang tepat. Sebab, ia bermasalah soal integritas.

“Tentu melihat kenyataan ini, sulit kita membayangkan bagaimana Indonesia memiliki wakil partai yang berintegritas, yang bersih dari korupsi. Dan kita tahu kurang penting apa Partai politik untuk iklim demokrasi kita ini. Karena demokrasi tidak ada tanpa kehadiran Partai politik,” kata Lili dalam PCB Terpadu KPK, Selasa (28/6/2022) kemarin.

Baca juga
KPK Berhasil Kumpulkan 129 Bukti Dokumen dan 18 Saksi Kasus Mardani Maming

Indonesia kehilangan sosok pejabat yang tak takut kehilangan jabatan. Kekinian, bahkan muncul pejabat yang berani melanggar etika dan masih bertahan dengan menebalkan mukanya.

Apakah pernah terbersit sedikit rasa malu untuk tampil di hadapan publik mengatasnamakan pimpinan lembaga antirasuah yang bermasalah integritas?

Itu bukan langkah profesional sebagai seorang pejabat, melainkan berusaha mempertahankan jabatan meski tercantum sebagai pejabat bermasalah. Hilang malu, hilang akal, dan hilang keteladanan.

Maka, benar rasanya bila Koordinator MAKI, Boyamin Saiman yang merasa Lili semestinya tak bisa tidur nyenyak. Sebab, Lili setiap hari bekerja di lembaga yang menjunjung tinggi integritas, sedangkan ia bermasalah dengan integritas.

“Mestinya yang nggak bisa tidur LPS (Lili Pintauli Siregar) karena pelanggaran kode etik,” tegas Boyamin.

Kemudian, Lili kehilangan kesadaran bahwa ia telah mencoreng nama baik lembaganya dan mengkhianati corak perjuangan KPK. Paradoks integritas, sosok bermasalah integritas bernaung di lembaga yang menjunjung tinggi integritas.

Baca juga
Usai Jadi Tersangka, Bupati Kuansing Andi Putra Tiba di KPK

Indonesia merindukan pejabat yang dapat mengukur kepantasan, bila sadar melakukan kesalahan fatal mestinya meletakkan jabatan, mundur. Bukan menyerah, tapi Lili harus sadar bahwa sudah tak pantas menjadi pimpinan KPK.

“Mestinya LPS (Lili Pintauli Siregar) mundur aja daripada makin mempermalukan KPK, termasuk mempermalukan rakyat yang telah menggajinya,” tegas Boyamin lagi.

Lili begitu piawai menari di atas kata-katanya saat berceramah dan mestinya ia juga menjadi peserta yang paling serius dalam mengikuti ceramah integritas agar lebih memahami pentingnya integritas.

Tinggalkan Komentar