Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Pengurus NU Diharap Jadi Pelopor Gerakan Perbaikan

Minggu, 31 Jul 2022 - 15:23 WIB
Penulis : Anton Hartono
PWNU DKI inilah.com
Ketua PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma'arif

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif mengajak seluruh pengurus NU di semua tingkatan bisa menjadi pelopor dalam gerakan perbaikan.

“Saya menyebutnya dengan istilah harokah islahiyah,” ujarnya di hadapan peserta Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) ke II PWNU DKI Jakarta di Aula Masjid Raya Hasyim Asy’ari, Minggu (31/7/2022)

Menurutnya, semua pengurus harus bisa menjadi muslim yang bisa melakukan perbaikan dan tidak cukup hanya sekadar menjadi seorang yang sholeh.

“Orang Sholeh tidak cukup menjadi orang yang baik, tapi harus ikut memperbaiki keadaan yang ada dilingkungan sekitar,” ungkapnya.

Kiai Samsul juga bercerita tentang satu ulama Ibnu Qudamah pengarang kitab Al Mughni, suatu ketika ditanya oleh para muridnya terkait perbedaan orang sholeh dan orang Muslih.

Baca juga
PWNU DKI Apresiasi Kontribusi Anies Tangani Pandemi COVID-19

“Ibnu Qudamah menjawab ‘Assholihu khoiruhu linafsihi Wal Musholihu Khoiruhu Linafsihi Wa Ghoirihi’ Orang Baik (Shalih), melakukan kebaikan untuk dirinya, sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain,” terangnya.

Di hadapan muridnya Ibnu Qudamah menyampaikan bahwa orang baik dicintai manusia, sedangkan penyeru kebaikan dimusuhi manusia. Lalu muridnya bertanya kembali ‘mengapa demikian? ‘dengan itu Ibnu Qudamah menjawab kembali.

“Sebelum diutus sebagai Rasul, Nabi Muhammad SAW dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik, sampai digelari Al Amin dan diberikan tempat yang mulia,” sambung kiai samsul bercerita.

Namun ketika Allah Ta’ala mengutusnya sebagai Rosul atau penyeru kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya sebagai tukang sihir, pendusta, gila, dan lainya.

Baca juga
Anies Harap WHC NU Menjangkau Pasar yang lebih Luas

“Karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan, satu Penyeru Kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik yang tidak menyerukan kebaikan,” jelas kiai Samsul tentang Ibnu Qodamah.

Lanjutnya, Ibnu Qudamah sesungguhnya melalui Penyeru Kebaikan Allah menjaga umat, sedangkan orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri. Ibnu Qudamah juga meminta muridnya untuk berusaha menjadi penyeru kebaikan, pada diri sendiri lalu dengan orang sekitar.

“Saya berharap seluruh pengurus di semua tingkatan menjadi pengurus yang mau melakukan perbaikan, memang banyak resikonya, tapi yakinlah satu pengurus saja mampu melakukan perbaikan akan ada banyak perubahan,” harapnya.

Baca juga
Muktamar Ke-34 NU Masih Belum Diputuskan Dipercepat atau Diundur

Ia menambahkan, ketika melakukan perubahan besar harus mempunyai sifat kesabaran, tahan kritik kadang juga akan dicaci bahkan difitnah, dengan itu PWNU DKI Jakarta bersama PCNU, serta melibatkan MWCNU untuk membahas program dan aturan-aturan organisasi.

“Nanti kita sepakati bersama dan mudah-mudahan kita mempunyai keyakinan pada waktunya NU di Jakarta akan baik dan terus berkembang,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar