Selasa, 09 Agustus 2022
11 Muharram 1444

Pemegang Saham Lama GoTo Untung 2.500 Persen, Investor Ritel Berpotensi Buntung

Senin, 21 Mar 2022 - 11:07 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Editor : Ibnu Naufal
Pemegang Saham Lama GoTo Untung 2.500%, Investor Ritel Buntung?- inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Masa penawaran awal Initial Public Offering (IPO) saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) akan tutup Senin (21/3/2022). Pemegang saham lama bakal mengantongi keuntungan 2.500 persen kalaupun saham ini turun tajam ke Rp100 dari harga IPO. Namun nasib sebaliknya bagi investor ritel yang beli saham tersebut di pasar perdana.

“Kalau pemegang saham lama aman karena mereka masih profit 2.500 persen kalaupun saham GoTo turun ke Rp100 (dari harga IPO Rp316-Rp346). Yang belum jelas adalah investor ritel yang beli saham ini di pasar perdana,” kata Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Kapital kepada Inilah.com di Jakarta Senin (21/3/2022).

Dengan harga saham pada kisaran Rp 316-Rp 346, GoTo memperkirakan akan menghimpun dana sebanyak banyaknya sebesar Rp17,99 triliun, yang tentu akan menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah Indonesia.

Para Pemegang Saham Lama

Temasek, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, menjadi pemegang saham asing terbesar di GoTo dengan kepemilikan sebesar 9,02 persen. Kemudian disusul Google sebesar 7,73 persen saham. Lalu ada juga nama-nama besar perusahaan teknologi seperti Tencent dan Alibaba yang ikut memiliki saham GoTo.

Perusahaan pemilik raksasa e-commerce Alibaba Group Holding Limited, yakni Taobao China Holding Limited menguasai 8,76% saham GoTo. SoftBank merupakan investor terbesar Alibaba dengan kepemilikan saham sekitar 24,8% per Juli 2021. Akan tetapi, Softbank dan Alibaba tidak dapat menjadi pemegang saham pengendali karena hak suara mereka cukup kecil, yakni 3,95%.

Baca juga
Terkuak Si 'Predator' Herry Cari Dana dengan Cara Menyebar Foto Santriwati ke Masyarakat

Kendati tidak sebesar kepemilikan asing, ada beberapa perusahaan lokal yang ikut memiliki saham GoTo. Mereka adalah PT Astra International Tbk (ASII) yang mengoleksi saham Seri I, Seri J, dan Seri M berjumlah Rp34,80 miliar, setara 4,34 persen.

Akhir tahun lalu, Telkomsel menempatkan investasinya di Gojek sebesar US$150 juta. Baru-baru ini anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu menambah investasinya di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa sebesar US$300 juta. Secara total Telkomsel telah berinvestasi US$450 juta atau setara dengan Rp6,3 triliun dengan mengacu pada kurs Rp14.000 per dolar AS.

Meneropong Nasib Investor Ritel di IPO GoTo

Bagaimana dengan peluang nasib investor ritel di saham GoTo? “Jika harga saham BUKA masih di Rp800-an, harga IPO saham GoTo masih menarik,” timpal Alfred.

Dia mengungkapkan dengan harga saham BUKA di Rp268, saham perdana GoTo di kisaran Rp316-Rp346 masih lebih mahal. “Secara valuasi, saham BUKA masih lebih murah di level 0,1 kali sedangkan GoTO di posisi 0,6 kali,” ucapnya.

Baca juga
Menilik Asa Liverpool Juara Liga Inggris

Selain itu, dengan pelemahan saham BUKA hampir 70% dari harga IPO, ungkap dia, pemegang saham BUKA tak dapat menjual sahamnya untuk beralih membeli saham GoTo karena ‘nyangkut’.

Apalagi, lanjut dia, kinerja perseroan masih mencatatkan kerugian pascapenawaran umum tersebut. Berdasarkan hitung-hitungan Alfred, secara fundamental GoTo masih membukukan kerugian hingga Rp31,6 triliun di 2022 dan baru akan menyusut ke Rp12 triliun pada 2024.

Secara sektoral, ia menegaskan, perusahan-perusahaan teknologi merupakan sektor yang prospektif untuk jangka panjang karena masih berada dalam fase pertumbuhan. Akan tetapi, untuk jangka pendek, sektor ini masih mencatatkan kerugian karena harus ‘bakar uang’.

IPO sebagai Exit Strategy Pemegang Saham Lama

Di mata investor ritel, IPO menjadi salah satu exit strategy pemegang saham lama untuk mencairkan keuntungan pemegang saham besar. Gambaran ini juga sangat lekat dengan IPO perusahaan teknologi. Akan tetapi, tidak halnya dengan IPO GoTo.

Pemegang saham lama bakal tetap akan ‘stay’ karena adanya mekanisme lock up. Lock up mewajibkan para pemegang saham eksisting agar tidak dapat menjual sahamnya dalam periode yang beragam, antara 8 bulan hingga 2 tahun setelah IPO.

Baca juga
Di Beranda Istana Alhambra (7 – Santai di Buen Retiro Park)

Ketentuan ini menunjukkan komitmen GoTo untuk tidak menjadikan IPO sebagai cara keluar cepat bagi para pemegang saham lama tersebut. “Tapi, itu 8 bulan hingga 2 tahun. Setelah 2 tahun pun GoTo masih mencatatkan kerugian sebesar Rp12 triliun pada 2024,” timpal Alfred.

Selain itu, apabila harga saham menurun di bawah tingkat harga IPO, opsi greenshoe juga dapat dilakukan dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 15 persen saham dari jumlah yang ditawarkan pada saat IPO, dalam jangka waktu maksimal 30 hari.

“Kalau ini berlaku untuk semua saham GoTo, bagus untuk investor ritel. Tapi, perlu dilihat dulu apakah ini berlaku untuk semua saham atau tidak,” imbuh Alfred.

Tinggalkan Komentar