Pemanfaatan Teknologi Digital dengan Bijak Dapat Bendung Gerakan Radikalisme

Pemanfaatan Teknologi Digital dengan Bijak Dapat Bendung Gerakan Radikalisme - inilah.com

Di tengah wabah pandemi yang masih belum diketahui kapan akan berakhir, masyarakat Indonesia masih tetap perlu mewaspadai gerakan penguatan politik identitas agama yang ada di dalam media sosial.

“Agama menjadi rujukan yang banyak diminati, agama juga menjadi kekuatan etis dan moral yang mendorong perubahan masyarakat, agama berperan menjadi solusi,” ungkap Wakil Ketua DPR Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin) dalam webinar yang bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Menangkal Radikalisme”, Jumat (20/8/2021).

“Di sisi yang lain agama kemudian subur, kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang melihat agama sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik, tujuan ideologis, tujuan semangat negatif, salah satunya melalui jaringan media sosial,” lanjutnya.

Baca juga  Hadapi Libur Natal dan Tahun Baru, Pemerintah Percepat Vaksinasi COVID-19 bagi Lansia

Gua Muhaimin menyarankan kepada seluruh stakeholder untuk menjembatani semangat keagamaan dengan kebhinekaan yang dimiliki Indonesia agar ideologi radikalisme tidak berkembang dengan pesat.

“Dalam posisi seperti ini kita harus memiliki kemampuan semangat dan sekaligus intensitas untuk menjembatani semangat keagamaan ini dengan kesadaran untuk tidak mudah dimanfaatkan, nah suburnya radikalisme, fundamentalisme, agama dijadikan jalan untuk kemanfaatan ekonomi, politik, dan lainnya, ini yang harus diantisipasi,” kata Gus Muhaimin

Ketua Umum PKB itu menghimbau agar seluruh masyarakat Indonesia untuk bijak dalam penggunaan media sosial dalam rangka membendung gerakan radikalisme di Indonesia

“Kita harus memanfaatkan media sosial dengan sadar bahwa Indonesia adalah negara yang subur terhadap pertarungan ideologi dari ideologi-ideologi yang ada di seluruh dunia. Dalam konteks ini kita harus mampu membendung paham intoleransi, paham pro perpecahan, paham yang bersifat disintegratif terhadap Indonesia,” pungkasnya.

Baca juga  Hasil Riset IDAI: 37.706 Anak Terkena Covid-19 Gelombang Pertama

Tinggalkan Komentar