Rabu, 25 Mei 2022
24 Syawal 1443

Pengamat: Feronikel Dapat Gantikan Emas di Antam

Feronikel Gantikan Emas Antam
Produk feronikel Antam menjadi subsitusi kinerja fundamental saat salah satu produknya yang lain seperti emas mengalami koreksi. Foto: Istockphoto.com

Pengamat mengaku optimistis dengan masa depan usaha PT Aneka Tambang Tbk. Perusahaan pelat merah dengan kode saham ANTM tersebut tidak hanya terpaku pada satu sektor usaha seperti emas, tetapi juga sektor yang lain. Salah satunya adalah feronikel.

“Feronikel, terutama Antam dengan diversifikasi hasil tambang menurut saya memiliki prospek yang menarik,” kata Pengamat Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Minggu (30/1/2022).

Dalam siaran pers Antam yang diterbitkan melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan lalu cukup menggembirakan, terutama dalam komoditas feronikel.

Selama 2021, Antam mencatatkan produksi feronikel (unaudited) sebesar 25.818 ton nikel dalam feronikel (TNi). Angka tersebut relatif stabil jika dibandingkan dengan tingkat produksinya pada 2020.

Sementara, volume penjualan produk feronikel Antam di tahun yang sama mencapai 25.992 TNi.

Tidak hanya itu, produksi bijih nikel (unaudited) Antam yang digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel dan penjualan kepada pelanggan domestik, juga mencapai 11,01 juta wet metric ton (wmt).

Baca juga
Kontraksi Ekonomi AS Angkat Harga Emas 2,6 Dolar AS

Angka tersebut meningkat 131% secara tahunan (yoy) dibandingkan dengan tingkat produksi tahun 2020 sebesar 4,76 juta wmt.

Kemudian, kinerja penjualan bijih nikel Antam sepanjang 2021 mencapai 7,64 juta wmt. Angka ini tumbuh 132% dari realisasi penjualan di tahun 2020 sebesar 3,30 juta wmt.

Feronikel sebagai Substitusi Produk Lain

Lucky mengapresiasi aneka usaha PT Antam. Menurut dia, dengan diversifikasi hasil tambangnya, sangat memungkinkan bagi Antam untuk dapat menghindari kerugian dan sekaligus meraup keuntungan yang lebih maksimal.

Lucky mencontohkan fenomena pada awal 2020 di mana Antam terancam mengalami pelemahan yang cukup tajam, terutama akibat dampak Pandemi Covid-19. Namun situasi itu berubah dan Antam kembali menguat karena sektor usahanya juga mengalami peningkatan, termasuk di sektor feronikel dan emas.

“Kita ingat awal tahun 2020 Antam kondisi yang melemah, tapi dia berhasil menguat, karena selain feronikel juga dipicu harga emas saat itu tertinggi sepanjang sejarah di Antam, itu 2.039,77 dolar AS per troy ounce,” jelasnya.

Baca juga
Belajar dari Proyek Kereta Cepat China, IKN Nusantara Bikin Jebol APBN

Lucky juga menjelaskan, beragam keuntungan yang didapat Antam dengan produksi feronikel dan sektor lainnya. Sektor ini kata dia, dapat menjadi pengganti ketika satu sektor mengalami penurunan dan pelemahan.

“Untuk feronikel, dari hasil tambang yang dilakukan bebebapa produsen hasil tambang, persoalan apakah signifikan atau tidak, tentu para miner memiliki diversifikasi atau beberapa produk lain, produk subsitusi untuk mendukung kinerja fundamental,” jelas Lucky.

“Jadi saya melihat dengan produksi feronikel, Antam memiliki produk lain sebagai subsitusi atau pengganti kinerja fundamental, apabila salah satu produknya memiliki koreksi.”

Lalu, apakah feronikel yang dihasilkan Antam? Berkaitan dengan hal ini, Antam sendiri beberapa waktu lalu memberikan penjelasan. Melalui akun resminya @OfficialAntam tertulis,

“Tahukah anda, feronikel yang dihasilkan oleh Antam memiliki 80% kadar besi & 20% nikel. Umumnya feronikel digunakan untuk bahan paduan pembuatan baja & memiliki unsur lapisan anti karat. Di Indonesia, produksi feronikel ini di Pabrik Feronikel Pomala.”

Baca juga
Rupiah Semringah Respons Keran Ekspor CPO

Tak Khawatirkan Harga Saham

Ketika ditanya terkait saham Antam yang masih cenderung naik-turun di awal tahun 2022, Lucky Bayu menjawab santai. Ia mengaku sama sekali tidak khawatir dengan kondisi tersebut. Menurut dia, terjadinya pelemahan belakangan ini bersifat temporal saja.

“Jadi menurut saya, justru saya melihat Antam dalam kondisi discount. Jadi pelemahan ini dimaknai sebagai koreksi temporer, peraturan kan bisa mengalami perubahan. Contoh, kebijakan-kebijakan yang sudah ada di sektor komoditi apakah itu pajak ekspor-impor di industri Kelapa Sawit, apakah DMO (domestik market obligation) di batu bara, itu kan mengikuti dinamika di sektor. Jadi pandangan saya, sentimennya ini temporer,” imbuhnya.

Pada perdagangan Jumat (28/1/2022), saham ANTM ditutup menguat 5 poin (0,3%) ke posisi 1.770 dibandingkan penutupan haris sebelumnya di 1.765. Tertingginya berada di 1.790 dan terendah 1.755 dari posisi pembukaan di angka 1.770. Jumlah lot yang ditransaksikan 499,25 dengan valuasi senilai Rp88,4 miliar.

Tinggalkan Komentar