Pengadilan Militer Myanmar Jatuhkan Vonis 11 Tahun Penjara kepada Wartawan AS

Danny Fenster (CNN)

Pengadilan militer Myanmar telah menjatuhkan vonis hukuman 11 tahun penjara terhadap wartawan AS Danny Fenster.

Mengutip BBC News, Fenster dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Imigrasi, menjalin relasi yang melanggar hukum, dan menghasut publik untuk melawan militer.

Dia juga dituntut atas tuduhan makar dan terorisme, perbuatan dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. Akan tetapi, pengadilan belum menjatuhkan vonis atas dua tuduhan tersebut.

Fenster adalah redaktur pelaksana portal berita berbahasa Inggris, Frontier Myanmar. Berbasis di Yangon, portal berita itu menyebut lembaganya sebagai media yang independen. Selama ini portal tersebut dikenal banyak meliput kudeta militer di Myanmar.

Baca juga  Pemilih Jokowi Beralih Pilih Prabowo di Pilpres 2024

Telah bekerja untuk Frontier Myanmar selama sekitar setahun, pria berusia 37 tahun itu ditangkap di Bandara Internasional Yangon pada Mei lalu, saat hendak bepergian ke luar Myanmar untuk menemui keluarganya.

Hingga kini Fenster masih ditahan di Penjara Insein, Kota Yangon.

Fenster adalah satu dari puluhan wartawan yang ditahan sejak kudeta militer berlangsung pada Februari 2021 lalu.

Menurut Frontier, gugatan terhadap Fenster dilayangkan karena dia pernah bekerja untuk media Myanmar Now.

“Semua tuntutan didasarkan pada tuduhan bahwa dia pernah bekerja untuk Myanmar Now, media yang telah dilarang. Danny sudah mengundurkan diri dari Myanmar Now pada Juli 2020 dan bergabung dengan Frontier bulan berikutnya. Sehingga pada saat dia ditangkap paa Mei 2021, dia sudah bekerja dengan Frontier selama lebih dari sembilan bulan,” sebut situs Frontier.

“Sama sekali tidak ada dasar untuk menjatuhkan hukuman terhadap Danny berdasarkan tuduhan-tuduhan itu,” sambungnya.

Baca juga  2 Anak di Intan Jaya Terkena Tembakan KKB

Sejak kudeta berlangsung, junta militer Myanmar telah membungkam seluruh media independen serta menangkap puluhan wartawan.

Sedikitnya 1.178 orang dibunuh dan 7.355 ditahan, digugat, atau dijatuhi hukuman sejak militer mengambil alih kekuasaan.

Bulan lalu, junta militer membebaskan ratusan tahanan politik, namun Fenster tidak termasuk di antara mereka.

AS telah mendesak junta militer Myanmar untuk membebaskan Fenster sesegera mungkin.

“Penahanan Danny yang benar-benar tidak adil gamblang terlihat oleh dunia,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada kantor berita AFP.

“Rezim harus mengambil langkah bijak berupa pembebasannya sekarang… Penahanannya secara berkelanjutan tidak bisa diterima. Jurnalisme bukanlah kejahatan.”

Baca juga  Komunikasi Kebijakan Publik Masa Pandemi Masih Belum Baik

Saudara kandung Danny, Bryan Fenster, mengirim pesan kepada kantor berita Reuters.

“Hati kami bersedih dengan tuduhan-tuduhan ini, sama seperti tuduhan-tuduhan lain terhadap Danny.”

Tinggalkan Komentar