Jumat, 07 Oktober 2022
11 Rabi'ul Awwal 1444

Parpol Baru dengan Wajah Lama Diharap Cerdaskan Publik

Selasa, 02 Agu 2022 - 11:45 WIB
Penulis : Anton Hartono
Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU)

Pelaksanaan pemilu menjadi penentu dalam sistem demokrasi Indonesia sebagai sarana pergantian kekuasaan dan kepemimpinan nasional lima tahun sekali.

Antusiasme partai politik baru yang menghiasi pendaftaran di KPU 1 agustus yang lalu, menandai dimulainya kompetisi untuk mendapatkan atensi publik dalam meraih kekuasaan politik legislatif maupun eksekutif.

Menanggapi hal tersebut Direktur Eksekutif Trust Indonesia Azhari Ardinal mengatakan bahwa yang menarik untuk dicermati dari puluhan partai baru yang mendaftar, ternyata digawangi oleh wajah-wajah lama.

“Tidak ada yang salah dari fenomena ini, namun yang mesti diingat bahwa pilihan politik masyarakat hari ini adalah reaksi terhadap kekecewaannya masa yang lampau dan harapannya di masa yang akan datang,” katanya kepada wartawan, Selasa (2/8/2022).

Baca juga
Gerindra Nilai Wajar Halalbihalal Prabowo Dikaitkan dengan Pilpres 2024

“Sehingga mendapatkan kembali kepercayaan publik adalah tujuan utama dari setiap partai politik yang mendaftar di KPU,” sambungnya.

Azhari juga menambahkan kalau berdasarkan hasil riset, tahun ini menempatkan partai politik lembaga negara pada tingkat kepercayaan paling rendah.

“Ini adalah tantangan serius bagi setiap partai baru yang notabene digawangi oleh wajah lama untuk membuktikan diferensiasinya dengan partai yang sudah eksis lama. Karena jelas akan terjadi irisan basis massa dengan partai induknya secara langsung maupun tidak langsung,” paparnya.

Dikatakan Azhari bahwa wajah lama seperti nama Amin Rais dengan Partai Ummat, Anis Mata dengan Partai Gelora, Farhat abbas dengan Partai Pandai, Agus Jabo dengan Partai Prima dan yang lainnya. Adalah gambaran serius dari pertarungan isu yang akan diusung pada kontestasi politik 2024 mendatang.

Baca juga
PPP Diklaim Tetap Solid Meski Ganti Ketua Umum

Sealin itu Azhari mengatakan bahwa dengan berbagai instrumen yang mengiringinya, mulai dari actor politik, mesin partai, funding politik, media yang membentuk opini dan tentunya pemilih itu sendiri.

“Kita berharap terbangun proses dialogis yang mencerdaskan publik bukan saja atas janji kerja kepemimpinan eksekutif dan legislatif kedepan. Namun lebih dari itu, pemilih menjadi sadar dan tergerak untuk ikut mengawal proses pemerintahan dengan berbagai ranah kebijakannya. Sementara dalam spektrum kepartaian terbangun sebuah dialog yang lebih fokus dan berkualitas untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar