Kamis, 06 Oktober 2022
10 Rabi'ul Awwal 1444

Pemicu di Balik Serangan Terbaru Israel dan Gaza

Senin, 08 Agu 2022 - 16:00 WIB
Israel Gaza
(foto: Anadolu Agency)

Aksi kekerasan terbaru kembali terjadi di wilayah Palestina oleh rezim Zionis Israel. Ini merupakan pertikaian paling serius antara Israel dan Gaza dalam setahun terakhir. Puluhan warga sipil tak berdosa menjadi korbannya. Apa yang sebenarnya menyulut serangan baru ini?

Militer Israel memperingatkan bahwa operasi terbaru ini, dengan nama sandi ‘Breaking Dawn’, dapat berlangsung selama sepekan. Gerilyawan Palestina di Jalur Gaza pun tak tinggal diam sehingga terus terjadi aksi saling serang termasuk dengan serangan udara roket.

Perkembangan terbaru dari serangan Israel ke Gaza menunjukkan korban tewas terus bertambah, sejauh ini mencapai 32 korban jiwa. Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan 24 warga Palestina tewas dalam serangan di Jalur Gaza, lokasi militer Israel menargetkan anggota dari kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ). Mereka yang tewas dalam serangan ini di antaranya enam anak-anak, dan sejumlah anggota Jihad Islam termasuk pemimpinnya, Tayseer Jabari.

Sebelumnya, Israel mengatakan telah menangkap 19 orang anggota kelompok Jihad Islam dalam serangan di Tepi Barat yang diduduki. Israel mengatakan serangan itu menindaklanjuti adanya ‘ancaman langsung’ dari kelompok tersebut.

Lalu apa yang sebenarnya melatarbelakangi serangan terbaru Israel ke wilayah Palestina ini? Pasukan Jihad Islam Palestina menjadi target serangan Israel kali ini. Mengutip Associated Press, Jihad Islam adalah kelompok yang lebih kecil dari dua kelompok militan Palestina utama di Jalur Gaza, dan kalah jumlah dengan kelompok Hamas yang berkuasa. Tapi ia menikmati dukungan keuangan dan militer langsung dari Iran. Kelompok ini telah menjadi kekuatan pendorong dan terlibat dalam serangan roket serta konfrontasi lainnya dengan Israel.

Baca juga
Israel dan Pejuang Palestina Saling Rudal, Gaza Siap Mendidih

Jihad Islam ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Departemen Luar Negeri AS, Uni Eropa dan pemerintah lainnya. Seperti Hamas, Jihad Islam bersumpah untuk menghancurkan Israel. Kelompok ini didirikan pada 1981 dengan tujuan mendirikan negara Islam Palestina di Tepi Barat, Gaza, dan semua yang sekarang disebut Israel.

Hamas, yang menguasai Gaza pada 2007 dari Otoritas Palestina yang diakui secara internasional, seringkali terbatas kemampuannya untuk bertindak karena memikul tanggung jawab untuk menjalankan urusan sehari-hari di wilayah miskin itu. Jihad Islam tidak memiliki tugas seperti itu dan telah muncul sebagai faksi yang lebih militan, sehingga kadang-kadang melemahkan otoritas Hamas.

Koneksi Iran

Musuh utama Israel, Iran, memasok Jihad Islam dengan pelatihan, keahlian, dan uang, tetapi sebagian besar senjata kelompok itu diproduksi secara lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini telah mengembangkan persenjataan yang setara dengan Hamas, dengan roket jarak jauh yang mampu menyerang wilayah metropolitan Tel Aviv di Israel tengah.

Meskipun basisnya adalah Gaza, Jihad Islam juga memiliki kepemimpinan di Beirut dan Damaskus, di mana ia memelihara hubungan dekat dengan para pejabat Iran. Ziad al-Nakhalah, pemimpin tertinggi kelompok itu, berada di Teheran bertemu dengan para pejabat Iran ketika Israel memulai operasinya di Gaza pada hari Jumat (5/8/2022).

Ini bukan pertama kalinya Israel membunuh para pemimpin Jihad Islam di Gaza. Komandan yang dibunuhnya pada hari Jumat, Taiseer al-Jabari, menggantikan Bahaa Abu el-Atta yang dibunuh oleh Israel dalam serangan tahun 2019. Kematiannya merupakan pembunuhan profil tinggi pertama terhadap tokoh Jihad Islam oleh Israel sejak perang 2014 di Jalur Gaza.

Baca juga
Upaya AS-Israel Ubah UNRWA Serang Hak Pengungsi Palestina

Al-Jabari, 50, adalah anggota ‘dewan militer’ Jihad Islam, badan pembuat keputusan kelompok itu di Gaza. Dia bertanggung jawab atas kegiatan militan Jihad Islam di Kota Gaza dan Jalur Gaza utara selama perang 2021. Israel mengatakan dia sedang bersiap untuk meluncurkan serangan rudal anti-tank terhadap Israel.

Kematiannya terjadi setelah penangkapan oleh Israel terhadap seorang komandan senior Jihad Islam di Tepi Barat awal pekan ini yakni Bassam al-Saadi, 62, yang merupakan pejabat senior Jihad Islam di Tepi Barat utara. Menurut media Israel, al-Saadi sedang bekerja untuk memperdalam jangkauan kelompok itu di Tepi Barat.

Al-Saadi menghabiskan total 15 tahun selama beberapa tugas di penjara Israel karena menjadi anggota Jihad Islam yang aktif. Israel membunuh dua putranya yang juga militan Jihad Islam dalam insiden terpisah pada 2002, dan menghancurkan rumahnya selama pertempuran sengit di kota Jenin, Tepi Barat, pada tahun yang sama.

Sejak merebut kekuasaan pada 2007, Hamas telah berperang empat kali dengan Israel, seringkali dengan dukungan dari para pejuang Jihad Islam. Selain gejolak awal tahun ini, perbatasan selama ini dalam kondisi sepi sejak perang 11 hari tahun lalu.
Militan Jihad Islam telah menantang Hamas dengan menembakkan roket, seringkali tanpa mengaku bertanggung jawab, untuk meningkatkan profilnya di antara warga Palestina sementara Hamas mempertahankan gencatan senjata. Sementara di sisi lain, Israel menganggap Hamas bertanggung jawab atas semua tembakan roket yang datang dari Gaza.

Baca juga
Indonesia Putuskan Tak Ikut Miss Universe di Israel, Ini Alasannya

Hamas harus berjalan di atas tali antara menahan tembakan Jihad Islam di Israel sambil menghindari kemarahan warga Palestina jika menindak kelompok itu.

Ajang Kampanye Politik Israel

Pertempuran saat ini terjadi ketika Israel terperosok dalam krisis politik yang berkepanjangan. Aksi militer Israel kemarin dapat berpengaruh terhadap aksi pemilih di tempat pemungutan suara untuk kelima kalinya dalam waktu kurang dari empat tahun pada musim gugur. Pemimpin sementara Yair Lapid mengambil alih kepemimpinan awal musim panas ini setelah pemerintahan beragam ideologis yang ia bantu membentuknya runtuh dan memicu pemilihan baru.

Lapid, mantan pembawa acara dan penulis TV berhaluan tengah, tidak memiliki latar belakang keamanan yang dianggap penting oleh banyak orang Israel untuk menjadi pemimpin. Nasib politiknya dapat bertumpu pada pertempuran saat ini. Aksi serangan ini bisa menjadi dorongan dan membangun image bahwa dirinya merupakan pemimpin yang cakap untuk melaksanakan operasi panjang.

Lapid dari Partai Yesh Atid berharap dapat menyingkirkan mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, seorang yang dikenal ahli dalam keamanan yang diadili karena tuduhan korupsi, dalam pemungutan suara yang akan datang.

 

Tinggalkan Komentar