Sabtu, 21 Mei 2022
20 Syawal 1443

Penderita Hipertensi Paru Perhatikan Denyut Nadi Ketika Olahraga

Penderita hipertensi paru
unsplash

Penderita hipertensi paru bisa tetap berolahraga. Meski begitu, harus memperhatikan denyut nadi ketika melakukan aktivitas fisik.

Pakar Kardiologi Anak dan Penyakit Jantung Bawaan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K) menyebutkan bahwa penderita hipertensi paru tetap bisa berolahraga namun dengan intensitas ringan.

Presiden Terpilih Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tahun 2019 – 2022 ini mengatakan olahraga berat harus dihindari oleh orang dengan hipertensi paru. Jika diperlukan, pasien juga bisa meminta rekomendasi dari dokter jantung untuk mengetahui olahraga apa yang baik dilakukan.

“Masalah olahraga ada parameternya. Parameternya ada di dokter jantung, ada namanya dilakukan uji latih beban, dari situ nanti dihitung dan diresepkan yang bisa dikasih ke personal trainer atau rekomendasi latihan,” ujar dr. Radityo temu media virtual pfizer di Jakarta pada Jumat, (11/3/2022).

Baca juga
Inilah Tujuh Tips Konsumsi Makanan Ringan yang Sehat

Jika sulit untuk melakukan uji latih beban, pasien bisa menghitung sendiri denyut nadinya. Menurut dr. Radityo denyut tersebut maksimium berada di angka 110 per menit.

“Intinya aktivitas ringan, kalau sudah 110 kita stop. Badan kita ini punya alarm kalau sudah lelah, stop harus istirahat. Jangan digeber terus,” kata dr. Radityo.

Tujuan dari olahraga adalah untuk membuat kondisi tubuh pasien tetap bugar. Sebab, tidak sedikit pasien hipertensi paru yang memiliki komorbid obesitas.

Meski tidak ada gejala yang khas pada hipertensi paru, namun mengorok saat tidur pada orang bertubuh gemuk merupakan salah satu indikasinya.

Baca juga
Rebutan Warisan Vanessa dan Bibi, Ustadz: Ini Soal Etika, Malu Dong dengan Gala

“Penyebab kegemukan ini berhubungan dengan hipertensi paru, berkaitan dengan paru obstruktif. Kalau tidur dia ngorok. Yang bagus itu tidak ngorok. Apalagi ngorok berhenti-berhenti, itu sangat tidak baik dan sebabkan secondary pulmonary hypertension,” kata dr. Radityo.

Penderita hipertensi paru batasi aktivitas yang berat

Sementara itu, Pakar Kardiologi Anak Rumah Sakit Adam Malik Medan, dr. Rizky Adriansyah, M.Ked (Ped), Sp.A(K) mengatakan bahwa penderita hipertensi paru dianjurkan untuk membatasi aktivitas, khususnya yang berat. Pekerjaan yang bisa menyebabkan stres juga perlu untuk dihindari.

“Tidak melakukan aktivitas berat bahkan mengurangi pekerjaan berat yang menimbulkan stres untuk mencegah gejala yang makin berat,” kata dr. Rizky.

Baca juga
10 Penyakit Anak di Musim Hujan yang Perlu Diwaspadai

Untuk makanan sendiri, tidak ada menu khusus untuk penderita hipertensi paru. Hal yang paling penting adalah penggunaan obat tidak boleh berhenti sepanjang hidupnya.

“Makan tidak ada yang spesifik, kalau pada anak makanan disesuaikan pada tahapan usianya. Tapi biasanya baru bisa diintervensi kalau dia sudah remaja dan harus rutin minum obat,” paparnya.

Tinggalkan Komentar