Pemilik GCA Siap Bantu Pemerintah Lunasi Utang, Tapi Syaratnya Begini

Pemilik GCA Siap Bantu Pemerintah Lunasi Utang, Tapi Syaratnya Begini - inilah.com

Mungkin banyak yang belum tahu, utang pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) per Juni 2021, menggunung hingga Rp6.554,56 triliun. Super gede kan, pasti mumet untuk melunasinya.

Berdasarkan data Buku APBN KiTa Juli 2021, utang pemerintah hingga akhir Juni 2021, tembus Rp6.554,56 triliun. Jadi, urusan utang di era Jokowi ini, memang tidak main-main. Bahkan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengkhawatir pemerintah tidak mampu membayar utang. Pasalnya, rasio utang Indonesia terhadap penerimaan sudah tembus 369 persen.

Angka itu jauh di atas rekomendasi International Debt Relief (IDR) sebesar 92-176 persen dan rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 90-150 persen. “Tren penambahan utang pemerintah dan biaya bunga melampaui pertumbuhan PDB dan penerimaan negara yang memunculkan kekhawatiran terhadap penurunan kemampuan pemerintah untuk membayar,” tulis BPK dalam ringkasan eksekutif LHP LKPP 2020, Juli lalu.

Baca juga  Waktu Jabat Plt Terlalu Lama, Pemilu Rawan Dikondisikan

Informasi saja, komposisi utang negara itu, terdiri dari pinjaman sebesar Rp842,76 triliun (12,86%), dan Surat berharga Negara (SBN) sebesar Rp 5.711,79 triliun (87,14%).

Dan, utang berbentuk pinjaman itu terbagi dua yakni pinjaman dalam negeri sebesar Rp12,52 triliun, dan pinjaman luar negeri (ULN) sebesar Rp830,24 triliun. Sementara, utang dari SBN berasal dari pasar domestik sebesar Rp4.430,87 triliun dan valuta asing alias valas sebesar Rp1.280,92 triliun.

Pepatah bilang, nasi sudah menjadi bubur. Soal utang menggunung. ya sudahlah. Perlu dipikirkan, bagaimana melunasinya. Nah, ada tawaran menarik dari Inderawan Hery Widyanto (IHW), pemilik Global Collateral Account (GCA) dengan nomor 103.357.777.

Baca juga  Jokowi Kemungkinan Bisa Perpanjang Masa Jabatan Jenderal Andika hingga 2024

Dirinya menawarkan bantuan pelunasan utang. Wow. Namun dengan sejumlah syarat. Jika pemerintah ingin menggunakan dana (GCA) yang tersimpan di sejumlah bank sentral anggota Committee 300. “IHW ingin sebelum pemerintah mengajukan penggunaan GCA, utang-utang yang selama ini didapat dibeberkan dulu, baik utang yang peroleh dari negara lain atau dari lembaga keuangan internasional, ” kata juru bicara IHW, Amir Hamzah, Jumat (27/8/2021).

Terang-terangan Amir mengungkapkan bahwa IHW curiga di antara pinjaman pemerintah Indonesia,  ada yang bersumber GCA, setelah lebih dulu dicairkan si pemberi utang.

Kalau benar di antara utang itu ada yang berasal dari GCA, kata dia, maka akan dibantu untuk diputihkan. Sehingga dana GCA yang akan digelontorkan IHW, Bisa dimanfaatkan untuk program-program yang menyangkut tiga aspek, yakni tata negara, tata niaga dan tata sosial. Artinya, dana bantuannya bukan untuk membayar utang. “Karena itu, penting bagi pemerintah untuk membeberkan dari mana aaja selama ini utang didapat,” tegas Amir.

Baca juga  Erick Thohir Mimpi Berinvestasi Bangun Rumah Haji di Mekkah

Tentu saja, ini tawaran menarik di tengah seretnya keuangan negara. Di mana, pemerintah perlu memberikan catatan sumber utang luar negerinya. Kini, bolanya di kaki pemerintah, mau ditendang kemana?

Tinggalkan Komentar