Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Pemilih Rasional Pilih Anies Baswedan Berdasarkan Prestasi dan Kinerja

Selasa, 29 Nov 2022 - 11:31 WIB
Anies Baswedan - inilah.com
Anies Baswedan dalam silaturahmi saat berada di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (28/10/2022). (Foto: Antara)

Founder sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei Voxpol Center Research and Consulting yang dilakukan pada November 2022, terdapat sebuah perbedaan mencolok dalam pemilihan calon presiden (capres) antara Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto.

“Pemilih Anies memilih berdasarkan alasan rasional dengan melihat ‘prestasi’ dan ‘kinerja’. Ganjar dipilih berdasarkan alasan sosiologis di mana sosok pemimpin yang ‘dekat dengan rakyat’ menjadi pertimbangan utama,” kata Pangi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada Selasa (29/11/2022).

“Sedangkan Prabowo dipilih karena faktor psikologis, dimana sikap ‘tegas’ pemimpin menjadi pertimbangan utama,” lanjut dia.

Pangi juga menyebut bahwa Anies memperoleh 21,2 persen suara terkait alasan para responden dalam memilih capres. Anies disebut sebagai gubernur yang berprestasi.

Baca juga
DPR Endus Ada Konflik Kepentingan Investasi Telkom Rp6,7 Triliun di GOTO

“Dalam model pertanyaan yang sama, sebesar 42 persen menjawab Ganjar Pranowo dekat dengan rakyat. Sementara Prabowo Subianto sebesar 35,4 persen dipilih karena dianggap pemimpin yang tegas,” jelasnya.

Tak hanya itu, pada kategori pemilih rasional, Pangi menyinggung bahwa dalam menentukan pilihan politiknya, para responden memiliki pertimbangan terkait integritas, kapasitas, dan kompetensi.

“Sehingga ‘rekam jejak’ kandidat menjadi pertimbangan yang sangat penting. Pemilih dalam melakukan penilaian terhadap kandidat harus memiliki informasi seputar ‘rekam jejak’ kandidat di masa lalu, dan memproyeksikannya di masa akan datang,” terang Pangi.

Oleh karena itu, ia menyebut bahwa pemilih cenderung akan memilih calon mana yang paling membawa keuntungan dan manfaat, yang berkaitan dengan persamaan kepentingan.

Baca juga
Jokowi Bakal Kesulitan Bangun Istana di IKN dengan Urun Dana Rakyat

“Hal ini berangkat dari asumsi pemilih, tak ubahnya konsumen yang selalu berperilaku memaksimalkan manfaat yang didapatkan (utility maximation) dari setiap proses transaksi,” ungkap Pangi.

Dengan begitu, rekam jejak menjadi poin yang penting bagi pemilih dalam menentukan pilihan politiknya. “Oleh karena itu kandidat yang berprestasi menjadi pilihan paling objektif di segmen ini, janji politik yang sifatnya wacana dan sebatas angan-angan sangat tidak relevan (untuk) mempengaruhi pemilih yang rasional,” jelas Pangi.

Ia menambahkan bahwa pemilih lebih percaya ‘bukti’ bukan ‘janji’. Hal ini tentu saja akan menguntungkan calon presiden yang mempunyai ‘rekam jejak’ sebagai pemimpin yang mempunyai segudang ‘prestasi’. “Rekam jejak ini akan lebih mudah untuk dikapitalisasi sebagai sarana untuk menyakinkan publik, bahwa dia layak memimpin sebagai seorang presiden,” ujar Pangi lebih lanjut.

Tinggalkan Komentar