Pasar E-Commerce Indonesia Menggiurkan, DPR dan BI Kenalkan Sistem Pembayaran QRIS

Primusqris - inilah.com
Anggota Komisi XI DPR, Primus Yustisio

Tahun 2030, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan, perdagangan digital (e-commerce) meledak. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 18,87%. Atau setara Rp24 ribu triliun. Masyarakat perlu dikenalkan dengan sistem pembayaran digital.

Disampaikan Anggota Komisi XI, Primus Yustisio, konsekuensi dari era digitalisasi ini, mendisrupsi semua lini kehidupan kita dan berbagai kebutuhannya. Dari yang manual ke serba artifisial. “Kini, semua serba daring (online). Penetrasi semua sektor kehidupan ekonomi ke e-commerce. Dan, pertumbuhannya begitu cepat. Karena Indonesia adalah pasar yang besar bagi berkembangnya e-commerce,” papar Primus dalam sosialisasi QRIS di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/12/2021).

Baca juga  Rapat Paripurna DPR Sahkan APBN 2022

Seiring digitalisasi dan gurihnya pasar di Indonesia, digitalisasi dalam sistem pembayaran (payment system) semakin cepat. Mulai dari menggunakan transportasi, belanja di warung, mini market, hingga belanja kebutuhan rumah tangga, semua terkoneksi secara daring. “Dari sebelumnya bersifat tunai (cash), menjadi non tunai (non cash), melalui berbagai platform digital sistem pembayaran,” tutur Primus yang tercatat sebagai anggota Komisi XI DPR.

Dikatakan politisi PAN ini, Komisi XI DPR adalah pengawas BI yang bertanggung jawab dalam menjalankan tugas moneter dan menjaga kelancaran sistim pembayaran nasional. “Program QRIS adalah suatu implementasi standar untuk interkoneksi dalam sistem pembayaran QR-Code (Quick Response Code). Hal ini perlu dilakukan, sebagai bentuk adaptasi bank sentral terhadap pertumbuhan sistem pembayaran non tunai serba daring yang terjadi begitu cepat,” bebernya.

Baca juga  6 Anggota PP Tersangka, Polisi Kejar Pelaku Lain Kasus Pengeroyokan AKBP Dermawan

Dikatakan Primus, QRIS sebagai suatu implementasi standar SPI, diharapkan mampu mengurangi berbagai hal negatif dalam transaksi tunai yang sering terjadi. “Dengan QRIS bisa mengurangi risiko uang tunai hilang, dicuri atau dicopet, inefisien, tidak memerlukan uang kembali dan pelaporan keuangan yang baik, melalui algoritma data komputer yang sudah terprogram dalam QR-Code,” tuturnya.

Masih kata Primus, QRIS akan sangat bermanfaat bagi pelaku UMKM atau Ultra Mikro (UMi) dan masyarakat konsumen. Mau tak mau, seluruh pihak harus adaptif mengikuti perubahan yang terjadi begitu cepat dalam kehidupan ekonomi.

“Pelaku usaha mikro, mesti mengikuti era digitalisasi ini. Suka atau tidak, perlahan tapi pasti, konsumen akan meninggalkan sistem pembayaran tunai dan beralih ke sistem pembayaran non tunai, melalui berbagai platform digital yang tumbuh bak jamur di musim hujan,” pungkasnya.

Baca juga  Mahalnya Minyak Goreng Mendekati Rp20 Ribu/Liter, Ekonom PKR Singgung Kinerja Mendag Lutfi

Tinggalkan Komentar