Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Pemimpin Rambut Putih dan Jebakan ke Jokowi di Pusaran Relawan

Senin, 28 Nov 2022 - 08:03 WIB
Relawan Jokowi Nusantara Bersatu
Presiden Jokowi mengacungkan jempol saat menghadiri acara Nusantara Bersatu yang digelar relawan Jokowi di Stadion GBK, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/11/2022). (Foto: Inilah.com/Diana Rizky)

Pertemuan para relawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengusung tema Nusantara Bersatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (26/11/2022), memantik kontroversi.

Bukan hanya menyisakan sampah yang berserakan atau suguhan acara senang-senang dengan gempita panggung hiburan di tengah penderitaan korban gempa Cianjur. Namun lebih dari itu, dinilai ada dampak buruk yang  jauh lebih besar bagi bangsa ini dari digelarnya acara relawan Jokowi di GBK.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang partainya sebagai pengusung Jokowi dalam Pemilu 2014 dan 2019, bahkan terang-terangan langsung mengeluarkan pernyataan keras atas digelarnya acara yang menghadirkan Presiden Jokowi oleh para relawannya itu.

Secara pribadi, Hasto sangat menyesalkan adanya elite relawan yang dekat dengan kekuasaan, lalu memanfaatkan kebaikan Presiden Jokowi, sehingga menurunkan citra Presiden Jokowi. Akibatnya, bagi Hasto, keberhasilan kepemimpinan Presiden Jokowi di acara G20 yang membanggakan di dunia, dan rakyat Indonesia, lalu dikerdilkan hanya urusan gegap gempita di GBK.

Hasto memandang kepemimpinan Presiden Jokowi yang dianggap sudah going global, direduksi dengan cara-cara yang tidak elegan yang dilakukan oleh kelompok relawan. Sepertinya, kata Hasto, elite relawan tersebut mau mengambil segalanya, yang jika tidak dipenuhi keinginannya mereka mengancam akan membubarkan diri, tetapi jika dipenuhi elite tersebut melakukan banyak manipulasi.

Hasto menyebut banyak orang di sekitar Presiden Jokowi yang kurang paham bahwa elite relawan tersebut kumpulan berbagai kepentingan. Padahal seharusnya menyangkut urusan bangsa dan negara perlu benar-benar dipahami, apalagi kepemimpinan ke depan merupakan persoalan bersama yang harus dijawab dengan jernih, penuh pertimbangan, dan harus mampu mewujudkan kejayaan bagi bangsa dan negara Indonesia.

PDI Perjuangan pun mengimbau kepada ring satu Presiden Jokowi agar tidak bersikap asal bapak senang (ABS) dan benar-benar berjuang keras bahwa kepemimpinan Jokowi yang penuh prestasi sudah on the track. Bahkan, dikatakan Hasto, prestasi Jokowi itu untuk bangsa Indonesia dan dunia, bukan untuk kelompok kecil yang terus melakukan manuver kekuasaan.

Baca juga
Minyak Goreng Raib, Ekonom: Sejak Zaman Romawi Kuno Pengaturan Harga selalu Gagal

“Apa yang terjadi dengan acara Nusantara Bersatu menjadi pelajaran politik yang sangat penting, terlebih di dalam cara mobilisasi tersebut, sampai dilakukan cara-cara menyajikan sesuatu yang tidak sehat,” kata Hasto menekankan dalam keterangan resminya sehari setelah acara relawan Jokowi di GBK.

Rambut putih dan jebakan

Presiden Jokowi yang merupakan kader PDIP pada acara di GBK itu menyebut bahwa ciri-ciri pemimpin ideal adalah yang berambut putih dan berkerut. Pernyataan Jokowi itu dalam pandangan publik dinilai sebagai pesan politik melalui isyarat, yang tidak lain adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah kader PDIP yang oleh sejumlah lembaga survei diunggulkan sebagai salah satu calon presiden potensial 2024. PDIP sendiri sejauh ini belum memilih kadernya untuk maju sebagai capres pada Pemilu 2024.

Merespons pernyataan Jokowi tersebut, Hasto Kristiyanto menegaskan, pemimpin  tidak ditentukan oleh warna rambut, sebab warna rambut sama belum tentu hati dan pikiran sama.

“Apa yang disampaikan Pak Jokowi hanya gimmick politik. Bagi PDI Perjuangan, pemimpin yang mumpuni itu lahir dari gemblengan kaderisasi partai, memahami hakikat persoalan rakyat dengan jawaban kebijakan yang akan diperjuangkanya,” kata Hasto kepada Inilah.com, Minggu (27/11/2022).

Politisi PDIP lainnya, Deddy Yevri Sitorus meminta para relawan Jokowi mampu menjaga kehormatan Presiden Jokowi sebagai kepala negara. Anggota DPR RI itu meminta para relawan tidak menjebak Jokowi dengan melakukan manuver hingga merugikan kewibawaan Jokowi sebagai orang nomor satu di Indonesia.

“Karena itulah saya minta jangan menjebak Pak Jokowi. Beliau (Jokowi) presiden RI dan bukan presiden relawan. Jangan demi ambisi, kekuasaan, dan materi, para relawan melakukan manuver-manuver yang di luar ruang lingkupnya, sehingga malah merugikan kewibawaan Pak Jokowi,” kata Deddy dalam keterangannya, Minggu (27/11/2022).

Deddy mengatakan hal itu guna menanggapi kontroversi acara gerakan Nusantara Bersatu yang digelar oleh sekelompok elite dengan menggunakan nama Presiden Jokowi di GBK.

Baca juga
Gunung Semeru Erupsi, Warga Panik Berlarian

Ia menegaskan selama ini PDI Perjuangan selalu berjuang untuk mendukung dan membela Jokowi. Namun, para relawan lebih asyik bermanuver politik kekuasaan yang merugikan citra Jokowi. Oleh karena itu, Deddy mengingatkan bahwa sebagai kepala negara, Jokowi sebaiknya tidak diseret-seret oleh kelompok relawan dalam pusaran ke arah manuver terkait Pilpres 2024.

“Jangan sampai pilpres yang akan datang dituduh berpotensi curang karena manuver relawan yang akhirnya mengesankan bahwa presiden (Jokowi) memiliki preferensi tertentu terkait kontestasi (Pemilu) 2024.”

Tak hanya mengingatkan, Deddy yang menyesalkan manuver relawan Jokowi yang menggelar kegiatan Nusantara Bersatu di GBK, bahkan menyebut akan membuat perhitungan dengan pihak-pihak dan para petualang politik yang merugikan martabat presiden.

Deddy menegaskan, saat ini bangsa Indonesia masih berduka karena gempa Cianjur. “Banyak orang yang masih berada di pengungsian dan belum semua korban ditemukan, masa para elite relawan haus kekuasaan itu lebih asyik bicara pemilu hingga lupa tanggung jawab sejati sebagai relawan.”

Selain itu, GBK juga seharusnya tidak boleh digunakan untuk perhelatan acara seperti itu. “Kan ada larangan dari menpora untuk pemakaian GBK hingga penyelenggaraan Piala Dunia U-20 tahun 2023,” kata anggota DPR dari daerah pemilihan Provinsi Kalimantan tersebut.

Oleh karena itu, Deddy menilai para inisiator Gerakan Nusantara Bersatu telah “menjebak” Presiden Jokowi karena mereka tahu Jokowi tak mungkin bisa mengelak jika relawannya mengundang hadir di suatu acara. “Saya yakin Pak Jokowi terpaksa datang ke acara itu; bukan kemauan beliau,” ujar Deddy.

Tak konsisten dan blunder

Pengamat politik dari Universitas Andalas, Aidinil Zetra mencermati di satu sisi pernyataan Presiden Jokowi itu menunjukkan Jokowi sedang mengevaluasi dirinya bahwa selama ini ia gagal menjadi pemimpin ideal karena rambutnya tidak sampai putih dan kening tidak sampai berkerut memikirkan rakyat.

Kedua, kata Aidinil, Jokowi menunjukkan sikap yang tidak konsisten dalam mendukung capres. Sebab, sebelumnya Jokowi menyatakan dukungan terhadap Prabowo Subianto dan Airlangga Hartarto, namun sekarang memberi sinyal melalui politik asosiatif, yaitu dengan meng-endorse Ganjar Pranowo.

Baca juga
Mbak Dorce, Coba Dengar Ceramah dan Pesan Ustadz Adi Hidayat

“Jadi para capres harus hati-hati dengan ucapan Pak Jokowi. Jangan cepat percaya dengan ucapan presiden soal dukungan terhadap calon presiden,” kata Aidinil kepada Inilah.com, Senin (28/11/2022).

Mengenai elite PDIP yang menilai relawan Jokowi merugikan kewibawaan Jokowi sebagai Presiden, Aidinil sependapat. Ia menilai kehadiran dan pidato Jokowi dalam acara relawan Nusantara Bersatu tersebut di saat Indonesia sedang berduka karena bencana gempa bumi di Cianjur dan sempat meneriakkan tiga periode membuat Jokowi sebagai presiden menjadi blunder.

Senada dengan Aidinil, pengamat politik Universitas Nasional (Unas), TB Massa Djafar mengamati Presiden Jokowi bukanlah sebagai sosok pemimpin yang kuat terkait dengan pernyataan sejumlah elite PDIP bahwa acara relawan Jokowi di GBK, merugikan kewibawaan Jokowi.

“Jika elite PDIP dalam perhelatan di GBK kemarin menilai merugikan kewibawaan Jokowi, menunjukkan dan mengkonfirmasi bahwa penilaian sebagian pengamat, memang Jokowi bukanlah sebagai sosok strong leader, di mana langkah-langkah politik Jokowi lebih banyak dikendalikan oleh elite politik di sekitarnya,” kata TB Massa Djafar kepala Inilah.com, Minggu (27/11/2022).

Ia juga mencermati hal tersebut termasuk soal gonjang-ganjing perseteruan pencapresan Ganjar Pranowo pada Pemilu 2024. “Apakah itu merupakan keputusan PDIP atau keputusan Jokowi yang tak lain kepanjangan tangan para oligarki ketimbang aspirasi PDIP?” ujar dosen Pasca Sarjana Unas ini.

Dengan begitu, kata TB Massa Djafar, hal ini mempengaruhi sikap para relawan, yakni terkesan lepas kontrol dan blunder yang ujungnya mempertaruhkan wibawa Jokowi.

Tinggalkan Komentar