Sabtu, 26 November 2022
02 Jumadil Awwal 1444

Pengamat: Brigadir J Tewas Dieksekusi Terlalu Spekulatif

Senin, 18 Jul 2022 - 21:03 WIB
20220718 184331 - inilah.com
Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo didampingi wakapolri Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono, Asisten ASDM Irjen Pol. Wisnu Widada, dan Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Dedi Prasetyo menyampaikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/7/2022). Kapolri mengumumkan Irjen Ferdy Sambo nonaktif dari jabatan Kadiv Propam. Foto: Antara

Direktur Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai pernyataan keluarga Brigadir J yang menyebutkan adanya luka sayatan dan benturan benda tumpul tidak bisa dijadikan pijakan almarhum dengan nama lengkap Nopryansah Yosua Hutabarat tewas dieksekusi. Namun hal ini menunjukkan penanganan kasus tewasnya anggota polisi di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif Irjen Ferdy Sambo harus ditangani serius, cermat dan penuh kehati-hatian.

Fahmi menyebutkan, data-data yang disampaikan pihak keluarga yang telah membuat laporan polisi ke Bareskrim Polri bisa menjadi informasi awal untuk mengembangkan penyelidikan. Keluarga juga bisa meminta penelitian forensik sebagai data pembanding dari hasil forensik yang sejauh ini belum dirilis Polri.

Baca juga
Kapolri: Penggunaan Gas Air Mata Kedaluwarsa Tragedi Kanjuruhan Didalami, Libatkan Ahli Kimia

“Soal apakah Brigadir J dieksekusi, itu spekulatif. Tanpa bukti dan keterangan yang cukup, hal itu hanya sebatas praduga dan tak bisa menjadi kesimpulan,” kata Fahmi, di Jakarta, Senin (18/7/2022).

Menurutnya, penanganan perkara ini bergantung dari iktikad baik Polri. Apabila Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjunjung profesionalisme dan penegakan hukum tanpa pandang bulu, transparan dan berkeadilan maka, pengusutan kasus ini haruslah tuntas.

“Karena itu Polri juga perlu memahami bahwa yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan hanya ketepatan dan kecermatan tapi juga kecepatan. Jangan sampai anggapan bahwa Polri melakukan pengungkapan dan penanganan perkara karena adanya tekanan publik dan politik terus berulang,” tuturnya. “Untuk memperbaiki situasi agar prasangka tak meluas, meningkatkan ketidakpercayaan publik dan memperburuk citra Polri, maka perkembangan penyelidikan oleh Timsus juga perlu diinformasikan secara berkala.”

Tinggalkan Komentar