Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

PBNU Ingin Ada Forum dari Berbagai Ormas dan Pemerintah Gelar Pendidikan Politik

Rabu, 25 Jan 2023 - 15:49 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam Webinar Kemendagri bertajuk 'Partisipasi Organisasi Kemasyarakatan dalam Pendidikan Pemilih Cerdas untuk Mewujudkan Pemilu Berkualitas Tahun 2024' pada Rabu (25/1/2023). (Foto: Tangkapan layar)

Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf berharap jelang penyelenggaraan Pemilu 2024, dapat dihadirkan berbagai forum yang dapat memberi pendidikan politik kepada masyarakat.

“Saya kira akan baik sekali untuk kita ke depan ada forum-forum yang diinisiasi sebagai kerja sama stakeholder yang ada di parpol, organisasi keagamaan, ormas lain, KPU dan pemerintah untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat,” kata Yahya secara virtual dalam Webinar Kemendagri bertajuk ‘Partisipasi Organisasi Kemasyarakatan dalam Pendidikan Pemilih Cerdas untuk Mewujudkan Pemilu Berkualitas Tahun 2024’ pada Rabu (25/1/2023).

“Artinya mendorong agar masyarakat berpikir lebih rasional dengan berbagai pertimbangan untuk menentukan pilihan politik mereka. Dan tidak hanya dan tidak terpancing dengan artikulasi yang menjadikan identitas sebagai senjata,” lanjutnya.

Baca juga
Romy Siap Sambut Sandiaga Uno di PPP

Tentu, ujar dia, akan membutuhkan kerja sama dari seluruh pihak, termasuk para figur yang ada pada parpol sebagai aktor utama yang terlibat dalam sebuah koalisi.

“Calon kepala daerah maupun capres-cawapres betul-betul membangun suatu dinamika politik, dengan menjauhi artikulasi-artikulasi politik identitas ini,” tegasnya.

Tak hanya memanfaatkan platform digital saja, Yahya juga menyinggung tentu penting jika pemerintah dapat memberi pendidikan politik di dunia nyata.

“Kita di samping tentu perlu memanfaatkan platform-platform digital, tetapi menurut kami penting sekali untuk juga menjalankan strategi ini melalui platform-platform yang lebih kita selenggarakan di lapangan, di dunia nyata bukan cuma di dunia maya,” ungkapnya.

Baca juga
Ini 8 Titik Rekayasa Lalu Lintas saat Harlah 1 Abad NU di Sidoarjo

Tak muluk-muluk, ia menyatakan jika dilakukan di dunia nyata, tentu akan ada hubungan yang lebih intensif dengan masyarakat.

“Sehingga ada engagement yang lebih intensif dengan warga masyarakat agar pesan-pesan untuk menjauhi politik identitas, pesan-pesan untuk mengembangkan demokrasi yang lebih rasional,” terang Yahya.

“Pesan-pesan untuk terus memelihara harmoni dan keutuhan masyarakat ini bisa diinternalisasi oleh masyarakat, dan diwujudkan dalam praktik ketika (publik) melakukan partisipasi politik,” tambahnya.

Tinggalkan Komentar