Kamis, 30 Juni 2022
01 1444

PBB Sebut Krisis Pangan akan Dorong Tingkat Perpindahan Global Lebih Tinggi

Kamis, 16 Jun 2022 - 16:21 WIB
Krisis Pangan
(foto: archyde.com)

Krisis ketahanan pangan yang dipicu oleh perang Ukraina-Rusia akan mendorong lebih banyak orang meninggalkan rumah mereka di negara-negara miskin dan meningkatkan angka perpindahan global menjadi lebih tinggi, kata kepala badan pengungsi PBB (UNHCR) Filippo Grandi.

Sebuah laporan UNHCR pada Kamis (16/6/2022) menunjukkan bahwa sekitar 89,3 juta orang di seluruh dunia pada akhir 2021 terpaksa mengungsi sebagai akibat dari penganiayaan, konflik, pelecehan, dan kekerasan.

Setelah itu, jutaan orang lainnya telah meninggalkan Ukraina atau mengungsi di dalam perbatasannya akibat kenaikan harga terkait dengan terhambatnya ekspor biji-bijian, dan hal itu akan memicu lebih banyak perpindahan di tempat lain.

“Jika Anda mengalami krisis pangan di atas semua yang telah saya sebutkan ‘perang, masalah hak asasi manusia, iklim, itu hanya akan mempercepat tren (perpindahan) yang saya jelaskan dalam laporan ini,” kata Filippo Grandi kepada wartawan pekan ini.

Baca juga
Perang Rusia-Ukraina Berdampak Tak Langsung pada Perekonomian Indonesia

Dia menggambarkan angka-angka perpindahan di dunia itu sebagai suatu hal yang ‘mengejutkan’.

“Hal ini jelas jika tidak segera diselesaikan dampaknya akan cukup dahsyat. Sudah terlihat, lebih banyak orang mengungsi sebagai akibat dari kenaikan harga dan pemberontakan kekerasan di wilayah Sahel Afrika,” ujarnya.

Secara keseluruhan, jumlah pengungsi meningkat setiap tahun selama satu dekade terakhir, kata laporan UNHCR.

Sekarang jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari 42,7 juta orang yang mengungsi pada 2012, kata UNHCR.

Grandi juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai ‘monopoli’ sumber daya yang diberikan ke Ukraina sedangkan program lain untuk membantu para pengungsi di tempat lainnya kekurangan dana.

Baca juga
Roman Abramovich Bantu Perundingan Rusia-Ukraina

“Ukraina seharusnya tidak membuat kita melupakan krisis lain,” katanya seraya menyebutkan tentang konflik yang berlangsung selama dua tahun di Ethiopia dan kekeringan di Tanduk Afrika.

Tanggapan Uni Eropa terhadap krisis pengungsi ‘tidak setara’, ujar Grandi menambahkan.

Dia menyebut pertengkaran antara negara-negara yang menerima sekelompok kecil migran yang menyeberangi Laut Tengah dengan perahu, di mana hal itu berbanding terbalik dengan kemurahan hati negara-negara Uni Eropa terhadap para pengungsi Ukraina sejak invasi Rusia pada Februari 2022.

“Tentu saja itu membuktikan poin penting: menanggapi masuknya pengungsi dan kedatangan orang-orang yang putus asa di pantai atau perbatasan negara-negara kaya bukanlah hal yang tidak dapat dikendalikan,” kata Grandi.

Baca juga
Volodymyr Zelenskyy: Perundingan Damai Ukraina-Rusia Sudah Lebih Realistis

Laporan UNHCR mengatakan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menampung 83 persen pengungsi dunia pada akhir 2021.

Tinggalkan Komentar