Sabtu, 10 Desember 2022
16 Jumadil Awwal 1444

Pasar Uang Sensitif, Hati-hati Bicara

Selasa, 30 Jul 2013 - 20:27 WIB
Penulis : Bastaman

INILAH.COM, Jakarta - Menunggu memang pekerjaan yang menyebalkan. Itu sebabnya, seraya menanti pengumuman pertemuan Federal Open Market Committee (FOCM) Rabu (31/7/2013) besok, investor mulai melakukan aksi antisipasi. Salah satunya dengan membeli dolar, Alhasil,   Selasa (30/7/2013) rupiah kembali melemah 7 basis poin ke level Rp10.277 per dolar.

Yang disesali para analis, pelemahan rupiah ternyata juga didorong oleh pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Ia meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan rupiah karena fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. “Sebagian kalangan cemas, makro ekonomi kita dikatakan sudah memburuk. Saya katakan tidak,” kata Presiden.

Pernyataan itu jelas membingungkan pasar. Sebab, semua orang tahu, saat ini inflasi cukup tinggi dan pertumbuhan ekonomi cenderung melemah. Tidak hanya itu saja. Defisit transaksi berjalan juga terus membengkak. Hingga kuartal II, defisit transaksi berjalan sudah mencapai US$8 miliar atau 3,5% dari produk domestik bruto (PDB). “Jangan terlalu banyak ngomong, kerja saja,” kata seorang analis.

Tapi, memang, saat ini pasar tengah menanti data perekonomian Amerika menjelang pertemuan FOCM. Jika ternyata perekonomian negeri adidaya itu semakin membaik, kemungkinan besar program stimulus Quantitative Easing III (EQ III) dihentikan. Itu berarti, The Fed akan menyetop atau mengurangi pembelian surat berharga yang nilainya mencapai US$85 miliar per hari.

Jika ini yang terjadi, pasokan dolar ke pasar akan berkurang. Ujung-ujungnya, nilai si mata uang hijau itu akan semakin menguat. Sebaliknya, dolar akan kembali melemah seandainya program EQ III dilanjutkan hingga pertengahan 2014. Menurut sejumlah analis, The Fed akan bertindak ekstra hati-hati. Soalnya, jika dolar terus menguat terhadap mata uang dunia lainnya, barang-barang dari Amerika akan kalah bersaing dengan negara lain.

Makanya, ada yang yakin program EQ III akan dilanjutkan. “Secara logika, tak mungkin EQ III langsung distop,” kata seorang analis pasar. Hanya saja, karena perekonomian Amerika terus membaik, dana yang dikucurkan The Fed memang tidak akan sebesar sekarang. [mdr]